Minggu, 30 Desember 2012

D PLUS DAN MKPC : PELESTARIAN KOES PLUS DI LERENG GUNUNG LAWU




             
 





 Sebuah band pelestari Koes Plus yang kami sajikan dalam tulisan berikut ini berasal dari sebuah kota kecil, yang hampir tak terdengar gaung “ke-koes plus-annya”. Band tersebut bernama D Plus, yang berasal dari kota Magetan, Jawa Timur. Sekalipun berasal dari kota kecil, namun jiwa besar yang mereka miliki, membuat band ini tidak boleh dipandang sebelah mata.

                Berawal dari saling kumpul dan latihan bersama antar teman, terbentuklah sebuah band yang bernama Damen Plus. Sebuah band yang personelnya masih memiliki darah muda dan agresif. Seiring perjalanan waktu dan berbagai proses, yang meliputi pergantian personel serta pencarian jati diri, band ini selanjutnya menyebut diri dengan nama D’ Plus yang terinspirasi dari nama B’ Plus, band pelestari dari ibu kota. D’ Plus band yerdiri dari Adit selaku pimpinan band yang memegang posisi keyboard, diikuti oleh Heru (gitar), Atok (bass/backing vokal), Roy (drum) dan Denny sebagai vokalis.

                D’ Plus berdiri pada Juni 2008 yang selanjutnya menjadi pengisi tetap di acara Senandung Malam RRI Madiun setiap hari Jumat, minggu pertama khusus edisi lagu-lagu Koes Plus. Kemunculan band ini diikuti pula dengan berdirinya MKPC ( Magetan Koes Plus Community ). MKPC pada awal berdirinya banyak dibantu oleh Edy Suryanto, penyiar Radio Magetan Indah (RMI). Sampai saat ini Edy yang dikenal dengan sebutan Bang Oklex ini merupakan motor sekaligus mtivator bagi terkumpulnya penggemar Koes Plus di kota yang dihuni Telaga Sarangan ini.

                Pada 5 Oktober 2012, MKPC mengadakan peringatan hari  jadi yang keempat bertempat di RRI Madiun. Saat itu digelar acara syukuran yang dimeriahkan dengan adanya pameran koleksi Koes Plus. Adapun pameran tersebut diikuti oleh penggemar Koes Plus dari Magetan dan seorang Koes Plus dari Surabaya. Berbagai koleksi dan dokumentasi berupa foto, buku, kaset dan berbagai merchandise digelar untuk menunjukkan ragamnya karya Koes Bersaudara dan Koes Plus.

                Puncak acara hari ulang tahun tersebut menampilkan D’ Plus, band pelestari kebanggaan warga kota lempeng. D’ Plus saat itu tampil maksimal menghibur penggemar Koes Plus yang mendengarkan melalui siaran radio maupun hadir di studio yang terletak di jl. DI Pandjaitan, Madiun. Lagu-lagu Koes Plus terdengar menggema dan menghangatkan suasana malam minggu itu. D’ Plus yang masih berjiwa muda tersebut sukses menghanyutkan kenangan para pendengar Koes Plus dengan menggeber : Bunga Si Tepi Jalan, Kisah Sedih Di Hari Minggu, Tul Jaenak, Gadis Genit, Andaikan Kau Datang dan lainnya. 

                Sambutan penonton begitu antusias di ruangan yang dipenuhi penggila Koes Plus yang dating dari Madiun, Magetan, Caruban, Bojonegoro dan Ngawi. Bahkan saat itu dimeriahkan juga dengan kehadiran pengurus dan anggota KPK ( Komunitas Pelestari Koes Plus ) Madiun. Fans club yang baru lahir di belahan bumi Jawa Timur. Uniknya, Denny sang vokalis, saat menyanyikan lagu-lagu Koes Plus melakukan aksi gaya seperti Pasha ‘Ungu’. Setiap melantunkan lagu, dia selalu meletakkan tangannya di atas perut sambil bergerak kesana kemari. Adit, pemencet keyboard juga tampak serius saat mendendangkan Jangan Berulang Lagi. Personel bertubuh tambun ini mencoba mengambil peran Tonny Koeswoyo dengan tampak hati-hati menekan tuts ‘papan kunci’, pada saat interlude lagu yang diambil dari album Koes Plus volume 4 itu.

               Kegesitan D’ Plus sebagai band pelestari Koes Plus kembali teruji saat tampil di acara “Konser Musik Harmoni 3G ( tiga generasi )” yang digelar RRI Madiun pada Sabtu, 29 Desember 2012. Beberapa band indie tampil mewakili generasi masa kini macam : Killing My Fantasy, MIMC Jazz, Not Name Band dan Fun Fun band. Sedangkan era ’80-‘90an didelegasikan oleh Dayang Band yang mengusung lagu-lagu yang pernah populer oleh Kla Project, Chrisye dan sejenisnya. Bahkan saat lagu “Kala Cinta Menggoda” didendangkan, sang vokalis tampak menyelingi dengan seuntai tembang campur sari “Wuyung” karya Manthous. Puncak acara, tampillah D’ Plus yang menjadi ikon music era ‘70an dengan lagu-lagu Koes Plus yang dikumandankan. 

Jatah waktu setengah jam tampak dimanfaatkan dengan baik oleh personel D’ Plus. Mereka lebih memilih lagu-lagu yang sifatnya nge-beat untuk menambah kehangatan malam itu. Rata-Rata, Oh Kasihan dan Bis Sekolah adalah sebagian lagu yang mereka mainkan dengan agresif, penuh dengan semangat muda yang mereka miliki. Bahkan saat Oh Kasihan disuarakan, mereka menabahi dengan senggakan “salahe ‘ra nduwe bojo..”.Rupanya meniru gaya teman-teman Yogya dan Solo. Beberapa kali tampak Heru, pemain gitar D’ Plus, menenggak sebotol air mineral. Sementara di sisi lain, sang vokalis tampak berusaha menahan haus. Saat itu Denny sempat berseloroh kalau Yon Koeswoyo saat manggung, lalu minum katanya malah membuat tubuh jadi lemas, maka dia mau mengikuti dengan tidak minum saat manggung.

Tepat pkl. 23.45, show diakhiri dengan tembang Kapan-Kapan. Penonton tampak puas menikmati hiburan akhir tahun yang diselenggarakan oleh RRI Madiun itu. D’ Plus pun sekali lagi mampu membuktikan diri sebagai band pelestari Koes Plus yang tangguh dan berjiwa besar, walaupun berasal dari kota kecil.

Demikian sekilas yang dapat kami sajikan mengenai kiprah pelestarian Koes Plus di Magetan. Mohon maaf bila ada kata dan tulisan yang kurang berkenan di hati. Merdeka…!!!

Okky T. Rahardjo ( Penggemar Koes Plus dari Surabaya, 085645705091 )

 sumber foto : Magetan Koes Plus Community blog.



















































               
               
































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Jumat, 03 Agustus 2012

Kesan Bersama Nomo Koeswoyo




Sebuah kesempatan istimewa bagi kami, sekelompok kecil penggemar Koes Bersaudara & Koes Plus yang berdomisili di Surabaya, pada hari Sabtu - Minggu, 14 - 15 Juli 2012 lalu dapat berkunjung ke kediaman seorang legenda musik Indonesia, Nomo koeswoyo. Setelah memulai perjalanan sekitar pkl. 12.00 Wib, menyewa sebuah mobil dengan cara urunan, kami menuju kediaman beliau sesuai janji yang telah disepakati.

Kontingen kami diawali dengan personel Siswanto, Koesyanto, Sugeng Santoso, Okky Rahardjo dan seorang sopir berangkat dari Pondok Benowo Indah melalui panasnya jalanan kota Surabaya di siang hari yang terik itu. Melintasi jalanan setapak perbatasan kota Gresik menuju Mojokerto perjalanan kami diselingi lagu-lagu dari No Koes dan Koes Plus yang disuarakan melaui cd player mobil Avanza sewaan.Sekitar pkl 15.00 kami berhenti di pertigaan Braak - Kertosono, di situ telah menunggu Sam Sugeng beserta isteri untuk bergabung dengan kami. Perjalanan kami lanjutkan dengan suasana penuh keakraban sembari menikmati tempe keripik khas Trenggalek yang dibawa oleh Sam Sugeng.

Mobil terus melaju, hanya jeda sejenak di sebuah pom bensin perbatasan Ngawi dengan Sragen. Sebagian personel diberi kesempatan untuk ke kamar mandi atau minum teh bersama. Selebihnya kami terus melaju dengan harapan tiba di tujuan tidak terlalu larut. Memasuki kota Magelang, Nomo Koeswoyo sempat menghubungi kami untuk memastikan bahwa kami tidak keliru jalan. Singkat kata, tibalah kami di kediaman sang maestro musik Indonesia yang disambut dengan penuh kehangatan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh jam, maka pkl. 22.30 wib kami tiba di sebuah rumah dengan pekarangan yang luas dan asri. Kediaman Nomo koeswoyo yang terletak di seberang terminal  Magelang telah kami tuju dengan baik. Bagi yang pernah berkunjung ke rumah beliau, pasti akan hafal sebuah kalimat pembuka beliau " podo durung mangan toh...". Sebuah kalimat ajakan makan yang selalu dilontarkan kepada setiap penggemar yang mengunjungi beliau. Dengan penuh perhatian beliau menawarkan kepada kami untuk makan di warung tenda yang berdiri di depan ruko Chicha. Warung makan khas Lamongan yang menyediakan masakan gorengan. Saat itu yang tersaji bagi kami adalah bebek goreng dan lele goreng. Konon pemilik warung ini mendapatkan modal untuk berjualan dari Nomo Koeswoyo.

Sekitar setengah jam kemudian, usai sudah kami memulihkan tenaga melalui makan malam yang kami nikmati. Selanjutnya kami mulai menghabiskan waktu dengan berfoto dan berbincang santai dengan sang tuan rumah. Malam itu kami sangat terkesan dengan keramahan beliau menerima kami yang jauh dari Jawa Timur. Kami malam itu hadir memenuhi ajakan beliau saat berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu. Saat itu beliau berkata kalau ada waktu, kami dipersilakan untuk berkunjung ke kediaman beliau di magelang. Jadilah segala daya dan upaya kami lakukan untuk segera memenuhi tawaran tersebut.

Berbagai topik perbincangan kami diskusikan malam itu. Bahkan Nomo koeswoyo dengan santai membuka banyak kisah pada kami yang sebelumnya tertutup bagi kami. Bagi kami, hal itu merupakan sebuah pembelajaran hidup yang disampaikan oleh seorang yang telah banyak menikmati liku-liku perjalanan penuh tatangan dalam kehidupan.Saat itu bel;iau didampingi oleh seorang seniman asal kota Solo yang memiliki misi untuk menulis biografi tentang Nomo koeswoyo. Hal ini membuat seniman tersebut harus tinggal beberapa hari di rumah Nomo koeswoyo. Nomo berkisah bahwa beliau lah yang bekerja keras untuk mencari uang gun kelangsungan hidup sehari-hari semasa masih sama-sama memulai karier sebagai personel Koes Bersaudara.Apa pun beliau kerjakan asalkan menghasilkan uang dan bermanfaat bagi keluarga kecilnya yang baru dibina dan juga bagi saudara-saudaranya.

Nomo berkisah pula pada kami bahwa sebenarnya lagu Kembali yang direkam di Koes Bersaudara Seri Perdana tahun 1977 merupakan karya cipta beliau. Lagu itu merupakan kerinduan beliau untuk berkumpul lagi bersama saudara-saudaranya. Namun ketika pada sampul kaset tertulis karya Tonny Koeswoyo, beliau tidak terlalu mempermasalahkannya karena bagaimana pun juga Tonny adalah saudaranya. Demikian juga ketika lagu Kau Datang Lagi yang direkam tahun 1987 tertulis ciptaan Tonny L. Ibrahim, beliau juga tidak terlalu meributkan. Sebuah gambaran keikhlasan dari sosok seorang Nomo Koeswoyo.

Keikhlasan dan kerelaan hati yang besar itu sempat beliau wujudkan ketika sang kakak tercinta terbaring sakit, Nomo Koeswoyo harus mengeluarkan biaya dari kantong pribadinya untuk biaya perawatan Tonny Koeswoyo. Hal itu beliau kisahkan dengan penuh haru. Tiada kesan sombong atau pun dendam, semua beliau lakukan karena rasa sayang beliau pada saudara-saudaranya.

Suatu kali saat rekaman lagu Pop Jawa, di dalam studio Remaco Tonny Koeswoyo berkata pada Nomo, " tinggal kamu yang belum bikin lagu...". Nomo yang merasa buntu karena memang belum punya lagu, segera keluar dari ruangan dan duduk di depan studio yang saat itu sangat terkenal. Tepat di depan halaman studio, beliau melihat beberapa anak kecil bermain kelereng. Mekihat bentuk kelereng yang unik, terlintaslah sebuah kata-kata unik di ebnak beliau "bunder-bunder, bunder banget dadi seser..". Terbentuk juga kata-kata unik lain yang menyambung pada lagu tersebut. Saat ini lagu tersebut begitu populer di telinga kita. Ketika ditanayakan apa sebenarnya arti lagu itu, beliau dengan santai berkata "ora ono artine...". Semua mengalir begitu saja karena terdesak memenuhi tuntutan setoran lagu.

Nomo juga berkata kepada kami, sebenarnya film Chicha tidak berakhir seperti yang saat itu dilihat orang. Beliau berkisah bahwa sebenarnya adegan terakhir mengambil lokasi di Taman Mini Indonesia Indah. Namun karena kendala prosedur yang berbelit dan biaya mahal, baliau mengubah skenario akhir cerita dalam film anak-anak tersebut. Perbincangan mengalir begitu hangat. Hingga tiada terasa waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Beliau yang melihat kami kelelahan segera mengajak kami untuk segera beristirahat. Jadilah kami kontingen dari Surabaya diberi ruang istirahat di ruko Chicha lantai dua yang letaknya bersebelahan dengan kediaman beliau.

Minggu pagi, kesempatan terakhir kami menikmati suasana rumah beliau yang asri. Kami mengambil beberapa pose dan lokasi untuk mengabadikan gambar. Setelah beliau bangun dari istirahat, kami kembali berfoto bersama dengan beliau. Beliau tetap tampil bersahaja dengan rokok khas selalu menempel di bibir beliau. Gudeg khas Magelang disajikan oleh Bu Seneng, seorang perempuan paruh baya yang sudah lama membantu beliau. Pkl. 09.00, kami segera pamit dan mengundurkan diri. Kami menjumpai banyak kesan yang selalu akan membekas dalam ingatan kehidupan kami saat berkunjung ke rumah beliau dengan suasana penuh kekeluargaan. Apalagi saat pulang kami menerima sesuatu dari beliau yang mengejutkan bagi kami yang hadir saat itu.

Perjalanan pulang menuju Surabaya selanjutnya diisi dengan berbagai kisah yang menarik untuk kami ceritakan di dalam mobil. Kami sempat menambah kesan dengan mampir di Posko JKPC Jogjakarta yang juga kediaman Wowo Nugroho, seorang kolektor album-album Koes Bersaudara dan Koes Plus. Yanto Kerinduan, seorang aktivis JKPC juga ikut hadir menemui kami yang singgah di kota istimewa tersebut. Posko JKPC terletak di jl. Ibu Ruswo 25 komplek SMA Gajah Mada, di dekat alun-alun utara Jogyakarta.

Mobil memasuki kota Surabaya sekitar pkl. 21.00, dengan segala kesan yang mendalam di hati kami. Terima kasih kami ucapkan pada pak Nomo yang sudi menerima kami. Juga kepada mas Wowo dan mas Yanto yang dengan ramah menerima singgah kami yang hanya sesaat namun tetap mengesankan. Terima kasih pada penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus semua....Matur nuwun,

Jumat, 22 Juni 2012

Refleksi Peringatan Ulang Tahun Emas Koes Beraudara




 


Sabtu, 23 Juni 2012 ini diadakan penampilan musik dalam rangka memperingati ulang tahun emas Koes Bersaudara. Hal ini bias dikatakan usia Koes Bersaudara sudah mencapai lima puluh tahun. Sebuah pencapaian usia yang luar biasa untuk ukuran sebuah group music. Lima puluh tahun berkarya merupakan sebuah usia yang penuh perjuangan dengan berbagai suka dan duka yang telah dialami.

Sebagaimana diketahui, Koes Bersaudara merupakan sebuah kelompok musik bersaudara yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Pada tahun 1952, mereka sekeluarga ekspansi ke Jakarta dikarenakan ayah mereka Koeswoyo dipindah tugaskan ke Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Keluarga yang terdiri dari bpk Koeswoyo dan ibu Atmini bersama delapan orang anak ( lima laki-laki dan tiga perempuan ) ini tinggal di sebuah rumah sederhana yangt terletak di jl. Mendawai III. Ketika orang tua mereka merintis usaha di Solo, anak-anak Tuban yang sudah berusia remaja ini tumbuh tanpa pengawasan dari orang tua. Berabagai kenakalan pun kerap menghampiri mereka, layaknya anak-anak muda pada masa itu. Bahkan Nomo sempat malang melintang di kawasan Karang pilang, Surabaya.

Tonny Koeswoyo yang memiliki pergaulan dengan teman-teman pemain musik, lebih dulu terlihat bakatnya sebagai musisi. Mengetahui adiknya memiliki minat yang besar pada musik, John Koeswoyo memfasilitasi dengan membelikan sebuah gitar akustik untuk dibuat berlatih oleh Tonny Koeswoyo. John berpesan supaya Tonny lebih baik memainkan musikbersama adik-adiknya saja. Selain untuk menghindar dari berbagai pengaruh kenakalan juga tentu dimaksudkan untuk memudahkan mereka mencari uang guna bertahan hidup di kota besar  Jakarta. Singkat cerita, berdirilah “Ku Brothers”, yang menurut pengakuan John Koeswoyo sebenarnya beliau adalah pendirinya.

Koes Brothers berdiri pada 196o dengan lambing sebuah harpa yang bertuliskan ‘missa solemnis’. John sendiri yang menggambar harpa tersebut , lalu Tonny menambah kata “missa solemnis” yang berarti “dari hati, kiranya berkenan di hati pula”. Koes Brothers formasi awal terdiri dari John (bass), Tonny (melody), Nomo (drum), Yon dan Yok pada vokal.

Pada tahun 1961, Kus Brothers rekaman dengan bimbingan Jack Lemmers (Jack Lesmana) di studio Irama milik Suyoso. Pada sesi rekaman ini John koeswoyo sempat ikut pada beberapa lagu yang akhirnya tidak berlanjut karena ketika pagi hari saat bekerja, beliau sering mengantuk. Saat itu John koeswoyo merupakan salah seorang kontraktor yang mendirikan beberapa bangunan megah di Jakarta. Nomo pun dalam beberapa laguketika memainkan drum masih harus dibantu oleh temannya yang bernama Iskandar.

Pada tahun 1962, album rekaman perdana mereka resmi keluar dalam bentuk long play (piringan hitam). Kus Brothers pun berganti nama menjadi Koes Bersaudara supaya lebih mudah diterima di telinga pendengar musik Indonesia. Lagu-lagu macam : Pagi Yang Indah, Harapanku dan Telaga Sunyi mulai bergema di udara Indonesia saat itu. Karena mengadapatasi kepopuleran group Everly Brothers, maka Yon dan Yok ditampailkan pada cover album sedangkan yang lain hanya terkesan sebagai pengiring.

Hasil pertemuan dengan rekan-rekan kolektor di Solo dan membuka berbagai dokumentasi kliping serta beberapa catatan dari penggemar yang lain, sebenarnya Koes Bersaudara berdiri pada 21 Juli 1960. Dua tahun yang lalu kelahiran group ini sempat diperingati di kota Tuban. Saat itu bertempat di Gedung KSKP Tuban pada hari Rabu, 21 Juli 2010 bersamaan dengan pembentukan FKR Ronggolawe Tuban, Yok Koeswoyo menghadiri acara yang pelaksanaannya bertepatan dengan hari berdirinya Koes Bersaudara. Bahkan pada Senin, 19 Juli 2010 atau dua hari sebelumnya di Solo sebuah panggung di THR Sriwedari sengaja diadakan untuk memperingati ulang tahun emas Koes Bersaudara yang juga dihadiri oleh Yok Koeswoyo.

Salah seorang pengasuh acara lagu-lagu Koes Plus di salah satu radio di Solo bahkan sempat mengklarifikasi bahwa sebenarnya pada tahun 2012 ini Koes Bersaudara berusia lima puluh dua tahun, sebagai pelurusan kata “ulang tahun emas” yang sedang diperingati di Jakarta dan dimuat di berbagai media massa.

Terlepas dari berbagai plemik usia emas Koes Bersaudara, namun di hati kita tetap terpatri karya-karya emas dari keluarga Koeswoyo yang tidak akan lekang dimakan oleh waktu. Pada akhirnya, kami menyampaikan selamat merayakan ulang tahun emas Koes Bersaudara pada Sabtu, 23 Juni 2012 di Panggung Archipelago Taman Mini Indonesia Indah dengan tajuk acara “Hiburan Rakyat Nusantara” dengan penampilan band pelestari dari berbagai kota selama 10 jam.

Demikian tulisan kami sebagai refleksi peringatan ulang tahun emas Koes Bersaudara. Mohon maaf atas berbagai kekurangan yang ada termasuk data serta rangkaian kalimat yang tersusun. Mudah-mudahan tulisan ini berkenan di hati para penikmat musik Indonesia khususnya penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus. Terima kasih atas perhatiannya.

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus dari Surabaya – 085645705091 ).

Selasa, 15 Mei 2012

Sebuah Catatan Tentang Koes Plus Pembaharuan








Koes Plus Pembaharuan, merupakan sebutan yang ditujukan untuk formasi Koes Plus era saat ini. 
Sebuah sebutan istimewa yang digunakan sebagai pembeda dengan formasi sebelumnya. Kita mengenal beberapa sebutan untuk formasi Koes Plus yang berbeda seiring dengan bergantinya formasi Koes Plus selepas Tonny Koeswoyo meninggal dunia. Pada tahun 1992, kita mengenal Koes JAB yang berarti Koes ditambah Jelly Tobing dan Abadi Soesman. Sebuah formasi sementara yang hanya tampil beberapa kali show, terutama untuk kepentingan kampanye sebuah partai politik saat itu.

Saat heboh Koes Plus bangkit kembali dengan personel Yon, Yok, Murry dan Abadi Soesman pada tahun 1993,
tidak ada sebutan tambahan pada formasi ini. Saat itu hanya disebutkan Koes Plus. Mungkin karena hanya ditambah seorang personel tambahan, sementara yang ketiga adalah personel asli.
Memasuki tahun 1994, saat Koes Plus merekam sebuah album dengan tajuk “Tak Usah Kau Sesali” mereka hadir dengan sebuah sebutan “New Koes Plus”.
 Sebutan ini untuk menandai masuknya Damon Koeswoyo sebagai pengisi melody gitar. Sebutan baru tersebut tercantum pada cover album yang diproduksi oleh Blackboard record tersebut dan juga pada rilis yang ada di beberapa media massa. Tak banyak yang mengetahui, bahwa pengisi keyboard pada album ini adalah Bambang Tondo. Mengingat Koes Plus selalu identik dengan formasi berempat, maka wajah beliau tidak ditampilkan pada cover album. Namun sekilas dapat kita saksikan pada video klip yang dibuat oleh TVRI.

Sebutan lain muncul pada Koes Plus dengan formasi tambahan yaitu Deddy Dores yang mengeluarkan album 
berjudul“Rindu Kamu”. Pada formasi ini Koes Plus saat itu menyatakan diri di berbagai media massa dengan
 nama baru “Koes Dores”. Formasi yang sempat terbentuk yaitu Yon, Yok, Deddy Dores dan Kamal. Album ini sempat tertunda beberapa saat kemunculannya dikarenakan adanya masalah internal dalam manajemen Koes Plus. Namun klip lagu ini sempat beredar di berbagai stasiun televisi saat itu. Selepas itu, Koes Plus tetap berkibar dengan nama besar yang tidak lagi diganti atau ditambah sekalipun personel yang mengisi silih berganti.

Sekitar bulan September 2004, terjadi lagi transisi formasi Koes Plus yang menyebabkan perubahan personel
 pengisi pada grup legendaris ini. Saat itu demi kepentingan mengisi sebuah acara musik di TPI, Koes Plus yang sudah terikat kontrak harus mengutak-atik lagi personel pendukungnya. Mengingat formasi terakhir yang dihuni oleh Murry, Andolin dan Jack Kashbie tidak lagi solid maka Yon Koeswoyo harus dibantu oleh personel dari band pelestari. Jadilah sebuah formasi baru dalam Koes Plus yang saat itu mengisi di sebuah acara musik yang dipandu oleh Adi Bing Slamet.

Formasi baru yang saat itu menimbulkan banyak tanya bagi pemirsa televisi selama dua episode penayangan 
ternyata mampu eksis hingga hari ini. Formasi baru tersebut adalah Yon Koeswoyo ( lead voval, rhytym gitar ), Danang ( keyboard / melody gitar ), Soni ( bass ) dan Seno ( drum ). Yon Koeswoyo member nama formasi ini dengan sebutan : Koes Plus Pembaharuan. Ketika syuting di televisi swasta tersebut, ketiga personel yang masih berusia muda itu tampak gugup dan grogi membawa nama besar Koes Plus. Namun seiring perjalanan waktu pada akhirnya mereka mampu eksis membawa diri sebagai personel pendukung Yon Koeswoyo.

Pada awal kemunculan formasi ini, ada banyak pernyataan yang meragukan penampilan mereka.
 Mulai permaianan keyboard yang terkesan asal pencet, gaya pemain bass yang terkesan overacting, pukulan drum yang tidak menyerupai Murry, vocal Yon Koeswoyo yang terlalu dominan serta 
banyak tudingan miring yang lain. Namun berbagai tanggapan sinis tersebut tidak membuat mereka putus asa, justru menjadikan semacam cambukan yang membuat Koes Plus Pembaharuan ini tetap eksis untuk mengumandangkan lagu-lagu Koes Plus.

Sampai hari ini kita patut bersyukur karena eksistensi Koes Plus Pembaharuan, maka kita masih bisa menikmati 
tembang-tembang Koes Plus dari vocal aslinya secara langsung. Bahkan kita juga harus mengakui bahwa formasi ini merupakan salah satu formasi yang terbaik setelah era Tonny Koeswoyo berlalu dari hadapan kita. Sosok Danang dan Soni yang sepintas lalu mirip dengan Tonny dan Yok Koeswoyo mampu menarik perhatian tersendiri bagi penggemar Koes Plus yang menyaksikan aksi panggung mereka di beberapa daerah.

Koes Plus Pembaharuan mampu menjadi pengobat rindu tersendiri bagi penggemar fanatik yang rindu mendengar
 karya Koes Plus disajikan sesuai aslinya. Tidak ada lagi lagu-lagu Koes Plus yang diimprovisasi dengan gaya urakan atau interlude yang dibuat meniru lagu “Good Bye”-nya Air Supply. Kita mampu mendengarkan lagu Koes Plus yang dibawakan secara original sebagaimana saat
 rekaman pertama kali. Walaupun tentu saja beberapa hal yang masih mengganjal, kita menerima sebagai sebuah kewajaran. Termasuk tidak adanya personel yang membawakan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Murry.

Koes Plus Pembaharuan saat ini makin banyak menerima tawaran tampil di berbagai daerah melebihi Koes Plus
 formasi sebelumnya. Bahkan ada beberapa tempat yang sebelumnya jarang sekali disinggahi oleh penampilan Koes Plus, pada formasi ini sempat mereka kunjungi.

Yon Koeswoyo pun tampaknya terasa nyaman diiringi oleh formasi ini. Bahkan pada formasi ini kita bisa 
mendengarkan kembali lagu-lagu yang biasanya dimainkan oleh Tonny Koeswoyo dengan sempurna diadaptasi oleh Danang. Kita bisa menikmati lagu-lagu macam : DiniUntukmuKasihku Yang Hilang, Minum Kopi Bersama dan Hari Minggu. Pada formasi sebelumnya,
 peran pengganti Tonny Koeswoyo hanya mendendangkan lagu Rata-Rata. Gaya atraktif Yok Koeswoyo pada era 70an pun dapat kita lihat melalui visualisasi yang ditampilkan secara sempurna oleh Soni. Begitu juga pukulan drum Seno makin tidak terasa asing di telinga kita saat memainkan lagu-lagu Koes Plus dengan warna Murry. 

Beberapa penampilan di televisi pun dapat mereka selesaikan dengan baik. Penampilan perdana di TPI
tampaknya menjadikan sebuah pelajaran berharga bagi mereka. Hal ini dapat kita buktikan melalui sebuah acara‘eksklusive to Koes Plus’ yang dipandu oleh Krisbiantoro pada 1 Mei 2005 di Trans Tv.
 Selanjutnya berbagai tawaran untuk tampil di televisi pun makin berdatangan termasuk dalam acara Zona Memory di Metro Tv. Yang terbaru adalah saat mereka tampil selama dua jam dalam acara Radio show di Tv One yang dipandu oleh Denny Sakrie dan Bagus Netral. Tampak sekali keistimewaan Koes Plus yang disajikan secara live dalam lapangan terbuka disaksikan ratusan penggemarnya. Acara itu sendiri dikemas begitu menarik dengan adanya talk show yang membuka wawasan tentang Koes Plus.

Selain televisi nasional, keperkasaan Koes Plus juga bisa dinikmati oleh beberapa televisi yang berbasis daerah.
 JTV Jawa Timur, Arek Tv Surabaya, TA-Tv Solo dan  Jogja Tv adalah beberapa contoh stasiun televisi daerah yang pernah menampilkan Koes Plus Pembaharuan secara langsung.

Hingga tahun 2012 ini Koes Plus Pembaharuan telah membuktikan diri dengan adanya tiga album yang telah
 mereka hasilkan. Album-album tersebut adalah : Melaut Bersama Koes Plus (2006), Song of Porong (2008) dan Refresh (2011). Hanya pada album SOP nama Koes Plus Pembaharuan ditulis, sementara pada kedua album lain hanya tertulis dengan nama Koes Plus. 

Setiap prestasi yang dihasilkan, di baliknya tentu ada kekurangan tersendiri yang menjadi catatan untuk langkah 
selanjutnya. Koes Plus Pembaharuan selama delapan tahun berkiprah, tampaknya belum terlalu teruji secara luas. Berbagai penampilan mereka hanya mampu menarik perhatian penggemar beratnya, namun karya mereka seakan tidak bergema keras di blantika musik Indonesia. Berbeda sekali dengan era album Mata Bertemu Mata (1993), Tak Usah Kau Sesali (1994), Kasih (1996), Rindu Kamu (1997),
 Gadis Genit (1998), Siapakah (1999), dan Penyesalan (2001). Saat itu masyarakat luas mampu menyaksikan
 eksistensi Koes Plus dalam karya-karya baru. Video klip lagu terbaru Koes Plus sempat menyambangi beberapa acara musik, demikian juga beberapa radio pun kerap memutar lagu terbaru Koes Plus.

Dorongan, dukungan serta berbagai bentuk motivasi rasanya perlu kita sampaikan terus menerus demi eksistensi
 Koes Plus Pembaharuan yang oleh beberapa pihak disebut Yon Koeswoyo dkk ini. Yon Koeswoyo dalam usia yang makin senja pun seakan tidak kenal menyerah untuk terus berkiprah di dunia musik Indonesia.

Demikian sebuah catatan sederhana ini kiranya mampu menambah apresiasi kecintaan pada sebuah band legendaris 
Indonesia, Koes Plus. Mohon maaf bila terdapat kata dan kalimat yang kurang berkenan bagi banyak pihak. Maju terus musik Indonesia !

Selamat meneruskan perjuangan untuk Yon Koeswoyo. Soni. Danang. Seno !

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus – 085645705091 )



























Minggu, 29 April 2012

Sederhana Bersamamu, Sebuah album yang tidak sederhana

   



           Sebelum bulan April ini berakhir, kita perlu mengingat lagi sebuah album Koes Plus yang beredar pada bulan yang sama. Album ini berjudul Sederhana Bersamamu yang diluncurkan pada tahun 1981. Saat itu tampaknya Tonny Koeswoyo tengah berputar keras untuk tetap eksis di tengah kancah musik Indonesia yang mulai banyak pesaing wajah-wajah baru dalam dunia tarik suara. Pada album ini Tonny Koeswoyo beserta personel Koes Plus lain dapat kita rasakan sedang meraba dan meramu musik apa yang layak untuk ditampilkan pada album mereka kali itu.

       Sejak kepindahan Koes Plus ke Purnama, sebagai kompensasi "kontrak hutang" Remaco, terdapat perubahan besar pada ciri khas album mereka. Sebagaimana kita ketahui bersama, pada era ini Koes Plus tidak lagi menggunakan angka untuk penamaan sekuel album mereka namun memakai sebuah kalimat yang diambil dari judul lagu. Hal ini kemungkinan besar mengadaptasi dari album-album The Beatles. Pola baru ini kita ikuti mulai album peratma mereka di Purnama record yang berjudul Bersama Lagi. Seterusnya kita mengikuti ciri khas baru ini hingga saat ini. Sebagai catatan, Sederhana Bersamamu merupakan album terakhir mereka saat rekaman di bawah label Purnama.

       Kematangan dalam berolah vokal dan berkarya nampaknya menjadikan album ini sedikit berbeda dengan album-album Koes Plus sebelumnya pada era rekaman Remaco dan awal-awal rekaman di Purnama yang banyak menghasilkan lagu yang bernuansa "jingkrak-jingkrak". Bahkan kalau boleh dikatakan, album ini terkesan " Tonny Koeswoyo banget " karena banyak sekali beliau menyanyikan lagu dalam album ini.

       Coba kita simak lagu Sederhana Bersamamu yang dipilih sebagai lagu pembuka. " aku tak mau, selain kamu...tak banyak belagu, tetap seperti dulu, waktu pertama ku bertemu ". Sebuah ungkapan romantis yang tanpa terasa berlebihan diungkapkan oleh Tonny Koeswoyo pada istrinya. Vokal yang lembut dengan ekspresi tegas, membuat sang kekasih yang mendengar bait demi bait pada lagu ini tidak merasa dituntut untuk melakukan sesuatu dengan terpaksa. Tonny Koeswoyo memang menghendaki sang istri tidak banyak berubah pada penampilan, beliau menginginkan kesederhanaan sebagaimana pertama kali berjumpa beberapa waktu sebelumnya.

       Tembang-tembang beriktunya akan terdengar manis sekali di telinga kita, kita akan dibawa pada suasana yang tenang dan teduh sebagaimana musik pop khas era 1980an. Setidaknya ada lima lagu yang dibawakan oleh Tonny Koeswoyo pada album ini. Kita bisa terhanyut mendengarkan dendang beliau pada : Hati Yang Tulus atau Engkau dan Aku yang merupakan ungkapan ekspresi yang dalam ungkapan cinta pada sang kekasih. Namun ada sebuah lagu yang membuat kita sejenak dibawa bergoyang pada sebuah lagu rancak penuh optimisme yaitu Cobalah. Lagu ini seakan mengingatkan kita pada ciri khas Tonny Koeswoyo yang tidak lengkap kalau tidak bernyanyi irama rock 'n roll. Tetap giras walaupun tidak seganas sebelumnya. Lagu yang lain yang disenandungkan oleh Tonny Koeswoyo yaitu Cintakah Kau Padaku.

        Yon Koeswoyo yang biasanya dominan bernyanyi pada album-album Koes Plus, harus puas hanya menyanyikan tiga lagu saja pada album yang bernuansa biru pada covernya ini. Bukankah Kau Mencintai Tuhan, Temtasi Cinta dan Wanita adalah bagian yang dibawakan oleh Yon Koeswoyo. Khusus lagu Wanita bisa jadi terinspirasi lagu Woman karya John Lennon. Yok Koeswoyo pun hanya kebagian sebuah lagu karya Tonny koeswoyo yang berjudul Pertengkaran Kecil. Adakah sebuah pengalaman pribadi pada lagu ini, masih perlu ditelaah lagi. Sedangkan Murry tidak menyumbangkan suara pada rekaman kali ini

       Sederhana Bersamamu terekspose dengan cover yang terdiri dari keempat personel Koes Plus duduk berempat secara bersusun. Kita melihat sosok personel Koes Plus yang dewasa pada cover album ini. Tonny Koeswoyo dengan gaya rambut berombak dengan kumis yang khas, berbeda dengan sosok Tonny Koeswoyo yang kita kenal pada era 1974 dengan rambut tertata rapi. Sedikit beda dari album Koes Plus era Purnama yang lain, pada album ini side B juga diisi oleh lagu-lagu dari Koes Plus yang diambil dari album-album sebelumnya.

        Sedikit catatan, pada album ini kita merasa kehilangan musik khas Koes Plus yang biasanya disajikan full band. Tidak ada rofelan drum yang lincah dari Murry yang pernah menghiasi telinga kita di album sebelumnya. Bahkan terkesan album ini tidak digarap secara utuh oleh keempat personel. Yon Koeswoyo pun sepertinya hanya terlibat pada proses 'take vocal'. Walaupun pendapat ini masih perlu mendapatkan pencerahan dari pemerhati Koes Plus yang lebih mumpuni. Namun saya tetap beranggapan bahwa album ini tidak se-sederhana judulnya. Sebuah album yang tetap dahsyat dan penuh kenangan di mata penggemar Koes Plus. Bagaimana menurut anda ?

( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus - 085645705091 )