Jumat, 17 Februari 2012

Es Campur dan Bakso Pojok Joyoboyo Surabaya

        Sabtu siang, sepulang kerja terasa haus sekali menyiksa kerongkongan. Setelah melintasi jl. Wiyung, menjemput isteri yang bertugas di sekolah swasta daerah tersebut, sepeda motor segera dilajukan mencari tempat perhentian minum yang memadai. Setelah melalui berbagai pertimbangan, teringatlah sebuah kompleks warung es campur dan bakso yang terletak di seberang terminal Joyoboyo Surabaya.


         Melintasi hiruk pikuk jl. Gunung Sari, sekitar 15 menit kemudian kami sampai di warung tersebut. Saya menyebut kompleks warung karena di sini terdapat dua pedagang menjadis atu, yaitu pedagang bakso dan pedagang es campur. Satu tempat, namun berlainan " manajemen pembayarannya". Saya pesan semangkuk es campur dan isteri mengorder seporsi bakso. Kami sering menjadikan tempat ini sebagai jujukan makan siang, karena terdapat es campur yang unik. Es campur ii terasa berbeda dari yang biasa kami temui. Isinya beraneka rupa, terkesan sederhana namun membuat kenyang. Bayangkan saja, dalam sebuah mangkuk ini kami mendapati campuran mulai dari kelapa muda, blewah, tape ketan hitam, kolang kaling, roti hingga dawet. Kalau minum es ini saja rasanya sudah seperti makan nasi saja.


       Bakso yang disajikan pun boleh dibilang menggugah selera. Walaupun untuk ukuran sebuah bakso, penyajiannya terkesan standar bahka tidak terlalu istimewa. Namun tempat ini seringkali menjadi tujuan makan siang orang-orang yang berlalu lalang melintasi terminal Joyoboyo. Warung ini tepatnya berada di seberang sekolah St. Yoseph dekat terminal Bis Hijau tujuan Mojokerto, depan gang yang dihuni personel Klanting. Dulu tempat ini juga dipakai sebagai stasiun Trem, kala masih berjaya di kota Surabaya.


       Kami berdua tertarik dengan es campur yang disajikan di warung ini. Es campur ini rasanya cocok untuk masyarakat ekonomi menengah-ke bawah sebagai alternatif minuman yang menyegarkan. Selain isi yang terkesan " kampungan " juga harganya yang relatif murah. Bahkan kami sering sengaja mampir ke tempat ini bukan mencari baksonya, namun es campurnya. Sehingga bila bakso nya buka namun es campur tutup maka kami batal membeli makanan di situ. Namun sebaliknya, bila es campur nya tersedia maka kami juga sekaligus pesan bakso yang berada di sisi kiri penjual es campur. Harga lima ribu rupiah cukup membuat saya merasa lega setelah menempuh tugas yang melelahka di hari Sabtu ini. Mau mencoba, tempatnya tidak terlalu sulit bila sudah menemukan terminal Joyoboyo. Monggo....















Kamis, 09 Februari 2012

Catatan tentang Album Koes Plus Volume 6





Apa yang ada di benak kita bila mendengar kata “album Koes Plus Volume enam“ ? Lagu-lagu yang sangat menarik. Kenangan yang tak mudah terlupa melalui kisah di balik lagu. Cover yang unik, personel Koes Plus berjajar di gunung kapur. Juga berbagai alasan lain yang membuat album ini memiliki kesan yang begitu mendalam bagi setiap penggemar Koes Plus.

Sekuel keenam album Koes Plus produksi Dimita ini semakin mengokohkan keberadaan Koes Plus di blantika musik populer Indonesia. Boleh diakui, album ini seolah menunjukkan kesan kematangan Koes Plus dalam menggali karya musik yang dihasilkannya. Betapa tidak, bila dibandingkan dengan album-album yang telah beredar sebelumnya maka akan tampak sekali perbedaan yang begitu rupa dalam penataan musik maupun keragaman karya lagu.

Mari kita mencoba menelaah sedikit, mulai album kelima Koes Plus sudah mulai mengurangi ramainya gebrakan drum dalam mengiringi lagu-lagu yang dibawakan. Menurut pendapat saya, ketika memasuki album volume lima Koes Plus sudah menghentikan masa adaptasi dan pengenalan diri pada telinga pendengar musik pop. Masa unjuk diri itu sudah dimulai ketika rekaman album pertama “ Dheg-Dheg Plas “ hingga album keempat “ Bunga Di Tepi Jalan “. Di antara masa-masa itu kita akan mendapati bahwa gebukan drum yang dilakukan Murry begitu menonjol seakan menjadi pengunjuk identitas bahwa mereka ini berbeda dengan Koes Bersaudara.

Album pertama hingga keempat, Koes Plus membuka dengan irama rancak dan penuh semangat. Mulai Awan Hitam, Lagu Dalam Impian, Hujan Angin hingga Bunga Di Tepi Jalan. Bahkan di album kelima pun Koes Plus mengawali dengan irama yang bergairah pada lagu Nusantara. Namun saat kita membuka telinga untuk album volume enam ini, sebuah lagu yang manis dan melankolis akan kita rasakan melalui tembang Kerinduan. Vokal Yon Koeswoyo yang mendayu terasa menyentuh dan meresap ruang hati kita yang terdalam. Syahdu dan mengesankan.

Belum habis hati kita dilanda suasana hening, kita akan langsung dibawa pada nuansa haru yang begitu mendalam melalui lagu berikutnya. Ibu dan lagunya merupakan karya Tonny Koeswoyo yang seakan mengajak kita untuk terbawa pada kenangan dia dan adik-adiknya pada ibu yang telah lama tiada. Tempo lagu yang lambat seakan membawa ketepatan tersendiri untuk menggambarkan kenangan pada seorang yang melahirkan kita ke dalam dunia. Bahkan emosi kita seakan terkuras saat lagu ini akan memasuki reffrein ternyata harus diperlambat dengan adanya interlude berupa petikan melody gitar yang membuat perasaan kita jadi ‘menggantung’. Semua kondisi itu pada akhirnya harus dipecahkan oleh refrrein yang diselingi oleh hentakan drum yang melaju tanpa harus merusak suasana syahdu yang telah terbangun. John Koeswoyo bahkan pernah berkisah bahwa konon intro yang digunakan pada lagu ini merupakan irama yang sering dipetik oleh ibu Atmini, ibu dari Koeswoyo bersaudara, saat sore hari duduk di teras sambil memainkan gitar.

Tears Are Falling muncul sebagai lagu pada urutan ketiga. Lagu berbahasa Inggris yang diciptakan oleh Yok Koeswoyo ini dibawakan dengan begitu manis oleh Yon dan Yok dengan perpaduan musik yang rapi. Sebuah lagu yang meratapi putusnya sebuah jalinan kasih tanpa tangisan yang mendayu-dayu. Patut dicatat, bahwa album volume enam ini merupakan album dengan lagu berbahasa Inggris terbanyak. Sebelum dan sesudahnya tidak ada. Tentu selain album Another Song For You yang memang khusus lagu berbahasa Inggris. Friendly Love, We Say Hallo, Unhappy Shade dan How Much I Love You merupakan lagu bahasa Inggris yang dapat kita temukan di album ini. Bahkan beberapa diantaranya bila diperdengarkan pertama kali pada orang lain yang bukan penggemar Koes Plus, tentu akan menyangka bahwa ini adalah lagu dari sebuah band yang berasal dari belahan barat. Padahal itu karya anak negeri sendiri. Itulah kehebatan seorang Tonny Koeswoyo dalam meramu musik dan kata.

Tonny Koeswoyo pada album ini tampaknya berusaha mencuri perhatian dengan membuat sebuah ciri baru pada lagu yang dinyanyikan. Sebuah lagu dinyanyikan dengan irama keras dan suara gahar kita dengarkan pada lagu Waktu Tjepat Berlalu. Segera saja lagu semacam ini kita kenali berikutnya sebagai ciri khas Tonny Koeswoyo yang menyelipkan sebuah lagu irama rock n roll dalam album Koes Plus dan dinyanyikan sendiri dengan vokal yang berbeda dibanding saat menyanyikan lagu yang lebih mellow.

Kita mungkin pernah mendengar kisah ketika Koeswoyo ayah dari Koes
Bersaudara melarang mereka untuk berkarier dalam musik. Namun tampaknya kekerasan hati bapak Koeswoyo mulai luluh, sehingga ikut mendukung dengan menciptakan sebuah lagu Oh Kasihku. Saat itu kita mulai akrab dengan kata KS yang merupakan akronim dari Koeswoyo Senior dan sering kita jumpai di album-album Koes Plus berikutnya.

Yok Koeswoyo pada album yang beredar pada tahun 1972 ini mengeluarkan dua karya yang semuanya berbahasa Inggris. Salah satunya yaitu How Much I Love You yang dinyanyikan dengan dinamis bersama kedua kakaknya, Tonny dan Yon. Bagaimana dengan Murry ? Setelah ikut menyumbangkan suara di volume empat, pada album ini beliau tidak ikut berdendang. Namun sebuah lagu karya beliau tampaknya menjadi lagu yang begitu fenomenal bagi penggemar Koes Plus. Hidup Tanpa Cinta disajikan dengan harmonis sekali oleh Tonny dan Yon Koeswoyo. Lagu ini unik karena terdapat sebuah pelafalan kata yang disajikan secara berulang “ sayang-sayang seribu kali sayang, siang malam hatimu tak tenang “. Sebuah kalimat yang sederhana namun penuh makna.

Yon Koeswoyo sebagai seorang vokalis utama tampaknya tidak mau ketinggalan menyajikan karya emasnya. Sebuah lagu yang disajikan sevara bertutur diberi titel Tiada Djalan Lagi. Lagu ini konon merupakan sebuah penuturan kisah putusnya jalinan cinta Yon Koeswoyo bersama Susy Nander “ Dara Puspita”. Merupakan sekuel berkelanjutan dari lagu Jeritan Hatiku ( vol. 4), Andaikan Kau Datang (vol. 2), dan Perasaan (vol. 5). Pembawaan Yon Koeswoyo yang halus, lembut dan penuh perasaan saat menyanyikan lagu membuat beliau diberi kepercayaan oleh Murry dan Tonny menyanyikan karya mereka berdua yang diberi judul Bukan Rahasia.

Saat ini Februari 2012, album volume enam ini tepat berusia empat puluh tahun namun terasa masih begitu indah untuk didengarkan. Ada begitu banyak kesan dan pengalaman yang bisa terlukiskan melalui lagu-lagu yang tersusun di dalamnya. Adakah kita juga mengalami salah satu diantaranya ?

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus dari Surabaya- 085645705091 )

Kamis, 24 November 2011

JN Surabaya Jumpa sejenak dengan T-KOES band


Kamis malam, 24 November 2011 JN Surabaya mendapatkan kabar yang mengejutkan. Personel T-Koes band beserta rombongan sedang berada di Surabaya. Saat itu juga kami mencari info di mana keberadaan band pelestari dari ibu kota ini menginap dan berkoordinasi dengan beberapa teman yang bisa ikut serta untuk menemui personel T-Koes. Berbekal info dari mas Agusta, kontingen JN Surabaya yang terdiri dari Sam Sugeng beserta isteri dan anak, Hery Purwanto juga ketua JN Surabaya beserta isteri segera bergegas menuju hotel Inna Simpang yang terletak di jl. Gub Suryo Surabaya.

Waktu menunjukkan pkl. 19.30 ketika kami sudah berada di lobby hotel yang terletak di jantung kota pahlawan ini. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah Agusta dari lift yang mengantarnya dari lantai atas. Selanjutnya ketua JN Pusat periode 2007-2010 ini memperkenalkan diri kepada teman-teman JN Surabaya yang saat itu hadir. Memang baru kali ini teman-teman JN Surabaya bertemu langsung dengan pria yang biasa menjadi narasumber tetap di acara Koes Plusholic radio Sonora ini. Walaupun begitu, pertemuan pertama itu terasa akrab dan cair seakan sudah mengenal lama. Tentu ikatan sebagai penggemar Koes Plus yang mempersatukan semuanya.

Tidak lama kemudian, Teddy seorang penggemar Koes Plus senior dari Jakarta juga ikut bergabung berbincang. Rupanya rombongan T-Koes band usai menunaikan tugas menghibur penggemar Koes Plus beberapa hari sbeelumnya. Pada hari Minggu, 20 November 2011 mereka tampil di acara ulang tahun radio P2SC Jakarta dengan bintang tamu Murry. Selanjutnya, hari Senin, 21 November 2011 mereka tampil mengiringi Yok Koeswoyo di THR Sriwedari Solo. Lalu pada hari rabu, 23 November 2011 T-Koes band menghibur masyarakat Tulungagung dalam rangka hari jadi kota tersebut. Perjalanan keliling itu diakhiri dengan transit semalam di kota Surabaya yang selanjutnya hari Jumat pagi rombongan T-Koes band kembali ke Jakarta melalui bandara Juanda Surabaya.

Agusta banyak berbicara mengenai pengalamannya selama menjadi bagian dari pelestarian karya Koes Plus, terutama melalui T-Koes band. Ada banyak suka dan duka yang dialui. Bahkan harus mengalami diremehkan lebih dulu sampai akhirnya saat ini menjadi salah satu band pelestari yang sukses karena memiliki personel yang tergolong unik, masih usia belia namun mahir memainkan lagu-lagu Koes Plus.

Tak lama kemudian, satu per satu personel T-Koes band hadir di lobby setelah sebelumnya menghabiskan waktu dengan berenang. Jaru, Galih dan Jim muncul dengan kepolosan seusia anak-anak yang masih malu-malu ketika bertemu dengan teman-teman ayahnya yang usianya jauh di atas mereka. Kesempatan langka bertemu personel T-Koes ini digunakan oleh teman-teman JN Surabaya untuk berfoto bersama. Saat disodori kertas untuk tanda tangan, ketiga personel T-Koes yang masih usia belia ini tampak canggung karena tidak terlalu terbiasa untuk memberikan tanda tangan kepada penggemar.

Agusta dan Teddy banyak menceritakan seputar liku-liku komunitas penggemar Koes Plus yang mereka ketahui. Tidak semua berjalan mulus, ada juga yang mengalami kendala dan ada juga yang masih tertatih melangkah menapaki perjalanan sebagai fans club. Termasuk juga berbagai rencana seputar pendirian museum Koes Plus yang terus dirintis oleh penggemar Koes Plus yang berada di Jakarta dan sekitarnya.

Pada kesempatan itu Agusta juag menyampaikan mengenai siaran terakhir di radio Sonora pada Jumat, 25 November 2011 ini. Siaran terakhir ini dimaksudkan untuk rehat sejenak sebelum pada tahun yang baru mendatang tampil dengan format baru yang lebih segar dan menarik. Hal itulah yang sekarang masih menjadi bahan evaluasi dan masukan. Mudah-mudahan acara Koesplusholic yang disuarakan melalui radio Sonora dengan relay 16 kota dapat terus berlangsung sebagai pemersatu penggemar Koes Plus yang tersebar di pelosok negeri ini.

Ketika waktu menunjukkan pkl. 22.00 WIB, ketua JN Surabaya memohon diri untuk pulang karena hari sudah semakin malam dan mempersilakan personel T-Koes band beserta rombongan untuk beristirahat. Teman-teman JN Surabaya pun satu per satu mulai menyusuri jalanan kota Surabaya untuk selanjutnya berpencar menuju kediaman masing-masing. Demikian reportase singkat yang dapat kami sajikan untuk penggemar Koes Plus sekalian.

( Okky T. Rahardjo- Ketua JN Surabaya, 085645705091 )

Sabtu, 12 November 2011

Laporan Persiapan Mukernas JN Pusat di Surabaya






Minggu, 06 November 2011 merupakan salah satu even bersejarah yang pernah diadakan oleh JN Surabaya. Saat itu para penggemar Koes Plus yang berasal dari beberapa daerah berkumpul untuk mempersiapkan Mukernas Jiwa Nusantara. Bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha, even yang juga bertepatan dengan peringatan dua tahun berdirinya JN Surabaya ini berlangsung di Resto Makan Time yang berlokasi di JL Majapahit no 2 Surabaya ( Depan Univ Widya Mandala, area Jl Dinoyo ).

Satu per satu perwakilan penggemar Koes Plus berdatangan memenuhi undangan dari panitia pelaksana. Peserta pertama yang hadir adalah peserta terjauh yaitu Wahyudi, yang berasal dari Medan. Beliau datang lebih pagi bahkan sebelum café yang menjadi lokasi acara dibuka. Berikutnya disusul beberapa panitia lokal yang hadir untuk mempersiapkan penyambutan tamu. Panitia yang merupakan penggila Koes Plus di kota Surabaya terdiri dari : Sam Sugeng beserta istri, Koesyanto, Sugeng Santoso, Siswanto dan Hery Purwanto. Mereka berusaha menyambut kedatangan peserta dari luar kota dengan maksimal sesuai tugas masing-masing.

Menyusul berikutnya adalah kehadiran Beat Plus, home band dari JN Surabaya pimpinan bpk Sutaryono. Hadir dengan formasi lengkap : Sutaryono (lead vocal, gitar), Nuryanto (bass), Heri (keyboard), Yopi (drum) dan Sugeng (gitar). Tidak lama berikutnya, beberapa perwakilan dari Mojokerto datang yaitu Edy Nuryanto, Nurul Hidayat dan Basori beserta putrinya. Ketua JN Surabaya saat itu hadir bersama isteri sambil membawa foto copy makalah diskusi dari ketua JN Pusat yang siap dibagikan kepada peserta yang hadir.

Lima belas menit menjelang pkl. 11.00 rombongan dari JN Pusat hadir ke lokasi acara menggunakan dua mobil. Cecep Rosadi beserta isteri, Sugeng “Bendahara” beserta isteri, dan Acil B Plus hadir ditemani seorang rekan yang membantu mngemudikan kendaraan. Kedatangan mereka saat itu dipandu oleh drg Winaryo yang menjemput dari hotel Satelit menuju lokasi acara. Bahkan Edy Kuncoro, perwakilan dari Solo juga ikut hadir dalam rombongan tersebut. Kedatangan para kontingen JN Pusat ini sangat ditunggu, mengingat sebenarnya mereka yang berperan besar dalam even kali ini. JN Surabaya hanya menjadi perantara fasilitas pertemuan antara JN Pusat dan JN daerah. Bahkan demi hadir ke Surabaya, rombongan dari Jakarta harus menempuh perjalanan mulai Jumat malam sampai Minggu pagi baru tiba di kota Pahlawan ini.

Menjelang dimulainya acara, berturut-turut perwakilan daerah yang hadir adalah Edy Suyanto beserta isteri dari Pekalongan, Agus Wisono dari Madiun dan Pengky Priyocahyono mewakili JN Lawang. Pertemuan siang itu dijadikan ajang melepas rindu dari berabagai rekan penggemar Koes Plus yang hadir. Rindu karena lama tidak bertemu. Juga, rindu karena lama menantikan saat bertemu dengan rekan penggemar Koes Plus yang baru dikenal. Semua dilakukan dnegan dasar untuk menyambung tali persaudaaarn sesama penggemar Koes Plus. Beat Plus mulai membuka penampilan dengan beberapa lagu Koes Plus sambil menunggu panitia mempersiapkan dimulainya acara secara resmi. Bahkan Acil B Plus saat itu didapuk menjadi bintang tamu untuk ikut serta menampilkan beberapa lagu Koes Plus bersama Beat Plus. Pelangi, Yo Ben, Kr. Surabaya dan Hidup Yang Sepi merupakan hidangan pembuka yang disampaikan kepada peserta yang sudah mulai beradatangan siang itu.

Pkl. 11.25 WIB panitia mulai sepakat untuk membuka acara. Koesyanto selaku pembawa acara menyampaikan salam pembuka kepada seluruh peserta yang hadir. Segala ucapan syukur kepada Tuhan disampaikan karena di sela berbagai ketidak pastian yang sempat terjadi, waktu yang seakan tidak memungkinkan juga berbagai situasi kondisi yang ada tapi acara bisa tetap terlaksana dengan dukungan berabagai pihak. Koesyanto yang merupakan penggemar Koes Plus senior di kota ini kala itu tampil dengan memakai topi pet ala Yok Koeswoyo. Kesempatan berikutnya adalah sambutan pengantar yang disampaikan oleh ketua JN Surabaya selaku tuan rumah. Saat itu dia menyampaikan terima kasih atas dukungan berabagai pihak dalam berbagai bentuk sehingga acara ini boleh terlaksana.

Sesi berikutnya adalah sambutan dari Edy Kuncoro selaku pendiri Jiwa Nusantara Pusat menceritakan secara singkat kronologi berdirinya fans club penggemar Koes Plus ini. Cecep Rosadi berikutnya maju untuk menyampaikan pengantar selaku ketua JN Pusat. Berikutnya, ketua JN Surabaya diberi kesempatan untuk memberikan kenang-kenangan. Saat itu cendera mata berupa “baju eksklusif” buatan JN Surabaya diberikan kepada ketua JN Pusat atas segala bentuk perhatian dan bimbingan kepada JN daerah juga kepada Wahyudi sebagai peserta terjauh. Acil B Plus juga mendapatkan kenangan berupa vcd dokumentasi penyelenggaraan acara JN Surabaya bersama John Koeswoyo.

Acara berikutnya adalah perkenalan singkat perwakilan penggemar Koes Plus yang hadir. Uniknya, tanpa ada instruksi khusus masing-masing memperkenalkan diri sambil bercerita seputar perkenalannya band legendaris Koes Plus. Sesi perkenalan diawali dari Wahyudi yang berkisah mengenai awal mengenal lagu-lagu Koes Plus hingga berjumpa dengan Tonny Koeswoyo di Jl Haji Nawi. Setelah masing-masing daerah memperkenalkan diri, peserta diberi kesempatan untuk menikmati sajian makan siang yang disajikan di café yang memang dibuat khusus untuk para penggemar musik.

Sedikit catatan tentang Makan Time Resto, tempat ini didesain khusus sedemikian rupa sehingga penggemar musik bisa menjadikan tempat ini sebagai rujukan untuk bersantai sekaligus menikmati hidangan yang tersedia. Di sekeliling dinding tergantung semacam memora billia grup musik lama yang pernah berjaya di eranya. Sebagai contoh, terdapat sebuah pigora yang memuat cover PH AKA beserta Plaat album Do What You Like terpasang di bawahnya. Demikian juga untuk pigora grup The Gembell’s tergantung PH album Ballada Kalimas. Tak ketinggalan, pigora Koes Plus juga terdapat di situ berupa PH album vol. 2. Grup musik barat juga diberi aprsiasi diantaranya adalah The Beatles, Bee Gees dan Rolling Stones. Bahkan kabarnya, grup musik senior asal kota Surabaya Casino band masih rutin manggung di tempat ini.

Setelah sesi makan siang, acara dilanjutkan dengan diskusi. Tepat pkl. 13.05 diskusi dipimpin oleh Cecep Rosadi selaku ketua JN Pusat. Masing-masing perwakilan penggemar Koes Plus duduk berputar saling berhadapan di meja kotak sambil membawa makalah diskusi yang memuat segala pikiran dan gagasan dari ketua JN Pusat. Diskusi pertama mengambil topik seputar rencana pelaksanaan Mukernas. Saat itu Cecep menyampaikan bahwa JN Surabaya akan mengadakan pemecahan Rekor MURI berupa penampilan lagu-lagu Koes Plus oleh band pelestari. Drg Winaryo yang saat itu hadir selaku penggagas pemecahan rekor MURI menyampaikan bahwa pelaksanaan rekor ini akan berlangsung pada 11-12 Februari 2012 dengan mengambil even hari kasih sayang. Pemecahan rekor ini sendiri rencananya akan menampilkan beberapa artis ibu kota untuk mendukung kemeriahan acara. Beliau mengusulkan bila tidak keberatan, pelaksanaan MUKERNAS dilangsungkan pada waktu yang hampir bersamaan dengan pelaksanaan rekor MURI sehingga tidak perlu rekan-rekan JN bingung memikirkan lokasi acara.

Sebelumnya, ketua JN Pusat memberi kesempatan kepada ketua JN Surabaya apakah bersedia menjadi penyelenggara MUKERNAS. Ketua JN Surabaya menyatakan bersedia menjadi tuan rumah pelaksanaan MUKERNAS. Setelah melalui beberapa pembicaraan, pelaksanaan MUKERNAS disepakati pada hari Jumat, 10 Feb 2011. Acara rencana diadakan di hotel Sahid yang bertepatan dengan tempat penginapan pengisi acara rekor MURI. Mengingat pelaksanaan acara rekor MURI akin berlangsung di Grand City Mall Surabaya di kawasan Gubeng. Secara teknis, peserta MUKERNAS diharapkan sudah berkumpul pada pkl. 18.00 WIB. Malam itu juga segera diadakan MUKERNAS yang diharapkan tidak membutuhkan waktu berlarut-larut untuk pembicaraan. Adapun untuk hal ini, panitia memberi fasilitas kepada satu orang peserta perwakilan daerah penggemar Koes Plus. Fasilitas tersebut berupa akomodasi dan konsumsi selama MUKERNAS. Esoknya, hari Sabtu hingga Minggu peserta diajak menyaksikan pemecahan rekor MURI.

Pembicaraan kedua adalah mengenai topik yang akin dibicarakan dalam MUKERNAS mendatang. Salah satu yang menjadi topik pembicaraan diskusi siang itu adalah mengenai banyaknya konflik yang terjadi di beberapa fans club daerah. Ketua JN Pusat menyinggung mengenai gagalnya beberapa JN daerah menjalin keharmonisan dengan sesamanya. Sehingga terjadi perselisihan yang tidak mencerminkan sikap Jiwa Nusantara yang mengedepankan persatuan dan persaudaraan.

Hal lain yang ditekankan oleh Cecep adalah komitmen untuk menjalankan prinsip “ satu pintu “ dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan Koes Plus dan pelestariannya. Satu pintu ini sebagaimana yang pernah dinasehatkan oleh Yok Koeswoyo, diuraikan oleh Cecep Rosadi sebagai berikut : “ Kalau urusannya dengan keluarga Koeswoyo, selesaikan di Haji Nawi. Kalau urusannya menyangkut dengan masing-masing personel Koes Plus, selesaikan dengan Ketua JN Pusat”. Melalui hal ini Cecep Rosadi, selaku ketua JN Pusat mengharapkan adanya kerja sama JN daerah untuk bisa melaksanakan koordinasi satu pintu dalam berbagai hal termasuk even penyelenggaraan Koes Plus yang berkaitan dengan Jiwa Nusantara.

Cecep Rosadi berharap pertemuan hari itu sudah bisa disepakati bersama karena bila menunggu lagi akin terlalu lama. Namun sebelumnya, beliau mengusulkan supaya pada bulan Desember bisa diadakan Pra Mukernas di Pekalongan. Hal itu dirasa perlu untuk mematangkan pembicaraan di Mukernas, sehingga Mukernas tidak perlu terlalu berlarut dalam melaksanakan diskusi. Pihak Pekalongan menyatakan akan segera menyampaikan masukan tersebut kepada rekan-rekan penggemar Koes Plus setempat. Mengingat ada beberapa daerah yang belum terbentuk organisasi Jiwa Nusantara seperti Pekalongan, Madiun dan Mojokerto hal itu dirasa tidak terlalu menjadi masalah oleh ketua JN Pusat. Karena yang penting adalah keikhlasan hatinya dalam mendukung komunitas penggemar Jiwa Nusantara ini. Soal deklarasi secara fisik hal itu bukan yang utama.

Pkl. 15.10, segala rangkaian acara persiapan Mukernas ini berakhir deng an sesi foto bersama seluruh peserta. Disertai hujan rintik-rintik yang mengguyur bumi kota Surabaya, satu per satu peserta pulang dengan penuh kepuasan dan membawa kenangan di hati atas pertemuan hari itu. Sembari pulang, peserta mendapatkan kenang-kenangan berupa cd album B Plus volume pertama dari Acil B Plus. Selain itu ada juga produk dari salah satu sponsor yaitu pasta gigi Sensodyne yang dibagikan oleh panitia. Kami sadar, bukan masalah fasilitas, bentuk acara maupun penyajian yang tersedia yang bisa memuaskan. Karena hal-hal tersebut tentu masih ditemui banyak kekurangan. Namun pertemuan sebagai sesama penggemar Koes Plus itu yang mampu mempererat persaudaraan. JN Surabaya merasa bangga dan terhormat mampu memberikan sumbangsih dalam bersatunya penggemar Koes Plus melalui pertemuan bersejarah ini.

Sebagian kontingen JN Pusat dan JN Surabaya selanjutnya segera bersiap diri untuk menuju studio radio Mercury 96 fm yang terletak di jl. Citandui. Malam itu akin ada siaran perdana acara talk show Koes Plus dengan nara sumber ketua JN Pusat dan ketua JN Surabaya.

Sekali lagi, atas nama panitia kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang mendukung pelaksanaan acara “ Persiapan Mukernas JN Pusat & HUT ke-2 JN Surabaya “ pada Minggu, 6 November 2011 ini. Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada :

1) Bp. Drg Winaryo
2) Bp. Didiek B Jauhari
3) Bp. Sutaryono
4) Bp. Antonius Suseno
5) Bp. Cecep Rosadi beserta jajaran kontingen JN Pusat
6) Bp. Wahyudi ( JN Medan )
7) Bp. Edy Kuncoro ( KPFS Solo )
8) Bp. Edy Suyanto & Ibu Tri Lestari ( JN Pekalongan )
9) Bp. Edy Nuryanto, Bp. Nurul Hidayat & Bp. Basori ( JN Mojokerto )
10) Bp. Agus Wisono & Bp. Siyantoro Benjot ( JN Madiun )
11) Bp. Pengky Priyo Cahyono ( JN Lawang )
12) Beat Plus band
13) Tim JN Surabaya
14) Resto Makan Time
15) Pasta gigi Sensodyne
16) Serta berbagai pihak lain yang mendukung acara ini.

Demikian yang dapat kami sajikan sebagai laporan pelaksanaan pertemuan penggemar Koes Plus yang berlangsung di kota Surabaya. Mohon maaf bila terdapat banyak kekurangan dalam penyambutan kami sebagai tuan rumah. Mudah-mudahan kita selalu sehat sehingga bisa berjumpa lagi dalam keadaan yang lebih baik. Terima kasih atas perhatian teman-teman penggemar Koes Plus. Tuhan memberkati selalu.

( Okky T. Rahardjo, ketua JN Surabaya – 085645705091 )

Kamis, 20 Oktober 2011

Cattan ku tentang album Pop Jawa Nomo Koeswoyo






“ Ngene Gus, wong urip nang alam donya kuwi mung ngrampungake lelakone nang alam donya…mulo yen biso mbok iyo nganggo ati nurani …”

Kalimat di atas merupakan sebuah kata-kata pembuka yang disampaikan oleh Nomo Koeswoyo pada lagu yang berjudul “ Kahanan”. Sebagaimana umumnya lagu-lagu pop Jawa, kata-kata celetukan atau umumnya disebut senggakan seringkali menjadi pelengkap yang unik pada lagu yang dinyanyikan. Demikian juga pada lagu ini, pada bagian pembuka, tengah maupun penutup celetukan dari sang penyanyi mampu menjadi penguat isi lagu.

Kahanan merupakan salah satu lagu yang ada pada album baru Nomo Koeswoyo dengan irama Pop Jawa. Sudah lama kita menantikan pemain drum Koes Besaudara ini menghasilkan karya baru, tanpa kita duga ternyata tahun 2011 beliau meluncurkan album dalam kemasan cd ini. Sebagaimana biasanya karya khas Nomo Koeswoyo, kita bisa melihat berbagai rasa dalam lagu-lagu karya beliau. Pitutur yang disampaikan dengan bahasa yang jenaka seakan sudah menjadi ciri khas maestro musik yang saat ini menetap di Magelang itu.

Kahanan merupakan sebuah pitutur untuk kita hidup berhati-hati dalam dunia yang makin sulit ini. Penyajian yang santai pada lagu ini membuat seseorang tidak merasa digurui oleh sang penyanyi. Bahkan seakan-akan Nomo sedang akrab berbincang kepada seseorang yang disebutnya dengan kata “ Gus…”. Gus merupakan sebuah panggilan untuk laki-laki di suku Jawa. Lagu kedua pada album ini masih juga bersifat nasehat yang diberi judul Piweling. Nomo seakan mengajak kita untuk terus bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak melupakan kata-kata bijak dari pendahulu kita sebagai penuntun langkah kehidupan.

Sebuah lagu dengan kata-kata agung dan penuh makna yang tinggi terdapat pada track ketiga yang berjudul “ Kembang Jagung”. Bila dibandingkan dengan sebagian besar lagu-lagu lain, lagu ini memuat kata-kata dalam bahasa Jawa yang tidak populer. Perumpamaan yang dipakai pun mengandung makna yang tinggi. Coba kita simak syair berikut :
“ kembang – kembang jagung
omah gedong pinggir lurung,
Jejer-jejer telu sing tengah dadi omahku
Cempo munggah guwo
banjur medun kebon rojo
Metik kembang soka, dicaoske Kanjeng Romo”

Konon syair ini sudah dikenal di kalangan masyarakat Jawa pada periode tahun 1940an. Merupakan syair yang agung dan memiliki makna yang tinggi. Sebuah ungkapan syukur dari seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Agung. Bahkan dikatakan “ jejer jejer telu sing tengah dadi omahku” yang maksudnya adalah manusia terdiri dari tiga bagian, yang kita huni adalah yang sisi tengah terdiri dari nafsu, pikiran dan kemauan. Demikian seperti diungkapkan oleh Goesmanto, orang dekat Nomo Koeswoyo.

Sekilas tentang proses pembuatan lagu Kembang Jagung ini, berawal dari Goesmanto yang mempunyai aransemen musik yang menurutnya bagus lalu diserahkan pada Nomo supaya diisi dengan lirik untuk menjadi sebuah lagu yang bagus. Nomo lalu teringat tentang syair kuno bahasa Jawa seperti yang tertulis di atas. Namun sayang sekali, ada beberapa bagian pokok yang beliau lupa. Demi menuntaskan rasa penasarannya, John sang kakak ditelpon untuk membantu mengingatkan syair sacral tersebut. John pun segera memenuhi dengan mengirim syair lagu melalui sms.

Namun bila kita jeli, sebenarnya Nomo sendiri pernah merekam syair serupa pada album No Koes Pop Jawa Melayu “ Nagih Janji ” tahun 1975 dengan judul “ Omah Kampung “. Hanya saja pada album No Koes, dibawakan dengan tempo cepat. Hal lain yang membedakan, pada album No Koes terjadi perbedaan kiasan. Pada Pop Jawa Melayu vol 2 itu kiasan yang dipakai adalah “ kembang kangkung” tapi pada album ini digunakan kata “kembang jagung”. Bahkan kata “ omah gedong “ pada lagu ini sebelumnya direkam dengan kata “ omah kampung “. Seharusnya Nomo lebih teliti dalam menggunakan kutipan syair supaya tidak terkesan terjadi pengulangan namun malah meleset dari aslinya.

Lagu – lagu lain dinyanyikan dengan bahasa yang sederhana namun sarat dengan kritik sosial. Nomo pada album ini banyak menyoroti kondisi bangsa dan negara yang makin merosot karena maraknya kasus korupsi. Setidaknya tujuh lagu memuat kritik sosial tentang korupsi yaitu : Enda Endo, Pamong, Aji Mumpung, Sego Kucing, Jondal Jondil, Semut Ireng dan Eling. Bukan hanya langsung berani mengungkapkan kekesalan tentang korupsi namun juga rasa gemasnya pada para pemimpin yang Cuma bisa janji tapi tidak bisa menepati.

Bukan Nomo Koeswoyo kalau tidak berhasil mengangkat kehidupan sosial “ masyarakat ekonomi bawah” melalui lagu-lagu Jawa ciptaannya. Kita tentu ingat di kala No Koes lagu-lagu macam Ronda Malam, Gal Ugalan, Sariman, dan Pring Tutul merupakan lagu yang khas dengan masyarakat ekonomi bawah. Pada album ini masyarakat pinggiran disapa melaui lagu Panguripan dan Sego Kucing. Bumi yang semakin tua dengan ancaman kepunahan alam disinggung Nomo melalui lagu Jaman Edan. Kerinduan untuk berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya diungkapkan secara lugas melalui lagu yang berjudul Katresnanku. Semua tema lagu seakan bisa dirangkum menjadi satu album yang komplit. Itulah kelebihan Nomo dalam mengemas sebuah karya.

Beberapa catatan yang bisa diberikan oleh penulis terhadap album ini yaitu supaya Nomo tidak terlalu sering mengulang lagu yang direkam dalam album sebelumnya dengan hanya mengganti judul. Sebagai contoh, pada album No Koes Jawa tahun 1983 sebuah lagu Surya Kencana direkam ulang pada album Koes Bersaudara Pop Jawa 1987 dengan judul “ Kodok Numpak Jaran”. Demikian juga pada album ini terdapat lagu Aji Mumpung yang sebelumnya pada tahun 1983 direkam dengan judul Semprul. Mungkin bagi masyarakat yang tidak mengikuti secara teliti perjalanan album beliau akan merasa semua lagu karya beliau adalah baru, namun bagi yang mengikuti karya beliau akan merasa bahwa seakan terjadi krisis ide walaupun lagu yang disajikan masih memiliki tema yang relevan.

Hal berikutnya adalah bahwa pada album ini musik secara keseluruhan diisi dengan sarana musik program keyboard atau elektone yang dimainkan oleh Goesmanto, mantan personel Dedelan Group yang saat ini aktif membantu Nomo Koeswoyo. Padahal dalam cover belakang tertulis musisi yang terlibat secara band. Walaupun ternyata diketahui bahwa band yang dimaksud adalah untuk pengiring Nomo Koeswoyo kala tampil live show. Goesmanto dalam album ini mampu bermain secara maksimal terutama ketika bagian interlude seakan mampu mencuri perhatian. Mengingatkan kita pada sosok Tonny Koeswoyo ataupun Pompy pada masa-masa lalu. Namun alangkah baiknya bila musik yang disajikan seharusnya juga bersifat band supaya terdengar lebih alami.

Bila kita simak mulai album Koes Bersaudara Kidung Nusantoro, Pop Jawa 2009, Jawa Tengah Bangkit hingga solo album Pop Jawa ini tampak sekali Nomo lebih nyaman menggunakan musik secara midi dari pada band. Dalam hal rekaman, proses ini tentu lebih mudah karena tidak membutuhkan waktu yang lama. Namun akan menemui kesulitan tersendiri ketika harus tampil secara live show. Pemain band harus menyesuaikan diri dengan permainan musik yang sudah jadi dalam rekaman.

Namun ada satu nilai lebih pada kemasan album ini dibandingkan dengan album baru Koes Plus maupun Yok Koeswoyo, solo album Pop Jawa Nomo Koeswoyo dikemas menggunakan hard cover yang menarik. Hal ini disebabkan distribusi album ini dibantu oleh Bravo Musik, perusahaan rekaman besar yang banyak bergerak dalam bidang rekaman musisi-musisi lama.

Pada akhirnya, album Pop Jawa Nomo Koeswoyo ini bagaimana pun penilaian kita mudah-mudahan dapat berkenan di hati masyarakat penggemar musik Koes Bersaudara, Koes Plus maupun No Koes. Catatan ini tentu tidak akan mempengaruhi baik atau buruk album ini, hanya merupakan sebuah bentuk apresiasi dari seorang penggemar yang selalu merindukan karya-karya terbaik dari Koes Bersaudara maupun Koes Plus.
( Okky T. Rahardjo – ketua JN Surabaya, 085645705091 )

Selasa, 27 September 2011

Reportase Halal Bi Halal FKR Tuban


Sabtu, 24 September 2011 dengan berbekal niat tulus untuk menjalin silaturahmi dengan sesama penggemar Koes Plus, kontingen JN Surabaya bersepakat untuk mengadakan sebuah perjalanan kunjungan ke sebuah belahan kota di ujung Jawa Timur. Sore itu pkl 16.00, beberapa penggemar berat Koes Plus dari Surabaya berkumpul sesuai janji di SMA Santo Yoseph untuk bersama berangkat menuju Tuban. Setelah semua peserta sudah dirasa lengkap, maka tepat pkl 16.30 kontingen JN Surabaya mulai berjalan merangkak meninggalkan kota Surabaya melalui gerbang tol Gunung Sari menuju Tuban. Informasi dari salah seorang panitia, supaya lebih baik melewati jalur Pantura karena terjadi macet total melalui Kebomas dan seterusnya.

JN Surabaya sore itu dengan personel Didiek B Jauhari beserta isteri, Sam Sugeng beserta isteri, Koesyanto, Siswanto serta ketua JN Surabaya beserta isteri. Menyusuri langkah meninggalkan senja dengan fasilitas dua kendaraan roda empat. Hari itu kami mendapatkan undangan acara berupa Halal Bi Halal Fans Koes Plus Ronggolawe Tuban. Sebagian besar personel JN Surabaya rela melupakan penat selepas kerja demi terbinanya rasa persaudaraan yang erat bersama pernggemar Koes Plus di Tuban.

Gresik sebagai kota pertama yang dilewati sudah mulai tertinggal di belakang, menyusul Lamongan sebagai kota berikut yang menjadi perantara menuju Tuban. Senyap sekali kota kecil ini menyusul senja yang mulai turun berganti malam. Wisata Bahari Lamongan yang biasanya ramai kala itu kami lewati sudah dalam keadaan sunyi nan senyap. Sepanjang jalan, hanya tampak gunung dan hutan yang menghitam diwarnai gelapnya malam. Perjalanan kami lalui dengan saling bercerita seputar aktivitas terakhir Koes Plus. Tiada sempat kami memutar lagu, karena kondisi tape mobil yang rusak. Hingga tanpa terasa kami memasuki wilayah Kabupaten Tuban dengan wilayah Palang sebagai pintu pembuka.

Gedung KSPKP yang menjadi lokasi berlangsungnya acara dapat kami singgahi tepat pkl. 19.00. Walaupun undangan tertulis tepat pukul tujuh malam, namun rupanya kami menjadi peserta pertama yang hadir selain tim panitia. The Bottles sebagai band pengisi acara, malam itu tampak sudah siaga di lokasi acara dengan sejuta ekspresi di wajah para personel. Senang. Haru. Serta berbagai perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata tergambar pada wajah personel The Bottles kala berjumpa dengan kami. Betapa tidak, malam itu band yang diawaki oleh Doddy (lead gitar, vocal II), Teguh (rhytym, lead vocal), Agus (drum), Joko (keyboard) dan Takari (bass) serasa mendapatkan kehormatan luar biasa untuk tampil sebagai band bintang tamu di kota kelahiran Koes Bersaudara.

The Bottles membuat penasaran pengunjung malam itu kala sesi check sound baru dimulai, dua lagu karya Koes Plus digeber dengan kekuatan maksimal. Pelangi dan Kelelawar menjadi dua pilihan lagu sesi check sound. Sebagian penonton mulai menata tempat duduk dan mengarahkan pandangan ke panggung utama. Mereka mengira acara sudah mulai berlangsung padahal masih check sound. Namun The Bottles sudah mampu menyajikan penampilan yang prima.

Tepat pkl 19.35, pembawa acara memulai membuka gelaran Halal Bi Halal ini. Setelah menyapa semua pengunjung yang hadir, tanpa banyak basa-basi sebuah band sudah bersiap untuk ditampilkan. Malam itu, konsep acara berupa tampilnya empat band pemula dan dua band senior. Sambil menikmati makanan ringan yang disediakan, para pengunjung mulai mengarahkan pandangan pada panggung untuk menyaksikan penampil pertama. Enam mahasiswa yang menamakan diri Uniro band mencoba membawakan lagu-lagu Koes Plus menurut versi mereka. Andaikan Kau Datang, Dara Manisku dan Jemu dinyanyikan secara kemasan ubderground. Tentu saja itu membat kami yang lebih suka dengan aransemen asli terus menahan nafas menanti berlalunya band yang semua personelnya adalah mahasiswa Universitas Ronggolawe itu.

Usai penampilan band yang terdiri dari lima personel putra dan seorang putri ini, pembawa acara segera memanggil penampil berikutnya dengan nama “Sanggare Cah- Cah”. Band ini tampil dengan tiga personel, karena seorang pemain keyboard tidak bisa hadir. Jatah tiga lagu yang seharusnya dibawakan, menjadi hanya satu lagu mengingat tidak komplitnya personel. Walaupun begitu, satu lagu yang dibawakan cukup menghibur mengingat dibawakan dengan aransemen asli. Lagu itu adalah Surkak Sorgung.

Penampil berikutnya adalah kembali munculnya band pelestari yang mencoba menarik perhatian pengunjung yaitu, Cuplis Band. Pilihan lagu yang dibawakan oleh anak-anak muda dari kota Tuban itu adalah Hari Ini dan Nanti, Jangan Berulang Lagi dan Nusantara II. Pengunjung dibuat makin tersenyum menahan tawa ketika Pelangi Band muncul dengan perpaduan nyanyi dan gaya yang unik. Buat Apa Susah menjadi pilihan pertama untuk dibawakan oleh band ini. Penampilan vokalis band ini termasuk unik karena berusaha menampilkan gerak dan mimik yang lucu walaupun lagu yang dibawakan tetap serius. Konon nama Pelangi band dipilih karena perpaduan personelnya yang berusia tua, setengah tua dan usia muda. Malam itu Pelangi band membawakan Layang-Layang, Bunga Di Tepi Jalan dan Melati Biru.

Setelah beberapa penampilan band dari kalangan usia muda, kali ini personel senior dari Tuban tidak mau kalah unjuk kebolehan. Koes Plus Mania ( KPM ) Tuban hadir sebagai band tuan rumah yang menghibur sebelum bintang tamu tampil. Dipimpin oleh bpk Eddy Supeno yang di kalangan komunitas Jiwa Nusantara sudah dikenal, band ini mampu menyegarkan suasana malam itu. Eddy yang bertindak sebagai vokalis mampu memandu acara dengan baik. Sehingga di sela personel lain menyiapkan alat musik, suasana panggung tidak terasa kosong. Tegur sapa Eddy pada pengunjung yang hadir mampu menghangatkan suasana. Penampilan mereka malam itu dibuka dengan sebuah lagu yang pas untuk menyapa penggemar Koes Plus yang hadir, O La La.

Setelah lagu pembuka, Eddy memberi kesempatan kepada ketua FKR Tuban, Hadi Tugur untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Hadi yang juga seorang rector UniRo ini menyatakan prihatin bahwa di kota tempat kelahiran personel Koes Bersaudara ternyata penggemar Koes Bersaudara & Koes Plus yang bergabung dalam fans club sangat sedikit. Setelah menyampaikan sambutan, Hadi mendendangkan sebuah lagu kesukaannya yaitu Kr. Cincin.

KPM Tuban kembali memeriahkan suasana panggung dengan lagu-lagu hits Koes Plus yaitu : Bersama Lagi, Jangan Sedih, Why Do You Love Me, Untukmu, Kolam Susu dan Rajawali. Permainan yang kompak dan rapi membuat band yang terdiri dari enam personel berusia senior ini mampu memberikan kesan tersendiri.

Pkl 21.30 WIB tepat saat The Bottles sebagai band tamu mulai mengisi panggung Halal Bi Halal. Rapi sekali menggunakan seragam khas mereka, baju dan celana komprang warna biru kelima pemuda asal Surabaya ini sudah siap menggebrak dengan sajian lagu-lagu Koes Plus. Setelah basa-basi sejenak, meluncurlah “Mars Jiwa Nusantara” sebagai tembang pembuka. Komplit dengan ucapan Sumpah Pemuda pada bagian spoken, The Bottles berhasil membuat penonton penasaran terhadap lagu ini. Usai lagu tersebut dibawakan, Doddy sebagai leader yang merangkap lead gitar mengatakan kalau lagu ini sengaja dibawakan sebagai ungkapan pemersatu sebagaimana dimaksudkan oleh Yok Koeswoyo, sang empunya lagu.

Suasana makin menghangat kala The Bottles menyambung dengan “Malam Yang Indah”, yang membuat pengunjung makin terbuai pada suasana nostalgia pada lagu yang popular pada tahun 1973 dan direkam dalam album ketujuh Koes Plus. Pada tembang ketiga “Panah Asmara” menjadi pilihan berikut untuk dibawakan. Namun sayang sekali lagu ini harus berakhir anti klimaks. Sedikit terjadi kesalah pahaman, antara Joko selaku pemain keyboard dengan Takari, pemain bass yang menyanyikan lagu dari album Pop Melayu tahun 1978 ini. Nada yang seharusnya tinggi keliru dibawakan lebih rendah. Sehingga penyajian lagu menjadi kurang maksimal.

The Bottles tampaknya tidak mau berhenti pada kesalahan di lagu ketiga, sebagai band yang sudah memiliki banyak “jam terbang” di pentas lagu-lagu Koes Plus, mereka mulai memperbaiki penampilan pada lagu-lagu berikutnya. Berturut-turut lagu mereka bawakan, baik dari persiapan mereka pribadi maupun request pengunjung yang memadati gedung yang terletak di jalur menuju Semarang ini. Setelah mencoba memancing dengan sebuah lagu Jawa berjudul Yo Ben, banyak pengunjung yang mulai meneriakkan “pesanan lagu” Koes Plus berbahasa Jawa. The Bottles mulai memenuhi respon pengunjung dengan menggeber beberapa lagu pop Jawa termasuk lagu yang menjadi andalan mereka saat tampil di berbagai panggung, yaitu Nuswantoro. Suluk dalang yang menjadi ciri khas lagu ini berhasil dibawakan dengan mulus oleh Teguh, vokalis sekaligus pemegang rhytym gitar.

Agus sebagai pemain drum, malam itu berhasil mencuri perhatian sekitar 150 pengunjung dengan memainkan pukulan-pukulan khas Murry. Meskipun posisinya tertutup rekan-rekannya yang lain, namun Agus nampaknya sudah berhasil tampil maksimal demi memuaskan kerinduan warga Tuban terhadap lagu-lagu Koes Plus. Di sela The Bottles membawakan beberapa lagu, pembawa acara menyela dengan membacakan riwayat singkat dan diskografi group musik legendaris, Koes Bersaudara & Koes Plus. The Bottles yang saat itu berada di panggung, tampak tidak bisa menyembunyikan kebanggaan bahwa mereka sebagai band pelestari ternyata mampu dianggap mewakili keberadaan Koes Plus.

Saatnya pengunjung diberi kesempatan untuk bernyanyi diiringi oleh kelima pemuda dari sebuah instansi penghasil minyak goreng itu. Istri dari ketua FKR Tuban saat itu diberi kesempatan untuk menyumbangkan suara emasnya. Duet bersama salah seorang kerabatnya, perempuan berkerudung dan berbaju terusan warna emas ini menyanyikan Bis Sekolah dengan penuh semangat. The Bottles yang mengiringi dengan aransemen versi The Best of Koes membuat lagu ini tidak terasa sulit untuk dinyanyikan. Pendonor suara berikutnya adalah vokalis Pelangi Band mencoba untuk ikut beraksi bersama The Bottles. Jangan Berulang lagi menjadi pilihan lagu yang dibawakan. Selanjutnya perwakilan pengurus JN Surabaya, yaitu Koesyanto dan Didiek B Jauhari ikut berdendang melalui dua lagu, Semanis Rayuanmu dan Kau Bina Hidup Baru.

Sebuah hal yang istimewa bagi The Bottles saat pembawa acara mendaulat salah seorang pengunjung yang ternyata adalah kerabat dari personel Koes Bersaudara ikut hadir malam itu. Hari Sunarno, yang masih terhitung sebagai misanan dari Koeswoyo bersaudara malam itu menyatakan rasa syukurnya karena dibuatkan acara yang menampilkan lagu-lagu dari keluarga mereka. Beliau yang juga menjabat sebagai Kabag Kesra Pemkab Tuban bahkan memberi apresiasi pada The Bottles yang bersedia melestarikan lagu-lagu karya Koes Bersaudara & Koes Plus. Malam itu Suhartono menyumbangkan suaranya pada lagu Mawar Bunga. Sembari bercerita bahwa lagu ini dulu mendapatkan penghargaan Platinum yang diterima oleh Yok Koeswoyo.

Seorang pengunjung dari Bojonegoro, seorang ibu yang hadir bersama anak kecilnya diberi kesempatan untuk mendendangkan sebuah lagu. Why Do You Love Me dibawakan dengan vokal yang kadang terasa kurang pas dengan musik yang dimainkan. Pembawa acara selanjutnya menyampaikan supaya The Bottles membawakan sebuah lagu request dari panitia sebagai tembang pamungkas. Reuni dibawakan oleh Agus yang saat itu maju ke mik utama, sedangkan posisi drum diganti oleh Mispomo, pembina teknis mereka. Usai Reuni didendangkan, kontingen JN Surabaya segera berteriak supaya The Bottles menyanyikan Kapan-Kapan karena melihat The Bottles akan segera mundur dari panggung tanpa menyanyikan “lagu wajib penutup” ini.

Pkl. 23.00 tepat, The Bottles mengakhiri penampilan yang sekaligus juga berakhirnya acara secara keseluruhan. Malam itu pengunjung seakan dipuaskan oleh The Bottles yang mampu membuat pengunjung terlena pada masa kejayaan Koes Plus. Hanya saja tetap ada beberapa catatan bagi band yang rutin manggung di pusat perbelanjaan di kota Surabaya ini. Sebagai band penghibur, The Bottles perlu melatih diri untuk mampu berinteraksi secara intensif dengan penonton. Terlihat beberapa kali The Bottles seperti bernyanyi untuk diri sendiri. Penonton yang hadir seperti dibiarkan pasif dan tidak terlibat dalam lagu yang dibawakan.

The Bottles juga terlihat beberapa kali seperti kebingungan di panggung saat usai sebuah lagu dan akan memasuki lagu berikutnya. Beberapa personel tampak saling berpandangan “tolah-toleh” kebingungan lagu apa yang berikutnya akan dibawakan. Namun disadari atau tidak, tampil di Tuban sebenarnya merupakan sebuah kebanggaan yang juga sekaligus beban bagi band pelestari. Hal ini yang membuat The Bottles sedikit grogi, karena ekspektasi pengunjung terhadap mereka sangat berlebihan. Tapi sejarah telah mencatat bahwa mereka telah berhasil menggebrak kota Tuban yang pernah melahirkan musisi bersaudara nan legendaris. Apalagi malam itu acara direkam secara langsung oleh sebuah radio lokal.

Berikut ini adalah lagu-lagu yang dibawakan oleh The Bottles : Mars Jiwa Nusantara, Malam Yang Indah, Panah Asmara, Cintamu Telah Berlalu, Yo Ben, Malam Ini, Ela-Elo, Medley : Pring Gading-Til Kontal Kantil, Nuswantoro, Main Belakang, Tangis Di Hatiku, Diana, Bis Sekolah, Jangan Berulang Lagi, Semanis Rayuanmu, Kau Bina Hidup Baru, Mawar Bunga, Why Do You Love Me, Reuni, Kapan-Kapan.

Terima kasih kepada pengurus FKR Tuban yang sudah berkenan mengundang JN Surabaya untuk hadir. Kebersamaan kontingen JN Surabaya makin terasa akrab ketika sempat makan malam menjelang pagi di sebuah warung tenda area Pasar Agrobis Lamongan. Tiba kembali di Surabaya pkl. 02.30 WIB dengan sejuta kepuasan yang tak bisa digantikan dengan materi berapa pun nominalnya. Demikian yang dapat kami sampaikan. Mohon maaf atas rangkaian kata dan kalimat yang kurang berkenan. Merdeka …!!!

( Okky T. Rahardjo, Ketua JN Surabaya-085645705091 )






The Bottles sedang check sound





Pelangi band





Sanggare Cah Cah band





Uniro Band

Selasa, 20 September 2011

Catatan Album Koes Plus " Refresh "









“ Aku selalu sayang, kau slalu saja marah…
Kau balas aku dengan sikapmu, membenciku
Percayalah kau sayang, semua itu hanya …
Dalam khayalmu slalu mengganggu
Di dalam hatimu …. “

Rangkaian kalimat di atas merupakan petikan syair lagu karya terbaru Yon Koeswoyo yang berjudul “ Curiga”. Lagu ini merupakan salah satu bagian dari album terbaru Koes Plus. Tahun 2011 ini Koes Plus dengan energi baru yang sering kita sebut dengan nama Koes Plus Pembaruan mencoba mengeluarkan kreasi barunya dalam bentuk mini album.

Refresh merupakan judul album ini. Sebagaimana arti katanya, tampaknya album dalam format compact disc ini merupakan penyegaran kembali Koes Plus untuk terjun dalam blantika musik Indonesia. Sudah terlalu lama Koes Plus “ mengalah” dari hingar bingar industri musik Indonesia. Melalui album ini tampaknya mereka mulai menyapa penggemarnya yang benar-benar merindukan karya terbaru Koes Plus.

Koes Plus yang saat ini memang berbeda dengan Koes Plus yang kita kenal puluhan tahun silam. Tapi harus jujur diakui bahwa kita masih merindukan vokal khas Yon Koeswoyo membahana kembali menembus relung-relung hati kita yang terdalam.
Saat kita mulai memutar cakram padat ini, kita akan benar-benar serasa disegarkan melalui lagu pertama yang disajikan melalui olah vokal Yon Koeswoyo yang melengking tinggi. Kalau boleh digambarkan, seakan kita disiram air dingin yang segar setelah mengalami dahaga yang tertahan sekian lama.

Curiga memang tidak berbeda dengan gaya lagu khas karya Yon Koeswoyo yang lain. Seperti bertutur tentang kisah yang dialami. Bila kembali kita mengingat lagu-lagu karya Yon Koeswoyo sebelumnya, pola yang sama akan kita temui. Coba simak, Jeritan Hatiku, Hujan Angin, Bunga Di Tepi Jalan atau Maafkan Aku ( album Jeritan Hati ’80 ). Seakan kita diajak mendengarkan cerita yang dibawakan dalam sebuah nyanyian.

Vokal Yon Koeswoyo masih tetap melankolis, manja tapi melengking “ penuh power “. Ditunjang oleh gaya musik era masa kini, lagu ini menjadi sebuah karya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini menandakan kematangan dari sang pembuat lagu. Hanya saja pada bagian reffrein yang dibawakan dengan gaya bersahutan, kita kehilangan peran Yok Koeswoyo yang pernah menjadi teman duetnya. Kali ini, Yon Koeswoyo membawakan sendiri.

Pada urutan lagu kedua, kita menjumpai judul “ Biar Berlalu”. Iringan musik yang penuh semangat membuat lagu ini juga memiliki nilai lebih. Pendengar seakan dibawa berlari cepat meninggalkan nuansa kesedihan yang diantarkan oleh lagu pertama. Bila disimak dengan teliti, sebenarnya lagu ini tidak sepenuhnya baru. Biar Berlalu pernah direkam sebelumnya dalam album “ Song of Porong”. Hanya saja terjadi perbedaan lirik. Bila dalam album SOP banyak bertutur tentang jani penguasa yang tidak pernah ditepati, dalam album Refresh ini Koes Plus menuturkan tentang hidup yang penuh semangat.

Pada urutan ketiga dan keempat, masih tetap menyajikan kisah cinta sepasang kekasih. Pada lagu ketiga, karya Yon Koeswoyo sekali lagi hadir dengan judul “ Cinta Pertama”. Track keempat, Danang pemain keyboard & lead guitar Koes Plus Pembaruan diberi kesempatan menyumbangkan karya. “Masihkah” merupakan satu-satunya karya Danang yang sekali lagi dinyanyikan oleh Yon Koeswoyo. Lagu tersebut sekaligus adalah lagu terakhir pada album ini.

Album ini bisa disebut mini album karena hanya terdiri dari empat lagu. Langkah ini sah saja, karena sebagian besar musisi masa kini juga menempuh jalur serupa. Biasanya sebagai langkah pemanasan sebelum album yang utuh benar-benar diluncurkan. Kemasan album ini terkesan minimalis karena dibungkus dalam soft cover kertas.

Hal lain yang unik adalah dipakainya logo huruf Koes Plus yang setelah sekian lama tidak pernah hadir dalam album Koes Plus. Bahkan logo ini terakhir muncul pada album Jeritan Hati yang dirilis tahun 1980. Bila logo ini menghiasi album baru Koes Plus, maka kita dapat menilai bahwa Yon Koeswoyo dkk sudah mulai berani dan percaya diri menyebut “ Koes Plus “ tanpa embel-embel yang lain. Padahal pada album Song Of Porong, grup ini masih menggunakan nama Koes Plus Pembaruan.
Album “Refresh” ini sebenarnya merupakan langkah ketiga dari grup Koes Plus formasi baru. Debut mereka pada rekaman dimulai pada tahun 2006, saat merilis album “ Melaut Bersama Koes Plus”. Album ini sempat beredar di pasaran berupa kaset pita. Dua tahun berikutnya, Koes Plus rekaman dengan judul “ Song Of Porong” yang sampai kini hanya beberapa orang kolektor saja yang memiliki.
Selanjutnya, apakah album Refresh ini mampu mewakili bangkitnya kembali Koes Plus, semua terserah pada penilaian penggemar. Namun lepas dari berbagai kekurangan yang ada, kita patut memberi apresiasi pada Yon, Danang, Soni dan Seno yang terus berusaha menghadirkan eksistensi Koes Plus di blantika musik Indonesia.

Jiwa Nusantara Surabaya selaku komunitas penggemar juga menyediakan album ini bagi yang membutuhkan. Bahkan disediakan sebuah merchandise menarik untuk setiap pembelian cd album Refresh. Pemesanan bisa menghubungi ketua JN Surabaya, Okky T. Rahardjo ( 085645705091 ).
Akhirnya, hanya ini yang bisa kami sajikan sebagai pengantar album baru Koes Plus. Mohon maaf atas segala tulisan dan rangkaian kata yang kurang berkenan. Atas perhatian teman-teman, kami ucapkan terima kasih. Merdeka…..!!!!

( Okky T. Rahardjo, ketua JN Surabaya – 085645705091 )