Jumat, 20 Mei 2011

Dokumentasi "Lagu Lan Pitutur Bersama John Koeswoyo "


Pada tanggal 1 Mei 2011 yang lalu, kami Jiwa Nusantara Surabaya mengadakan sebuah even bersejarah, yang bahkan konon merupakan untuk pertama kalinya di Indonesia. Even itu berupa talk show mengupas seputar keberadaan Koes Bersaudara. Yang menjadikan unikdan bersejarah karena kami menghadirkan langsung tokoh di balikberdirinya Koes Bersaudara yang juga personelformasipertama. Beliau adalah John Koeswoyo. Menurut beberapa teman penggemar Koes Plus, belum pernah ada even yang menghadirkan personel tapi khusus untuk bercerita.

Apa yang kami lakukan sebenarnya memenuhi amanat John Koeswoyo supaya ditampilkan di masa tua beliau. Tujuan beliau ingin ditampilkan tak lain adalah supaya masyarakat umum ingat bahwa beliau adalah pendiri Koes Bersaudara. Dengan segala keterbatasan, karena waktu yang sangat singkat. Kami diberi mandat pada 13 Maret 2011 lalu kami menyelenggarakan even tersebut pada 1 Mei 2011, sementara beliau harus sudah kembali ke Jakarta pada tanggal 5 Mei2011. Walau bagaimana pun kami berusaha menyelenggarakan acara ini karena melihat penting sekali dari segi sejarah untuk pelestarian karya Koes Bersaudara.

Berbagai kisah diungkap oleh John Koeswoyo. Mau tahu tentang misteri "Sowa-Sawu"yang sering ditanyakan oleh Tonny pada kakaknya, John Koeswoyo? Kisah logis tentang inspirasi terciptanya lagu Bis Sekolah juga diungkapkan disini. John juga jujur mengenai sumber dana untukmembeli alat-alat musik bagi Tonny dan adik-adiknya waktu itu. Sudah tahu tentang kisah dari lagu Sayur Asem serta Haru Dan Bahagia ? Sudahkah anda mengetahui lagu karya John Koeswoyo yang ternyata ada di album Koes Bersaudara dan Koes Plus ?

Berbagai komunitas penggemar yang hadir juga banyak mengajukan pertanyaan pada John Koeswoyo. Pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman yang hadir waktu itu mewakili kita semua sebagai penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus. Pertanyaan yang "kelas ringan" maupun "kelas berat" hadir di acara ini. Kalau anda merasa belumtahu banyak tentang Koes Bersaudara, vcd dokumentasi ini akan mampu membawa kita mengenal mereka. Kalau anda merasa sebagai seorang yang sudah " tahu banyak" tentang Koes Bersaudara, maka vcd ini akan mampu melengkapi pengetahuan anda tersebut. Semua kita akan dibawa mengenal Koes Bersaudara dan Tonny Koeswoyo secara pribadi dan terbuka melalui kejujuran seorang John Koeswoyo.

Mungkin secara teknis anda akan menilai acara ini banyak kekurangan. Terlalu banyak yang bisa dinilai disini. Sound sistem yang kurang maksimal, acara yang apa adanya saja, properti yang terkesan kurang istimewa, lokasiyang terlalu sempit,atau beberapa dialog terkesan bertele-tele, naif dan seadanya namun kami berusaha memfasilitasi kerinduan penggemar Koes Bersaudara & Koes Plus pada sosok yang mereka kagumi ini.

Dokumentasi vcd ini kami kemas sedemikian rupa menjadi 2 seri dengan harga Rp. 50.000,00 ( untuk 2 seri). Sebagian hasil penjualan akan kami berikan sebagai kontribusi pada John Koeswoyo. Karena dengan cara ini kami dapat membantu beliau di masa tua yang tidakmendapatkan jaminan pensiun. Beliau mengungkapkan ingin tampil sekaligus pamitan, maka kami berusaha memenuhi harapan beliau walaupun sumber daya kami sangat terbatas. Namun ternyata dukungan beberapa komunitas penggemar yang ada di Jawa Timur serta dari Jiwa Nusantara Pusat mampu membangkitkan semangat kami untuk tidak mundur menyelenggarakan even yang penuh sejarah dan makna ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, kami mempersembahkan vcd dokumentasi " Lagu Lan Pitutur Bersama John Koeswoyo" sebagai setitik air di antara lautan pelestarian karya Koes Bersaudara & KoesPlus. Keterbatasan yang ada mohon diterima sebagai sebuah karya manusia yang memang tiada pernah sempurna.

Bila berminat bisa hubungi : Okky T.Rahardjo ( Ketua JN Surabaya--085645705091 )


Selasa, 03 Mei 2011

Liputan Lagu Lan Pitutur Bersama John Koeswoyo

Minggu, 1 Mei 2011 satu per satu penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus mulai berdatangan di salah satu ruko yang terdapat di kawasan kota udang, Sidoarjo. Hari itu Jiwa Nusantara Surabaya mengadakan even yang bersejarah karena untuk pertama kalinya akan diadakan talk show yang mengupas Koes Bersaudara dari sisi salah seorang personel. Saat itu JN Surabaya menghadirkan John Koeswoyo sebagai narasumber utama. Perlu diketahui, beliau memang bukan termasuk personel inti, namun kita tidak bisa melupakan begitu saja bahwa beliau pernah menjadi “ the man behind Koes Bersaudara “ yang sangat penting.

Penggemar Koes Plus saat itu hadir dari beberapa kota antara lain Surabaya, Sidoarjo, Madiun, Tuban, Mojokerto, Solo dan Yogyakarta. Menempati lokasi di double’d music course and studio yang beralamat di Pondok Mutiara K2-C Sidoarjo, acara yang akan dimulai pkl. 10.00 ini sempat tertunda sekitar 1,5 jam karena kendala teknis. Namur hal itu ternyata tidak menyurutkan niat penggemar Koes Plus untuk silaturahmi dengan sesama rekan yang lama tidak berjumpa bahkan dengan John Koeswoyo yang telah lama seakan “hilang dari peredaran”.

Pembawa acara menyampaikan permohonan maaf karena terlambat memulai acara, sehingga harus tertunda beberapa saat. Sebelum memulai rangkaian acara, ketua JN Surabaya memulai dengan mengajak peserta untuk menundukkan kepala bersama guna berdoa untuk kelancaran acara. Selanjutnya, salah seorang pengurus JN Pusat bidang musikalitas yaitu Edy Kuncoro didaulat untuk memberikan kata-kata sambutan mewakili komunitas Jiwa Nusantara.

Acara dibuka dengan penampilan The Bottles yang membuka dengan lagu karya John Koeswoyo yaitu “Kembang Enceng-Enceng” seakan menyiram dahaga penonton yang telah lama menantikan dimulainya acara. Berikutnya Awan Putih, Bis Sekolah dan Surabaya dilantunkan oleh The Bottles yang diikuti komentar oleh John Koeswoyo tentang lagu tersebut. Menariknya, beberapa komentar tentang lagu-lagu tersebut sebagian besar merupakan kisah yang selama ini belum diungkapkan secara umum.

Setelah penampilan The Bottles, ketua JN Surabaya yang sekaligus menjadi pemandu acara memanggil John Koeswoyo maju ke depan untuk memulai tlak show sesi pertama. Dengan didahului penyampaian profil singkat John Koeswoyo, sesi pertama mengenai " John Koeswoyo selaku pendiri Koes Bersaudara " dimulai. Pemandu diskusi memancing pertanyaan pembuka dengan menanyakan mengapa saat itu memiliki ide untuk mendirikan grup musik bukan yang lainnya. John Koeswoyo dengan lugas bercerita bahwa adik-adiknya saat itu sudah tidak karuan, sering keluyuran pulang malam dan berkelahi dengan orang lain. Sekolah mereka pun berantakan. Karena itu supaya ada kegiatan yang lebih terarah dan bisa menghasilkan uang, maka beliau menyarankan kepada Tonny Koeswoyo untuk mendirikan grup musik. Tapi syaratnya, yang main musik harus saudara-saudaranya sendiri tidak boleh memasukkan pemain lain. Tonny Koeswoyo yang memang sangat menggemari musik, akhirnya setuju dan berdirilah Koes Bersaudara yang untuk biaya pembelian alat-alat musik difasilitasi oleh John Koeswoyo selaku kakak tertua.

Setelah menyampaikan jawaban atas pertanyaan pertama, mulai mengalir berbagai pertanyaan dari beberapa peserta yang hadir. Semua pertanyaan dijawab dengan gamblang dan tepat sasaran. Bahkan beliau bercerita seakan kejadian yang dialami masih baru saja terjadi, padahal itu sudah sekitar lima puluh tahun yang lalu, tapi John Koeswoyo mampu mengingat semua kejadian dengan runtut dan jelas. Bahkan dengan sabar, beliau mampu menggiring peserta diskusi untuk mengenang kembali masa-masa manis mendirikan sebuah grup musik yang namanya abadi hingga kini.

Setelah lebih dari setengah jam melakukan tanya jawab, pemandu acara memberi kesempatan untuk istirahat kepada John Koeswoyo. Kesempatan ini diisi oleh beliau untuk memperbaiki gigi yang sempat lepas. Panggung utama pun diisi oleh penampilan band pelestari yaitu Beat Plus yang dipimpin oleh Sutaryono. Mengawali dengan karya John Koeswoyo yaitu Haru Dan Bahagia, Beat Plus mampu membius penonton kembali pada suasana nostalgia. Vokal Sutaryono yang tipis sangat cocok untuk mewakili vokal Yon Koeswoyo. John Koeswoyo pun sempat menguak kisah bahwa beliau sebenarnya pencipta lagu ini beserta segala peristiwa yang mengikutinya. Setelah membawakan lagu Muda Mudi, Beat Plus mendaulat drg. Winaryo selaku pemilik studio musik untuk bernyanyi bersama. Pada kesempatan ini mereka membawakan sebuah lagu baru yang musiknya berasal dari karya John Koeswoyo, yang liriknya digubah oleh drg. Winaryo dan arransemen akhir oleh Beat Plus.

Setelah makan siang dan kuis dengan pertanyaan seputar John Koeswoyo, sesi kedua dimulai. Kali ini mengenai " Mengenang Tonny Koeswoyo ". Sesi ini merupakan diskusi seputar Tonny Koeswoyo melalui sisi seorang kakak kandungnya. Pemandu acara memulai diskusi dengan memperlihatkan sebuah foto Tonny Koeswoyo memainkan gitar yang dijawab oleh John bahwa itu adalah gitar pertama yang dia belikan untuk adik kesayangannya. Tonny sangat senang sekali ketika memainkan gitar tersebut. Sehingga setiap hari tiada pernah berhenti memainkan alat musik berdawai tersebut. Sesi ini kembali dimanfaatkan oleh para penggemar untuk menggali seputar Tonny Koeswoyo untuk mendapatkan informasi yang akurat dari orang terdekatnya ini.

Diskusi berakhir dengan penampilan JINUSS yang dipimpin oleh Budi Santosa, penggemar Koes Plus yang sempat menerbitkan sebuah buku "Terlalu Indah Dilupakan". Sebagaimana band sebelumnya, JINUSS membuka dengan membawakan lagu karya John Koeswoyo yaitu Cinta Mulia. John mengatakan bahwa lagu ini musiknya dibuat oleh Yok, dia yang mengisi lirik syair lagunya. Lebih istimewa karena John Koeswoyo juga ikut menyanyikan langsung lagu yang berirama dangdut ini. Berikutnya Oh Kasihan, Bunga Di Tepi Jalan dan Kau Datang Lagi menjadi pilihan yang dibawakan oleh JINUSS siang itu.

Sebelum acara berakhir, ketua JN Surabaya memberikan kenang-kenangan bagi donatur dan John Koeswoyo selaku narasumber utama. John tampak terharu ketika mendapatkan sebuah kenangan berupa foto dirinya duduk berdampingan dengan adik tercinta, Tonny Koeswoyo. Acara diakhiri dengan seluruh peserta berdiri bersama menyanyikan " Selamat Tinggal" diiringi oleh JINUSS band. Suasana terasa makin haru saat John juga ikut berdiri melambaikan tangan. Lagu ini merupakan tanda usai acara sekaligus John Koeswoyo pamit kepada seluruh penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus, sesuai dengan maksud acara ini diadakan.

Demikian yang dapat kami sampaikan, laporan singkat pertemuan penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus bersama John Koeswoyo. Sengaja kami tidak menampilkan secara lengkap segala pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman yang hadir beserta segala jawaban dari John Koeswoyo karena sebagian menyangkut hal pribadi yang tidak layak ditulis di sini. Selain itu, kami berniat mengedarkan hasil dokumentasi ini yang sebagian hasil penjualan digunakan untuk sedikit membantu kebutuhan bpk. John Koeswoyo dalam mengisi hari tua beliau. Sebagaimana amanat beliau, dalam usia yang sepuh ini beliau ingin ditampilkan supaya orang ingat bahwa beliau adalah pendiri Koes Bersaudara selain itu juga supaya bisa dibantu secara finansial karena beliau dalam masa tua ini tidak memiliki penghasilan. Oleh karena itu dengan segala keterbatasan yang ada, kami mengadakan acara ini dan mudah-mudahan dapat diterima oleh penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus dengan baik.

Kami sadar, acara ini bukan untuk kami mencari keuntungan komersil tapi di balik semua ini akan ada value yang tidak ternilai harganya. Sebuah memora bilia dari seorang yang ikut melahirkan sebuah grup musik populer di negara Indonesia tercinta. Sebuah lagu baru dinyanyikan John Koeswoyo menjadi penanda bahwa beliau adalah seorang seniman yang peka akan kondisi negara dan bangsa ini.

Adapun dokumentasi yang akan kami edarkan berupa vcd yang masih kami proses dan akan kami kabarkan bila segala sesuatu sudah tersedia dengan baik. Terima kasih tak terhingga kepada berbagai pihak terkait yang mendukung pelaksanaan acara ini :

1. Segenap donatur

2. Ketua dan jajaran pengurus Jiwa Nusantara Pusat atas doa restunya

3. Seluruh band pelestari pendukung ( The Bottles, Beat Plus, JINUSS )

4. Drg. Winaryo dan double' d course music and studio

5. Practica sound sistem

6. Herdon profesional videography

7. Seluruh perwakilan komunitas penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus yang hadir ( KPFS Solo, JKPC Jogjakarta, FKPR Tuban, JN Mojokerto, Komunitas Koes Plus Kota Madiun )

8. Serta seluruh peserta dan berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.


keterangan gambar :

1. John Koeswoyo saat membuka diskusi

2. The Bottles saat membuka penampilan

3. John Koeswoyo saat menjawab pertanyaan peserta diskusi

4. Drg. Winaryo menyanyikan lagu baru karya John Koeswoyo diiringi Beat Plus

5. Salah seorang utusan JKPC Jogja saat diskusi dengan John Koeswoyo

6. JINUSS band tampil sebagai band penutup














Rabu, 13 April 2011

Reuni Koes Bersaudara, Kisah Yang Tak Terlupakan


Senin, 11 April 2001. tepat pkl. 21.00, pembawa acara menyampaikan bahwa saat itu giliran Koes Plus yang akan tampil di hadapan pengunjung THR Sriwedari. Diiringi sambutan tepuk tangan yang meriah, seluruh personel Koes Plus Pembaruan hadir. Yon Koeswoyo, Danang, Soni dan Seno tampak siap habis-habisan menghibur penggemar yang sudah berkumpul sejak dua jam sebelumnya.

Yon Koeswoyo memulai dengan memberikan pengantar yang mengungkapkan kegembiraan dan keterkejutannya malam itu. Bisa dikatakan bahwa malam itu sangat istimewa bagi beliau, karena kakak dan adiknya yaitu Nomo dan Yok Koeswoyo juga ikut hadir memeriahkan acara. Yon berkata pada penonton “ semua harus ikut bernyanyi dan bergembira…kalau menyanyi semua berarti lagunya yang gampang saja, tadi kakak saya nyanyi lagu baru jadi susah ditiruin…kalau nyanyi yang sudah dikenal nyanyi kabeh…”.

Setelah cek sejenak segala perlengkapan suara dan peralatan musik, mulailah Koes Plus menampilkan lagu pembuka “ Manis Dan Sayang”. Tembang berikutnya dilanjutkan dengan menggebr lagu-lagu jawa yaitu “ E-O-E “ dan “ Yo Ben”. Setelah itu Yon sempat menawarkan request pada penonton, tapi banyak yang minta lagu yang aneh-aneh Yon berusaha menengahi dengan membawakan “Layang-Layang” supaya mudah diikuti.

Uniknya, setelah lagu Layang-Layang sebenarnya pembawa acara sempat memotong untuk jeda sejenak, tapi Yon minta tambahan satu lagu lagi yaitu Nusantara medley.

Barisan depan penonton sempat berteriak minta dibawakan lagu “Kembali”. Tapi Yon mengatakan kalau nanti lagu itu akan dibawakan bertiga jadi disimpan dulu. Setelah menggelar empat lagu berturut-turut, Yon mengatakan pada penonton kalau Yok Koeswoyo akan mengisi panggung untuk bernyanyi bersama-sama.

Yok Koeswoyo mengawali dengan menyapa penonton “ kepethuk maneh…mau ijenan saiki karo mas ku…”. Selanjutnya Yon menawarkan “ dik Yok, lagu iki taun 60an, gelem ora…” yang dijawab “ aku melu wae…”. Selanjutnya meluncurlah lagu “ Bis Sekolah” yang fenomenal. Usai lagu pertama, Yon sempat mengatakan “lagu berikutnya Pelangi…” tapi ditolak oleh Yok “ bengi-bengi ga ono Pelangi…”. Yon kembali berujar “ anda akan terkejut dengan lagu ini…”. Meluncurlah Pagi Yang Indah dari duet legendaris itu.

Setelah dua lagu dibawakan dengan baik, Yon berkata “ jangan turun dulu..nyanyi lagi…sing penting rukun, nyanyi ora nyanyi pokoe rukun…”. Dibalas oleh Yok “ kumpul ora kumpul pokoe mangan….”. Tak lama, meluncurlah Oh Kau Tahu sebagai tembang berikutnya. Memang kedua musisi legendaries ini benar-benar mampu mengobati kerinduan penggemar. Mereka berdua tampil sangat santai dan penuh canda. Membuat suasana malam itu makin terasa akrab. Yok mengakhiri penampilan dengan “ wis yo… mengko tampil maneh…”.

Panggung terus berlanjut dengan dihiasi lagu-lagu dari Koes Plus yang sudah tidak asing di kalangan penggemar. Yon menyuarakan “ Tangis Di Hatiku, Kemari, jangan Memaksakan Diri, Rahasia Hatiku, Andaikan Kau Datang dan Untukmu”. Yon beberapa kali berdiskusi dengan penonton sebelum menyanyikan lagu. Sempat juga saat akan menyanyikan Kisah Sedih Di Hari Minggu, penonton menawarkan lagu lain jadi lagu tersebut urung dibawakan.

Saat malam makin panas, Yon Koeswoyo memanggil Nomo dan Yok Koeswoyo untuk bernyanyi di atas panggung. Tapi sebelum mereka bertiga tampil, pembawa acara mendaulat Bens Leo seorang pengamat musik yang hadir untuk memberikan sambutan. Bens Leo tampil dengan didampingi beberapa pengurus KPFS Solo.

Bens Leo dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa walikota Solo tidak dapat hadir karena sedang sakit. Sekaligus juga beliau menyampaikan bahwa mudah-mudahan dalam waktu dekat album baru Koes Bersaudara segera dirilis.

Yon, Nomo dan Yok selanjutnya melantunkan lagu Kembali dengan suasana yang akrab dan penuh nostalgia. Terasa mengharukan sekali dan pengunjung yang hadir seakan menjadi saksi sejarah peristiwa yang langka itu. Berikutnya Tul jaenak dinyanyikan oleh Yok Koeswoyo. Usai lagu itu, Yok berkata “ wis yo… kowe ngono insane panggung, ora nyambut gawe. Tapi sing liyane sesok ngantor. Mengko telat, sing disalahno awake dewe…”. Tapi Yon tetap melanjutkan dengan menyanyikan Til Kontal Kantil. Duet manis Yon dan Yok kembali ditampilkan lewat lagu Rindu ( Dam Da Ra Ra Ram ) dan Dara Manisku.

Setelah Yok turun dari panggung, kembali lagu-lagu Koes Plus mengalun tanpa henti dibawakan oleh Yon Koeswoyo. Secara bertubi-tubi meluncurlah Tiba-Tiba Ku Menangis, Rata-Rata, Why Do You Love Me, Kr. Pertemuan, Tua Muda dan Oh Kasihan.

Senandung malam itu diakhiri dengan lagu Kapan-Kapan yang dibawakan oleh trio legendaris Koes Bersaudara. Sesaat setelah tembang terakhir, penonton seakan tak percaya bahwa acara telah usai. Semua terharu dengan adanya pertemuan tiga legendaries musik Indonesia itu.

Pengunjung yang memadati THR Sriwedari Solo malam itu benar-benar luar biasa antusias. Sekitar tujuh ribu penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus hadir memadati lokasi acara yang terletak di jantung kota bengawan itu. Bukan hanya warga sekitar tapi juga berbagai perwakilan fans club hadir saat itu. Selain Solo, juga hadir antara lain dari Yogyakarta, Semarang, Tuban, Malang, Jakarta, Cimahi, Klaten, Surabaya bahkan Medan. Malam itu menjadi ajang pertemuan yang menyatukan berbagai penggemar yang lama tidak berjumpa.

Demikian yang dapat kami laporkan. Mohon maaf kami tidak sempat menyampaikan laporan saat penampilan Yok dan Nomo secara tersendiri, karena saat itu tim JN Surabaya masih dalam perjalanan menuju lokasi.


( Okky T. Rahardjo, ketua JN Surabaya—085645705091 )

Sabtu, 26 Maret 2011

Tonny Koeswoyo, Yang Telah Pergi Namun Tetap Abadi


Beberapa hari menjelang berakhirnya bulan Maret 1987, keluarga besar Koeswoyo sedang resah, gelisah dan seakan menanti yang tak pasti akan datangnya sebuah jawaban. Saat itu salah seorang anggota keluarga mereka yaitu Koestono yang kita kenal dengan nama Tonny Koeswoyo sedang tergolek lemah tiada berdaya di salah satu kamar RS Setia Mitra Jakarta Selatan.
Sudah sekitar dua bulan Tonny Koeswoyo dirawat di rumah sakit ini namun tiada perkembangan yang berarti bagi kesehatan musisi senior asal Tuban tersebut. Penyakit kanker usus yang dia derita sejak sekitar dua tahun terpaksa menahan kelincahan aktivitas dirinya dalam bermusik. Pada 22 Desember 1986, Tonny Koeswoyo sebenarnya pernah mengalami operasi di RS Fatmawati. Operasi itu dilakukan karena menurut dokter, terjadi penyempitan pada bagian anus. Namun hal ini pun tak juga membuat kondisi kesehatan Tonny Koeswoyo stabil. Sempat sedikit membaik, namun selanjutnya terus menurun.
Penyakit kanker usus yang diderita Tonny Koeswoyo bukan penyakit yang saat diderita langsung menjadi parah, namun karena pencegahan yang sangat terlambat membuat penyakit ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi penderitanya. Sebelum akhirnya menjalani operasi, Tonny Koeswoyo termasuk yang sangat sulit bila diajak menjalani perawatan medis. Tonny lebih memilih pengobatan yang bersifat tradisional atau yang saat ini dikenal dengan cara alternatif. Walaupun saat itu Nomo Koeswoyo, adiknya sempat menawarkan untuk membiayai pengobatan Tonny bila bersedia menjalani perawatan medis.
Saat itu Tonny sempat melakukan ikhtiar pada salah seorang pemuka agama, yaitu James Willy seorang pastor dari Amerika. Apabila setelah didoakan secara Katolik kondisi kesehatannya makin membaik, maka dia bersedia memeluk agama Katolik. Namun kondisi kesehatan Tonny tidak kunjung membaik, walaupun setiap hari Pastor Willy ini dating membezuk bersama rekan-rekannya. Tentu bukan semata karena doa sang Pastor yang tidak berhasil, namun semua kembali pada kehendak Tuhan Yang maha Kuasa di atas segalanya. Bahkan orang-orang terdekatnya pun paham, bahwa Tonny Koeswoyo adalah seseorang yang menomor satukan musik bahkan melebihi keluarga dan agama yang dia yakini. Sekalipun dia sendiri juga terbuka mempelajari semua agama.
Tonny tidak pernah benar-benar merasakan penyakit yang dideritanya itu sebagai suatu beban yang berat. Dia lebih suka menahan dengan senyuman dari pada menunjukkan wajah murung dan tak bersemangat. Sembari dia terus mencari alternatif pengobatan melalui beberapa orang. Namun semua tidak kunjung membuat kondisi kesehatannya makin membaik. Namun semua menjadi terlambat untuk disadari, ketika tubuhnya makin kurus dan setiap apa yang dia makan selalu keluar lagi. Kesehatan Tonny Koeswoyo makin menurun. Bahkan untuk duduk pun dia sudah mengalami kesulitan. Seakan ada semacam bisul pada bagian pantat yang menjadi tidak nyaman bila dibuat duduk.
Penyakit yang dialami Tonny Koeswoyo ini serupa dengan apa yang diserita oleh Idris Sardi, pemain biola terkenal. Namun idris sardi lebih dulu tanggap dalam pencegahan sehingga saat itu langsung berobat ke Singapura. Tonny Koeswoyo tidak menyadari kondisi kesehatan tubuhnya, sehingga tanpa diduga sudah mencapai stadium empat. Sesuatu hal yang terlambat untuk diadakan penyembuhan secara maksimal.
Semua berawal pada September 1985, saat itu diketahui bahwa Tonny menderita tumor kecil. Tak sekali pun dia mau dibawa ke dokter untuk menjalani pengobatan medis. Dia lebih mempercayakan kesehatan tubuhnya pada ramuan obat-obatan yang didapatnya dari seorang sahabat dari Jawa Tengah. Sejak kondisi kesehatan suaminya makin menurun, Karen Julie bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris pada sebuah TK Internasional di Pondok Indah Jakarta. Hal itu dilakukan untuk mencari biaya hidup keluarganya. Karena praktis tidak ada pemasukan yang ebrarti sejak Tonny Koeswoyo mengalami sakit. Bahkan untuk mebiayai perawatannya pun beberapa sahabat sesame artis sempat memberikan batuan dana. Diantaranya Edy Sud, koordiantor artis Safari yang sempat memberikan sumbangan sebanyak Rp 2,5 juta.
Saat menjalani perawatan di RS Setia Mitra, ketika penyakit yang diderita makin parah, hasrat sebagai seorang musisi tidak sedikit pun berkurang. Dengan dibantu oleh Onny Suryono, kawan akrabnya yang membantu memegang gitar saat Tonny menemukan ide sebuah lagu. Terciptalah beberapa lagu yang terasa seakan merupakan warisan terakhir Tonny Koeswoyo sebagai seorang musisi. Cakrawala Hati, Dewi Sri, Nenek Sayang dan Wit Gedhang seakan menjadi saksi sisa-sisa kedahsyatan seorang musisi yang merupakan revolusioner musik pop Indonesia.
Kurus kering dan tergolek lemah tak berdaya. Itulah yang menjadi gambaran keberadaan Tonny Koeswoyo saat dirawat di rumah sakit. Bahkan sering kali gumpalan darah mengucur dari tubuhnya sampai berliter-liter, sampai harus diwadahi oleh timba yang diletakkan di bawah ranjang. Saat itu dokter yang merawat sampai mengatakan supaya lebih baik “ diselesaikan dengan cepat”. Tentu bukan bermaksud untuk mengakhiri hidup, tapi pada kenyataannya dokter hanya mampu menahan sampai beberapa waktu saja usia hidup Tonny Koeswoyo. John Koeswoyo, kakaknya sempat berkata “ Kami sudah ikhlas Ton, bila sampai terjadi sesuatu….”.
Chicha Koeswoyo beberapa hari sebelumnya sempat mendapatkan firasat kalau Tonny Koeswoyo, oom yang dia sayangi menemui dia dalam mimpi. Saat itu dia sedang studi di luar negeri. Dia tidak tahu kalau kondisi Tonny sudah begitu parah, akhirnya memutuskan untuk pulang ke Jakarta. John Koeswoyo pun juga seakan mengalami pertanda yang aneh saat dalam mimpinya menjumpai Tonny dalam balutan jubah putih berkata “ Tidak usah kuatir, aku sudah menyiapkan tempat bagimu…”.
Seakan menanti datangnya hari-H yang tiada pasti. Kekhawatiran itu terjadi juga. Jumat malam, Tonny yang semula tertidur pulas tiba-tiba terbangun. Dia memandang wajah Karen, istrinya dan Kenny, anaknya tertua. Seakan ada yang ingin dikatakan, tapi suaranya tidak terdengar. Hanya sebuah tarikan nafas panjang. Ternyata, adalah nafas yang terakhir. Selanjutnya Tonny Koeswoyo menutup matanya untuk selama-lamanya. Pada 27 Maret 1987 pkl. 22.30 WIB seorang musisi legendaris meninggalkan dunia untuk selamanya.
Tonny Koeswoyo meninggal dalam kesunyian. Tiada kabar berita yang riuh rendah. Memang sempat mengejutkan penggemarnya saat menyaksikan kabar itu pada siaran Berita Nusantara TVRI keesokan harinya pkl. 17.00 WIB. Tidak banyak surat kabar yang memberitakan kepergian sang maestro musik pop Indonesia. Suatu kejadian tragis sempat mengiringi kepergian beliau. Konon, saat usai menghadiri pemakaman Tonny Koeswoyo, seorang penggemar terlihat sangat terpukul sekali. Hingga tanpa diduga dia menabrakkan dirinya pada sebuah mobil yang sedang melaju kencang sehingga mengakibatkan dia menyusul ke alam baka.
Tiada warisan harta yang melimpah. Alat musik yang tersisa pun hanya sebuah gitar akusitik hitam, yang saat ini konon senarnya sudah putus. Hanya sebuah nama besar yang akan kita kenang untuk selamanya. Sebuah nama dan berbagai karya abadi yang melebihi harta benda dan ribuan penghargaan sekalipun.
Hari ini telah dua puluh empat tahun Tonny Koeswoyo meninggalkan kita. Tapi karya dan semangatnya tak sekalipun akan meninggalkan kita sedetik pun. Selamat jalan Tonny Koeswoyo. Kami penggemarmu akan selalu merindukanmu.

( Okky T. Rahardjo, JN Surabaya – 085645705091 )

Rabu, 16 Maret 2011

John Koeswoyo, Semangat Yang Tak Pernah Padam


Minggu pagi, 13 Maret 2011 menjelang pkl. 08.00 saya mendapatkan telepon yang mengejutkan. Saat saya lihat di layer HP ternyata yang menelepon adalah bpk. John Koeswoyo. Saat itu beliau menanyakan kabar setelah lama tidak bertemu. Bahkan yang sedikit surprise bagi saya adalah beliau mengatakan “ Saya ingin menyanyikan Tuhan Adalah Gembalaku bersama mas Okky…”. Segera saya responi, “ Monggo, pak…” Selanjutnya baris demi baris lagu tersebut kami dendangkan bersama. Namun tak lama saya mengatakan kalau nanti siang saya menemui beliau saja di rumah.


Sepulang dari gereja, segera saya menghubungi teman-teman anggota JN Surabaya untuk berjanji menemui bpk. John Koeswoyo yang ternyata sudah seminggu ini berada di Surabaya. Siang itu pkl. 13.30 WIB, kami berempat. Yaitu Sam Sugeng, Koesyanto, Juliadi dan saya bersama-sama menemui John Koeswoyo, sulung dari Koeswoyo bersaudara di kediaman putrid beliau di daerah Jemur Sari.


Suasana pertemuan diawali dengan perbincangan yang hangat seputar kehidupan Koeswoyo bersaudara. Sebagaimana layaknya bila kita berjumpa dengan personel Koes Bersaudara atau Koes Plus, kisah pribadi seputar keluarga mereka merupakan topic menarik untuk didengarkan. John Koeswoyo yang adalah kakak dari Tonny Koeswoyo saat itu juga menyampaikan banyak wejangan yang bersifat membangun. Sebagaimana layaknya orang tua kepada anak atau cucunya. Wejangan itu seputar falsafah kehidupan dari seseorang yang sudah mengalami banyak asam garam kehidupan.


Saat perbincangan sudah makin akrab dan hangat, John Koeswoyo mengutarakan keinginan hati beliau yang saat ini mengendap. Dalam usia yang sudah semakin senja ini, John Koeswoyo ingin dimunculkan kembali ke hadapan umum. Bahkan maksud kemunculan beliau ini bukan untuk mencari popularitas. Beliau ingin kemunculan beliau ini adalah sekaligus pamitan dari masyarakat umum, terutama penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus.


John Koeswoyo merasa usia sudah sepuh, tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil pulang. Karena itu melalui kemunculan ini, beliau ingin mengingatkan lagi pada penggemar musik sekalian bahwa John Koeswoyo merupakan pendiri Koes Bersaudara. Selain itu, dalam usia yang menurut beliau sudah mendekati puncak ini, beliau ingin menyampaikan banyak petuah, wejangan dan nasehat khususnya untuk generasi muda dalam menjalani kehidupan di dunia ini.


Tidak ada ambisi untuk menjadi terkenal. Populer. Tidak pula terbersit untuk mencari keuntungan materi yang besar. John Koeswoyo ingin mengajarkan tanpa terkesan menggurui bagaimana menjadi seorang yang hidup dengan santun di tengah dunia yang semakin hedonis dan individualis ini. Hal itulah yang kami tangkap dari sosok seorang John Koeswoyo yang saat ini berusia 78 tahun.


Beberapa kali John Koeswoyo menyampaikan maksud hatinya tersebut kepada kami. Sebuah harapan yang kami tangkap adalah beliau ingin kami mau membantu mewujudkannya. Tanpa banyak ucap dan kata, kami segera meresponi kerinduan hati beliau. John Koeswoyo sangat senang dan gembira sekali mengetahui kami begitu antusias menyambut kerinduan hati beliau. Saya menyampaikan janji dalam waktu dekat akan segera sowan lagi dengan konsep yang lebih matang. Sebelum berpamitan pulang, kami sempat berfoto untuk kenang-kenangan. Perjalanan pulang, kepala kami dipenuhi dengan banyak gagasan dan rencana untuk mewujudkan keinginan hati John Koeswoyo, seorang yang pernah menjadi tokoh utama di balik munculnya grup musik legendaries Indonesia.

Dalam perjalanan pulang, kami berempat sempat berhenti di sebuah pos satpam untuk berunding sejenak. Kami mulai menyusun rencana awal untuk membuat sebuah live show dengan penampilan band pelestari yang menyanyikan lagu-lagu karya John Koeswoyo. Setiap jeda lagu, akan diisi dengan diskusi antara penonton dengan John Koeswoyo sebagai narasumber utama.

Singkat cerita, pertemuan hari minggu kami lanjutkan dengan pertemuan selanjutnya pada hari selasa, 15 Mei 2011. sore hari selepas dinas, saya bersama Sam Sugeng dan Herry Purwanto menemui John Koeswoyo yang sedang santai selepas istirahat siang. Pertemuan berlangsung cair dan penuh keakraban karena diawali dengan bernyanyi bersama. Lebih terasa akrab, karena John Koeswoyo memainkan ukulele yang juga diikuti oleh Herry Purwanto, anggota JN Surabaya memainkan sebuah gitar akusitk yang dipinjami oleh pak John. Kebanyakan yang kami mainkan saat itu adalah lagu-lagu kuno terutama lagu Belanda yang masih diingat oleh John saat masih muda. Lagu yang akrab di telinga kami yaitu Nasi Goreng dalam bahasa Belanda juga dapat dimainkan tanpa hafal dengan jelas liriknya.

Sore itu, saya menyampaikan kepada beliau konsep acara yang sudah kami rancang. Terutama mengenai band pelestari yang akan siap mendukung menyanyikan lagu-lagu karya John Koeswoyo. Pihak yang akan merekam acara pun juga siap. Termasuk juga rencana lokasi acara live show. Walaupun sederhana tapi kami mencoba segera meresponi apa yang menjadi pemikiran John Koeswoyo.

Saat itu jujur kami katakan, dana belum tersedia. Kebutuhan yang harus kami sediakan banyak. Sementara di depan kami terbentang suatu ‘proyek yang mulia’. Kami sebut demikian karena hal ini bisa jadi merupakan dokumentasi dari salah seorang pelaku musik munculnya Koes Berrsaudara, band legendaris yang besar dari sebuah keluarga yang sederhana. Karena hal itu maka yang bias kami lakukan adalah terus saja berjalan. Apalagi mumpung beliau masih berada di Surabaya dalam beberapa waktu ini.

Tidak ada maksud mulia tanpa kendala. Tapi seberapa pun kendala itu, maksud yang diawali dengan hati tulus akan berjalan dengan baik dan tidak ada kendala satu pun yang berhak membatalkan segalanya. Tanpa bermaksud membuat saingan atau tandingan dengan rekan-rekan dari kota lain, ijinkan kami menyelenggarakan suatu live show yang menampilkan seorang John Koeswoyo dalam karya lagu dan tutur kata yang membangun jiwa manusia menjadi lebih beradab.

Doa tulus serta dukungan dalam berbagai bentuk dari rekan-rekan semua tentu akan sangat kami hargai demi terselenggaranya even ini. Sebuah even yang kami persembahkan sebagai apresiasi kami terhadap keluarga Koeswoyo dan penggemar musik Koes Bersaudara & Koes Plus.

Selanjutnya, nantikan langkah kami berikutnya yang masih menyusun strategi dalam even yang kami rencanakan terselenggara bulan depan. Mendesak dan sangat mendadak. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bila dikerjakan dengan motivasi hati yang benar.

Salam hormat dari kami, Jiwa Nusantara Surabaya ( Okky T. Rahardjo a/n penyelenggara live show “ Lagu lan Pitutur John Koeswoyo” ) c.p 085645705091.


Keterangan gambar : 1. John Koeswoyo pose bersama Okky.
2. John Koeswoyo pose bersama Sam Sugeng dan putrinya.
3. John Koeswoyo pose dengan kacamata hitam
4. John Koeswoyo bermain gitar bersama Herry Purwanto
5. John Koeswoyo menuliskan gagasannya pada selembar kertas






































Kamis, 20 Januari 2011

Nomo Koeswoyo, hatinya lebih lembut dari sutera








Apa yang ada di benak kita ketika mendengar nama Nomo Koeswoyo ? Apakah tentang Koes Bersaudara, No Koes, atau Chicha ? Apapun yang kita ingat tentang beliau rasanya tidak berlebihan bila kita menempatkan Nomo Koeswoyo sebagai salah seorang emas industri musik Indonesia. Peran serta beliau tidak kecil dalam memajukan dunia musik pop Indonesia.

Tangan dingin Nomo Koeswoyo mampu melahirkan banyak musisi yang berikutnya menjadi populer. Tersebutlah nama Kembar Group, Franky Sahilatua, Usman Bersaudara, Doel Kamdi, Dedelan Group, Enny Haryono, bahkan Rhoma Irama. Mungkin Nomo tidak secara langsung membuat mereka terkenal, namun atas kesempatan yang beliau berikan mereka semua bisa dengan mulus melaju di belantika musik Indonesia. Sampai saat ini pun beliau masih tidak berhenti untuk menjadi orang di balik layar pada beberapa musisi era sekarang.

Suatu kali di rumah beliau yang terletak di kota Magelang, seorang pengamen datang sambil memainkan gitar menyanyikan lagu-lagu Jawa. Nomo Koeswoyo memanggil pengamen itu dan mengajaknya duduk sambil diberi minum. Pengamen itu mengaku kalau dia lelah berjalan keliling dari rumah ke rumah, bahkan sejak pagi dia belum makan. Nomo dengan tekun mendengarkan berbagai keluhan dari pengamen yang baru dikenalnya beberapa menit sebelumnya itu. Singkat cerita, atas berbagai dorongan dan dukungan seorang Nomo Koeswoyo pengamen tersebut akhirnya sukses masuk ke dapur rekaman untuk mempopulerkan lagu-lagu campur sari. Hari ini pengamen itu dikenal dengan nama Sonny Joss.

Itulah Nomo Koeswoyo. Sosok yang pada dasawarsa 1970an dikenal sebagai pribadi yang penuh kontroversi, sensasi dan tanpa basa-basi. Siapa produser rekaman yang tidak takut dengan berbagai “ provokasi “ yang beliau tebar melalui berbagai media cetak. Namun semua itu sebenarnya tidak lebih dari upaya seorang Nomo Koeswoyo untuk mempertahankan eksistensi diri. Tidak ada yang salah, walaupun mungkin juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.

Dalam suatu perjumpaan pribadi pertengahan tahun lalu, Nomo Koeswoyo yang rambutnya kini ‘ditumbuhi perak’ berkata “ Saya memang kelihatannya keras, tapi hati saya sebenarnya lembut. Bahkan lebih lembut dari sutera…” Mungkin sebagian orang yang mengalami masa-masa hilir mudik beliau di belantika musik Indonesia tidak akan percaya dengan pernyataan tadi. Yang diketahui ya Nomo Koeswoyo itu orangnya keras dan bahkan cenderung preman ( crossboy). Tapi begitu banyak orang-orang yang lemah dan tak berdaya mengalami pertolongan beliau. Mereka ini yang berani mengalami kelembutan hati seorang Nomo Koeswoyo.

Suatu kali ada seorang yang menuntun sepeda motor melintasi depan rumahnya yang terletak di jalan raya kota Magelang. Saat itu hampir jam sepuluh malam. Orang itu terlihat kelelahan dan pasrah duduk di tepi jalan. Nomo Koeswoyo lantas menyuruh sopirnya untuk menyuruh orang itu masuk. Ternyata diketahui dia sedang kehabisan bensin dan kesulitan mencari penjual bensin. Perlu diketahui, di kota seperti Magelang jam sembilan malam kehidupan sudah mulai mundur, sehingga mencari penjual bensin pun adalah sebuah kesulitan tersendiri. Tanpa banyak waktu, Nomo menyuruh si sopir untuk mencarikan bensin bagi orang ini. Sementara penuntun sepeda motor ini dijamu oleh tuan rumah untuk makan malam sekedar memulihkan tenaga.

Saat Nomo Koeswoyo meninggalkan perusahaan rekaman Yukawi pun banyak orang yang merasa kehilangan. Salah satunya adalah tukang sapu yang biasa membukakan pintu bila boss Nomo datang. Nomo dikenal sangat perhatian pada ‘orang-orang kecil’ yang sering kali dilupakan oleh artis-artis yang rekaman di Yukawi. Memang mereka sudah mendapatkan gaji setiap bulannya, namun Nomo Koeswoyo sering kali memberikan bonus lebih sebagai ungkapan terima kasih beliau.

Banyak orang dan media memiliki anggapan bahwa Nomo dan Tonny Koeswoyo bermusuhan. Sama sekali salah ! Nomo merasa bahwa tanpa rekomendasi Tonny dia tidak mungkin bisa menangani Yukawi. Bahkan saat Tonny Koeswoyo dalam keadaan sakit parah, beliau juga yang menanggung sebagian besar biayanya. Walaupun bagi Nomo, Tonny Koeswoyo adalah Hittler tapi dia juga adalah seorang pahlawan yang sangat besar jasanya.

Sampai hari ini yang kita ingat dari Nomo melalui karyanya adalah seorang yang bersuara tegas dan mantap, mendendangkan lagu Rindu yang diaransemen dengan baik oleh Pompy. Sebuah lagu yang fenomenal yaitu Layar Tancap juga membuat ingatan kita segera tertambat pada beliau. Anak-anak kecil hanya mengenal lagu Helly tapi tak banyak yang tahu bahwa Nomo Koeswoyo adalah penciptanya.

Salah satu perubahan revolusioner yang dilakukannya menurut saya adalah ide nya yang melampaui batas dengan memberi teks lagu pada setiap kaset yang diedarkan oleh Yukawi. Hal ini berlanjut pada saat beliau bergabung dengan Koes Bersaudara edisi kedua. Saat itu Remaco tidak pernah memberi teks lagu pada kaset yang diproduksi, bahkan pada album Koes Plus sekalipun. Tapi saat Nomo masuk dalam formasi Koes Bersaudara, Remaco harus membuat tradisi baru dengan memberikan teks lagu. Hal ini dapat kita lihat pada album : Kembali, Semua Sama, Pop Jawa “Bunder-Bunder “ dan Pop Keroncong “Baju Merah “.

Kerinduan terbesar di hatinya saat ini adalah dapat bernyanyi lagi bersama adik-adiknya. Bahkan kalau perlu membangun lagi kompleks Koes Bersaudara di rumahnya yang memiliki tanah yang sangat luas di kota kecil Magelang.

Hari ini ketika usia beliau sudah memasuki angka tujuh puluh tiga, apakah yang kita kenang dari seorang Nomo Koeswoyo ?

“ Bilakah kau kembali, bernyanyi bersama lagi ….. “












































Selasa, 18 Januari 2011

Bagi Saya, dia adalah Pahlawan












Tonny Koeswoyo merupakan anugerah bagi musik Indonesia. Bisa dikatakan bahwa gebyarnya dunia musik pop Indonesia saat ini tak terlepas dari peran seorang Tonny Koeswoyo. Seorang pahlawan sering muncul tanpa diduga dan bahkan cenderung ditolak pada awal kemunculannya. Kita ingat ketika pada pertengahan 1965, Tonny Koeswoyo melalui ‘eksperimen musiknya’ yang cenderung melawan arus pada akhirnya harus mendekam dalam penjara selama tiga bulan bersama adik-adiknya. Saat itu seluruh tokoh dan media menghujat Koes Bersaudara pimpinan Tonny Koeswoyo dan seakan menganggap bahwa mereka adalah ‘manusia terkutuk’ di bumi Indonesia. Mengapa demikian, karena berani menentang kebijakan seni yang diterapkan oleh pemerintah saat itu. Walaupun sebenarnya penahanan itu tidak memliki alas an yang kuat. Seorang pahlawan harus rela mengalami penolakan pada awal masa perjuangannya.

Pada era awal terbentuknya Koes Plus, Tonny Koeswoyo berani menjadi inspirasi bagi anak-anak muda pada masa itu. Saat diadakan jambore musik Indonesia, ketika kran kebebasan bereskpresi dalam seni mulai dibuka lebih lebar, Koes Plus berani mengambil sikap untuk tetap berkreasi yang bercita rasa Indonesia. Saat itu beberapa grup musik tampil dengan lagu-lagu karya musisi luar negeri dengan segala atribut dan tingkah yang menghentak-hentak, Tonny Koeswoyuo bersama grup musik yang dipimpinnya mengambil langkah dengan mendendangkan “Manis Dan Sayang”serta “Derita”. Saat itu tepuk tangan bergemuruh yang menandai munculnya idola baru dalam musik Indonesia. Tonny Koeswoyo berani mengambil langkah yang berbeda namun menuai hasil yang luar biasa. Seorang pahlawan harus berani mengambil resiko dalam perjuangan hidupnya.

Pada dekade 1970an, musik Koes Plus meraja lela menghiasi udara musik Indonesia. Bahkan pada tahun 1974 sebuah prestasi dicatat dengan menghasilkan dua puluh dua album dalam kurun waktu satu tahun. Saat itu banyak musisi dan pengamat musik yang menganggap bahwa musik Koes Plus itu menggunakan tiga jurus. Gampangan. Bahkan kacang gorengan. Tapi kritik itu tidak melemahkan seorang Tonny Koeswoyo. Dia terus melaju dan tak henti melahirkan karya yang fenomenal sampai saat ini. Terbukti, segala usaha yang dilakukannya berhasil. Seorang pahlawan harus rela mengalami disalah mengerti dalam menempuh perjuangannya.

Kalau mau jujur diakui, sebenarnya blantika musik Indonesia tidak jauh berbeda dengan saat ini. Hanya yang berbeda masalah teknologi saja. Siapa anak-anak muda yang suka dengan lagu-lagu daerah ? Siapa anak-anak muda yang suka dengan musik keroncong yang mendayu-dayu ? Hanya orang di kampung-kampung kecil yang mau berjoged mengikuti musik irama dangdut. Tapi Tonny Koeswoyo melalui karya-karya yang tak pernah kenal lelah mampu membawa terobosan yang hingga saat ini belum ada yang bias menandingi. Melalui inisiatif musiknya yang cemerlang, lahirlah Pop Jawa yang notabene merupakan musik pop dengan menggunakan bahasa daerah. Pop Keroncong pun dihasilkan untuk menumbuhkan rasa cinta anak-anak muda Indonesia pada musik khas negeri sendiri dengan sentuhan modern. Koes Plus pula yang membuat musik dangdut mampu diterima oleh semua kalangan melalui album Pop Melayu. Grup musik mana yang mampu membuat album dengan pesan moral yang kuat menembus lintas agama selain Koes Plus, melalui album Qasidahan dan Natal Bersama Koes Plus. Semua tk lepas dari peran seorang Tonny Koeswoyo. Seorang pahlawan harus mau dan mampu menjadi inspirator dan motivator bagi generasi yang ada saat itu serta generasi mendatang.

Setelah segala karya dihasilkan dengan sempurna beserta pasang-surutnya, Tonny Koeswoyo yang dilahirkan pada tanggal ini tujuh puluh lima tahun yang lalu harus mengakui kekuasaan Pahlawan yang lebih Agung. Yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam menurunnya perhatian masyarakat pnikmat musik Indonesia pada dirinya, Tonny Koeswoyo meninggalkan kita semua dua puluh empat tahun yang lalu. Sunyi. Sepi. Tak ada gejolak. Tak ada riuh rendah pemberitaan pers. Tonny Koeswoyo menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan kedukaan bagi dunia musik Indonesia. Duka yang tak mudah tergantikan oleh apa pun, bahkan oleh rangkaian penghargaan yang diterima setelah itu. Bila kita mengingat lagu pertama yang beliau nyanyikan di album Koes Plus edisi awal yaitu “Hilang Tak Berkesan”, maka lagu terakhir yang beliau nyanyikan pun seakan merupakan edisi penutup karyanya pada musik Indonesia sebagaimana terungkap sekilas pada “Aku Dan Dirimu”. Karya Tonny Koeswoyo yang tak sempat dinyanyikan sendiri yaitu “Wit Gedhang” seakan menyiratkan bahwa tak ada yang berarti dalam hidup ini selain menjadi bermanfaat buat orang lain, sekalipun pada akhirnya keberadaan kita tidak diingat lagi. Seorang pahlawan harus rela dilupakan di saat terakhir masa perjuangannya.


Bagi saya, Tonny Koeswoyo merupakan pahlawan. Bagaimana menurut anda?

Selamat merenungi keberadaan dan karya seorang Tonny Koeswoyo.

Selamat memperingati Hari Koes Plus Nasional. Missa Solemnis. Merdeka !