Jumat, 20 Mei 2016

Sam Bimbo : Terima Kasih Yon Koeswoyo

            Setelah menerima penghargaan atas lagu milik Bimbo yang dinyanyikan oleh Noah, Sam Bimbo yang mewakili grup dari bandung itu menyampaikan kata-kata apresiasi. Setelah menyampaikan apresiasi atas lagu Sajadah Panjang yang dirilis ulang oleh Noah, Sam Bimbo pun menyampaikan ucapan terima kasihnya pada berbagai pihak. Salah satu yang berkesan adalah ketika dia menyampaikan rasa terima kasihnya pada personel Koes Plus. “Saya mengucapkan terima kasih pada mas Yon Koeswoyo. Pada album pertama Bimbo pernah merekam lagu Koes Plus yang berjudul Manis Dan Sayang. Saat itu kami rekaman di Singapura…”.

            Sam Bimbo memang memang memberikan apresiasi pada berbagai pihak. Namun hanya pada Koes Plus sebuah apresiasi yang istimewa dberikan oleh personel sulung dari trio Bimbo ini. Betapa tidak, saat mereka masih meniti karier dalam industri musik Indonesia, karya Koes Plus turut mewarnai album pertama grup yang berasal dari Kota Kembang ini. Sementara untuk Titik Puspa yang hadir saat itu pun, Sam Bimbo tidak menyampaikan apresiasi yang berlebihan. Bahkan ketika diminta untuk berkomentar mengenai lagu Sajadah Panjang pun Sam Bimbo tidak bisa banyak bercerita mengingat lagu ini merupakan karya dari Taufik Ismail sementara musiknya sendiri digarap oleh Jaka Bimbo.

            Malam itu Sam Bimbo tampil sebagai kejutan bagi Ariel tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Sam Bimbo hanya tampil sendirian dikarenakan Acil dan Jaka sudah lebih dulu berada di Surabaya untuk sebuah even yang akan dadakan pada hari Sabtu, 21 Mei 2016. Semalam Noah memang mengadakan peluncuran album baru mereka yang bertajuk “Noah Sing Legend”. Album ini merekam ulang lagu-lagu lama yang pernah sukses dibawakan di masanya. Selain lagu yang pernah dipopulerkan oleh Bimbo, Noah juga menyanyikan lagu Biar Ku Sendiri yang pernah dibawakan oleh The mercy’s, Teluk Bayur yang melejit oleh Ernie Johan, Kupu-Kupu Malam yang merupakan karya Titiek Puspa, Kisah Cintaku sebagai buah karya Tito Sumarsono yang dibawakan oleh Chrisye serta beberapa lagu lain.
            Sebelum acara puncak yang menghadirkan Koes Plus, pihak Musica memberikan penghargaan pada beberapa musisi yang karyanya digunakan oleh Noah dalam album terbaru mereka itu. Saat itu yang maju ke panggung yaitu Yon Koeswoyo dan Damon Koeswoyo mewakili Tonny Koeswoyo dalam lagu Andaikan kau Datang, Titik Puspa, Sam Bimbo mewakili Taufik ismail, Tito Sumarsono atas lagu Kisah Cintaku. Demikian juga hadir Lily Kuslolita mewakili Rinto Harahap dengan karya “Cinta Bukan Dusta” yang pernah dipopulerkan oleh Rano Karno serta Erwin harahap yang hadir atas nama grup The Mercy’s.

            Sebagai puncak acara, Koes Plus tampil membuka dua lagu. Sebelum grup yang menyisakan Yon Koeswoyo sebagai personel senior ini hadir di layar televisi ditampilkan fiti megenai kiprah dari grup yang sebelumnya bernama Koes Bersaudara ini. Koes Plus menggebrak dengan menampilkan lagu Tak Bisakah yang merupakan karya Ariel saat grupnya masih bernama Peter Pan. Sepertinya tidak mudah bagi Yon Koeswoyo untuk menyesuaikan diri dengan lagu karya generasi di bawahnya ini. Hal ini terlihat dari beberapa kali Yon seperti tidak hafal lirik lagu sehingga harus beberapa kali menoleh pada Soni untuk membantu menyanyikan lagu tersebut dengan sempurna.

Usai menyanyikan Tak Bisakah, Koes Plus melanjutkan dengan karya abadi dari Tonny Koeswoyo yatu Andaikan kau Datang. Lagu yang dirilis pada tahun 1970 ini pun pada beberapa bagian tampak Yon keliru menyanyikan lirik lagu tersebut sehingga antara satu syair dan syair berikutnya seperti bertukar tempat. Yon Koeswoyo malam itu seperti terlihat letih walaupun tanpa kehilangan semangat untuk menghibur penikmat musik yang memenuhi gedung yang terletak di kawasan Daan Mogot Jakarta barat malam itu. Setelah Koes Plus menyelesaikan penampilan, Yon koeswoyo pun mendaulat Noah untuk melanjutkan penampilan.

Saat itu Noah juga membawakan ulang lagu Andaikan Kau Datang menurut versi mereka. Walaupun dibawakan oleh musisi muda, namun lagu ini tidak “kehilangan jiwanya”. Pada lagu ini Noah tampaknya tidak begitu banyak mengubah penataan musiknya. Bahkan lagu ini terkesan lebih megah dan berkarakter saat lagu ini dibawakan oleh Noah malam itu. Mohon maaf, bagian ini terpaksa harus saya tulis secara obyektif sebagai perbandingan dengan penampilan Koes Plus sebelumnya pada lagu yang sama. Bukan bermaksud merendahkan Koes Plus, namun hanya berusaha melihat secara obyektif saja bukan sekedar subyektif sebagai penggemar Koes Plus.

Adapun Koes Plus pada malam itu tampil dengan mengenakan pakaian berupa jas yang berhiaskan dasi, menyesuaikan dengan kemasan acara malam itu yang bersifat semi formal. Sedikit yang menyisakan perhatian bagi penggemar Koes Plus yatu hadirnya personel baru yang mengisi posisi keyboard. Bila sementara ini posisi keyboard dibantu oleh Acil  B Plus maka malam itu additional player ditempati oleh Wahyu dari band pelestari B Flat.

Apapaun dan bagaimana pun juga penampilan Koes Plus, tetap Koes Plus merupakan band yang penampilannya paling istimewa dan selalu ditunggu. Tidak salah Noah menempatkan lagu karya Koes Plus untuk mengisi album baru mereka yang memang berhiaskan karya dari musisi-musisi legendaris Indonesia. Demikian catatan singkat mengenai peluncuran album terbaru Noah yang kami pandang dari sisi sebagai penggemar Koes Plus. Mohon maaf untuk setiap rangkaian kata dan kalimat yang kurang berkenan. Terima kasih. Jayalah selalu musik Indonesia.


( Okky T. Rahardjo, penggemar Koes Plus dari Surabaya, 085645705091, 5B32CC16 )

Selasa, 17 Mei 2016

Hilangnya Seorang Deddy Dores


Sebuah kabar duka mengejutkan datangnya dari seorang musisi senior Indonesia. Deddy Dores seorang musisi yang sudah lama malang melintang di jagat musik Indonesia pada Selasa, 17 Mei 2016 pkl. 23.45. Kepergian artis yang identik dengan kaca mata hitam ini diduga akibat serangan jatung. Musisi yang pada era tujuh puluhan sering berganti grup band ini ternyata juga merupakan produk asli Surabaya kelahiran 28 November 1950.

Deddy Dores dalam kariernya tercatat pernah singgah ke beberapa grip diantaranya Freedom of Rhapsodia yang mempopulerkan namanya melalui hits “Hilangnya Seorang Gadis”. Lalu tampak pula Deddy Dores menghiasi grup musik cadas yaitu God Bless formasi awal sebagai pemain keyboard sebelum posisinya digantikan oleh Soman Lubis. Bersama Jelly Tobing dan Deddy Stanzah, Dores juga pernah terlibat dalam sebuah grup trio yang bernama Super Kid asuhan Denny Sabri, seorang jurnalis dari majalah Aktuil. Selanjutnya nama Deddy Dores banyak dikenal mengorbitkan nama-nama populer macam Nike Ardilla dan Nafa Urbach.

Bagi penggemar Koes Plus nama Deddy Dores pernah memiliki kesan yang mendalam dikarenakan keterlibatannya dalam sebuah album yang bertajuk Koes Plus Dores. Saat itu Deddy Dores bergabung bersama Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo untuk sebuah proyek album yang mengandalkan hits Rindu Kamu. Dalam album ini peran Murry digantikan oleh seorang pemain drum lain dikarenakan saat itu Murry masih menjalani perawatan akibat sakit hernia yang dideritanya.

Album Koes Plus Dores sendiri sepertinya tidak selesai dengan sempurna akibat adanya konflik internal di tbuh personel Koes Plus. Saat itu konon formasi Koes Plus sempat terpecah menjadi dua, dengan Yon dan Murry di satu sisi sementara di sisi lain Yok Koeswoyo eksis dibantu Deddy Dores. Belakangan album yang dirilis pada tahun 1997 di bawah label Harpa Record ini dilengkapi beberapa lagu tambahan yang diambil dari solo album Yok Koeswoyo.

Saat diminta komentarnya tentang bersedianya dia bergabung dengan Koes Plus, Deddy Dores mengatakan kalau dia ingin memperbaiki aransemen musik Koes Plus. Deddy melihat selepas ditinggal Tonny Koeswoyo, sepertinya Koes Plus lemah dalam penataan musik. Oleh karena itu ketika ditawari untuk bergabung dengan Koes Plus, dia merasa senang sekali dan siap untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan bermusiknya.

Dalam lagu Rindu Kamu yang pembuatan klipnya dilakukan d salah satu tempat hiburan di Jakarta ini, terlihat sekali Deddy Dores mampu mengisi tambahan vokal yang harmonis bersama Yon Koeswoyo. Sahut menyahut dalam menyanyikan lagu yang sebelumnya diisi oleh Tonny Koeswoyo tampaknya mampu diisi dengan baik oleh Deddy Dores. Walaupun singkat namun partisipasi Deddy Dores dalam Koes Plus tetap membawa kesan yang mendalam. Hal ini dapat dilihat secara istimewa pada penamaan album yang melibatkan namanya “Koes Plus Dores”. Belum pernah ada sebelumnya nama personel lain dimasukkan dalam album sebaga tambahan nama Koes Plus. Pernah juga ada nama Koes JAB yang diperkuat oleh Yon, Yok, Jelly Tobing dan Abadi Soesman namun hanya untuk konsumsi show bukan untuk perilisan album.

Pada akhirnya kami selaku penggemar Koes Plus dan pecinta musik Indonesia, mengucapkan selamat jalan Deddy Dores. Selamat jalan Arek Suroboyo yang sukses mewarnai jagat industri musik Indonesia.


( Okky T. Rahardjo, Penggemar koes Plus dari Surabaya, 085645705091, 5B32CC16 )

Sabtu, 13 Februari 2016

Sisa Cerita Liputan Koes Plus, Seminggu Lalu ...


Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 09.00
Udara pagi Kota Madiun masih terasa sejuk dan segar. Hujan semalam menyisakan kesegaran yang membuat diri ini terasa enggan untuk beranjak dari kamar tidur, di penginapan sederhana yang kami tinggali sejak sehari sebelumnya. Memang seharian sampai malam hujan mengguyur bumi Madiun yang membuat kota pecel ini menjadi lebih dingin dibandingkan hari-hari biasanya. Namun begitu kami merasa bersyukur karena dapat menikmati suasana lain dibandingkan keseharian kami yang terasa penat di sela udara Kota Surabaya yang begitu menyengat dan menguras keringat.

Saat itu kami memang ada di Kota Madiun untuk meliput jalannya konser bersejarah yang diadakan oleh pengggemar Koes Plus di Kota Madiun. Kami menyebut sebagai konser bersejarah karena terhitung sangat jarang dan bahkan langka menyaksikan penampilan Koes Plus di Kota Madiun. Di kota kecil ini segalanya terasa sulit untuk mengadakan pementasan band ibu kota termasuk Koes Plus. Berbagai kerumitan kami dengar dari keluhan beberapa orang panitia sejak hari-hari yang lampau. Mulai perijinan keramaian, pengurusan pajak, penjualan tiket dan sebagainya. Maklum saja kalau rentang waktu penampilan Koes Plus terhitung lama di kota ini. Dibandingkan pementasan Koes Plus di Kota Surabaya yang masih lebih beruntung karena banyak sekali even organizer, maka pihak penyelenggara di Kota Madiun harus berjuang ekstra keras.

Pagi itu kami berdua selaku tim dokumentasi penampilan Koes Plus mulai beranjak mencari sarapan untuk pengisi perut sebelum banyak beraktivitas di sepanjang hari. Mau makan apa lagi di Madiun kalau bukan nasi pecel. Ya, kuliner khas kota madiun ini memang sangat disayangkan kalau sampai terlewatkan. Setelah berjalan sekitar lima puluh meter dari hotel Matahari tempat penginapan kami, sebuah warung nasi pecel di depan stasiun Kota Madiun menjadi tujuan kami untuk makan pagi. Murah sekali, makan nasi berdua dengan lauk telur dadar ditambah dua teh hangat dihargai sejumlah lima belas ribu rupiah. Wah kalau di Surabaya harga segini hanya cukup untuk porsi satu orang.

Usai makan pagi, kami pun kembali ke tempat penginapan. Kalau penginapan ini bernama Hotel Matahari jangan pernah dibayangkan bahwa tempat ini seperti hotel yang ada di kota besar seperti Surabaya atau Jakarta. Namanya saja hotel, tapi levelnya ya losmen. Mungkin bisa disebut hotel kelas melati. Yang penting kami bisa meneduhkan diri untuk waktu yang singkat ini. Hotel ini pun juga menjadi tujuan saya ketika dulu menjalin gadis di kota ini. Oleh karena saya berasal dari Surabaya, maka ketika menemui kekasih hati saya pun harus bermalam di penginapan. Masih belum boleh tinggal walau semalam di rumahnya, karena selain belum ada hubungan yang serius juga menjaga etika di antara penduduk sekitar tempat tinggal sang calon istri. Hmm, jadi bernostalgia nih...

Kemabli ke hotel kami pun segera mempersiapkan diri untuk berkemas. Mengingat jam 12 siang merupakan waktu check out bagi semua pengunjung yang bermalam.  Sambil berkemas, kami pun menanyakan pada panitia tentang keberadaan Yon Koeswoyo yang dijawab masih diantar jalan-jalan sehingga kalau mau menemui disarakan satu jam lagi saja. Jarum jam masih menunjukkan kisaran pkl. 10.00, menurut kami sekalian nanti saja check out kami menuju tempat personel Koes Plus tinggal selama di Kota Madiun.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 12.00
Kami berdua menuju lokasi Sun Hotel. Di sinilah nanti malam akan berlangsung konser bersejarah. Di tempat ini pula personel Koes Plus menginap sejak tiba di kota brem ini sehari sebelumnya. Kami melintasi jalanan protokol Kota Madiun mengendarai kendaraan tipe MMM yaitu Motor Milik Mertua yang saya gunakan untuk keperluan meliput konser Koes Plus ini. Saat kami tiba di lokasi parkir hotel yang merupakan bagian dari jaringan komplek Sun City ini kami berjumpa dengan Tri Cahyono, koordinator KPK Madiun alias Komunitas Penggemar Koes Plus.

Berdua kami menuju lobby hotel dengan tujuan untuk menunggu kabar kapan bisa berjumpa personel Koes Plus. Secara kebetulan pula kami berjumpa dengan Effendy selaku panitia yang terlibat sibuk menyibuk urusan konser Koes Plus di Madiun ini. Kepada kami Effendy berkata kalau dia masih repot menyaipkan makan siang untuk Koes Plus. Sedianya akan disiapkan rawon istimewa di depot langganannya, namun karena depot tersebut tutup maka dia hanya bisa menyediakan rawon seadanya. Malahan kami melihat dia sudah membawa sekantong plastik berisi “black soup” yang katanya merupakan pesanan Yon Koeswoyo itu. Jadilah kami bertiga duduk di lobby yang sudah berhias pohon angpao, sambil menunggu Yon Koeswoyo bersama personel yang lain menikmati santap siang.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 13.00
Handphone saya yang berkategori warga keturunan mulai bergetar. Segera saya baca SMS yang masuk. Rupanya dari panitia yang mengabarkan “Sekarang di kamar 310...”. Tak perlu banyak tanya kami sudah paham maksudnya. Segera kami menuju lift untuk mengantarkan kami ke lantai atas yang tentu saja merupakan kamar tinggal personel Koes Plus. Saat kami bertiga berjalan menuju lift, sekilas di sebelah kiri kami beberapa orang panitia sedang duduk di sebuah ruangan besar. Rupanya itu tempat yang kelak akan dijadikan venue pelaksanaan konser Koes Plus.

Saat kami mengurutkan nomor kamar, kami mendengar suara riuh rendah orang bercakap-cakap di sebuah kamar yang terbuka pintunya. Segera kami masuk dan melihat Yon Koeswoyo duduk ditemani dua orang panitia. Sebagaimana sikap saya ketika beberapa kali sebelumnya jumpa Yon Koeswoyo, maka spontan saya menyalami dan mencium tangan sang musisi legendaris itu. Cium tangan tanda penghormatan kepada seseorang yang menjadi sosok yang saya kagumi. Selain sebagai bakti seorang muda kepada yang lebih senior.

Haru, bahagia dan speech less saat jumpa Yon Koeswoyo setelah empat tahun tak sempat berjumpa. Terakhir saya berjumpa beliau saat konser reuni di Kota Malang. Beberapa kali penampilan di Kota Surabaya saya lewatkan dengan berbagai alasan yang membelakangi. Setelah rekan peliput yaitu Heri Purwanto dan Tri cahyono ikut berjabat tangan, saya pun mengajukan diri untuk berfoto bersama beliau. Saat saya berfoto semula mengambil posisi duduk bersama di ranjang beliau. Namun karena posisinya membelakangi matahari, beliau memperingatkan Heri Purwanto yang hendak menjepret menggunakan kamera android milik saya.

“ Sebentar, ini kan menghadap matahari...nanti kurang bagus...Kita pindah posisi saja. Masa’ tukang foto ga ngerti posisi yang bagus...”. Lalu kami pun ganti posisi duduk di ranjang seberang yang lebih aman dari jangkauan sinar matahari. Jadilah sebuah foto berharga berdua bersama Yon Koeswoyo setelah foto terakhir enam tahun sebelumnya terjadi di Surabaya. Usai mengambil gambar bersama Yon Koeswoyo, kami pun memohon ijin kepada panitia untuk mempersiapkan kamera di lokasi konser.

Kami sempat mendapatkan bocoran bisikan dari panitia bahwa check sound akan dimajukan dari jadwal semula pkl. 15.00 menjadi lebih awal. Hal ini disebabkan sudah banyak yang mendengar kabar tentang check sound sehingga akan menimbulkan keramaian. Namun Yon Koeswoyo sempat berkata “Sudah seperti semula saja, tidak usah diubah-ubah jamnya...”. Kami tidak sempat mendengarkan perbincangan selanjutnya, kami sudah mohon diri lebih dulu.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 13.30
Kami berdua selaku tim dokumentasi sudah memasuki ruangan pertunjukan dipandu oleh salah seorang panitia. Kami mengenali pria ini sebagai panitia karena mengenakan kaos yang sama dengan orang lain yang berlalu lalang di dalam area Sun Hotel. Kaos yang menjadi dress code yaitu warna hitam dengan gambar personel diambil dari cover volume 7.

Banner besar terpampang menghiasi panggung dengan titel “Nostalgia Bersama Koes Plus”. Pada banner berlatar belakang warna merah ini terpampang gambar besar sosok Yon Koeswoyo memegang gitar. Tidak ada gambar personel lain. Hal ini rupanya juga berlaku saat Koes Plus mengadakan pementasan di kota lain seperti di Cilegon beberapa waktu lalu. Entah apa alasannya, padahal beberapa tahun lalu masih tergambar empat personel Koes Plus formasi baru atau yang sering kita sebut Koes Plus Pembaruan saat promosi pementasan.

Segera kami berdua mulai berurusan dengan kabel yang saling menjuntai untuk menghubungkan dengan kamera yang sudah disiapkan. Oya di mana ketua KPK tadi....Rupanya tertinggal di kamar Yon Koeswoyo karena berjumpa dengan panitia yang merupakan teman lamanya. Sekalian berbincang dengan Yon Koeswoyo lebih puas, silakan mas...hehehe. Posisi kamera sudah siap untuk mengabadikan jalannya konser. Kami pun juga menyiapkan segala sesuatunya termasuk menyicil gambar untuk dijadikan suasana awal sebelum konser berlangsung. Termasuk juga pengambilan adegan untuk keperluan opening dan closing video.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 13.45
Personel dan kru Koes Plus mulai memasuki lokasi untuk melakukan check sound. Teknisi Koes Plus berjumlah tiga orang yang dikomandani oleh kru senior yaitu Aam mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Saat itu yang kami lihat sebagai personel Koes Plus yang bersiap check sound hanya Seno dan Soni. Sementara Yon Koeswoyo memilih untuk beristirahat supaya lebih prima untuk penampilan malam harinya. Bagaimana dengan Acil yang menjadi additional player pada Koes Plus formasi terbaru ini, menurut kabar yang beredar rupanya saat itu masih belum tiba di Madiun karena baru mengisi acara semalam sebelumnya bersama B Plus.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 15.30
Hujan mulai mengguyur lagi Kota Madiun. Sejuta perasaan berkecamuk saat itu. Akankah cuaca menjadi penghalang datangnya penonton menghadiri konser yang berlangsung di belakang Carefour Madiun ini. Kami tim dokumentasi hanya bisa duduk di dalam ruangan sambil menantikan segala sesuatunya. Kamera sudah disiapkan tinggal menunggu “waktu pertempuran” saja. Kami sengaja memilih untuk menetap di ruangan besar itu supaya tidak repot keluar masuk. Kami tinggal di lokasi acara bersama tim sound system dan lighting yang sedang menata peralatan juga.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 18.00
Panitia mulai tampak mempersiapkan diri di dalam lokasi acara. Pembawa acara pun mulai mengecek mik yang tersedia. Pengisi acara pembuka yaitu seorang gadis cantik juga mulai menata diri bersama seorang pemain keyboard. Rupanya acara akan dibuka dengan penampilan elektone lagu-lagu hits masa kini. Satu per satu penonton mulai memasuki lokasi acara menduduki kursi sesuai dengan kategori masing-masing. Konser kali ini terbagi menjadi tiga kategori penonton yaitu Kategori A bagi penonton dengan tiket seharga Rp. 400.000, kategori B untuk kursi dengan biaya Rp.300.000 dan kategori C bagi mereka yang membeli tiket dengan nominal Rp. 200.000.

Konser kali ini dijaga oleh petugas keamanan yang berlapis tingkat. Tidak cukup dari pihak kepolisian setempat, namun tampak juga aparat bertuliskan provost ikut mengamankan jalannya konser Koes Plus malam ini. Entah apa alasannya, sampai pengamanan begitu kompleks. Mungkin juga karena akan ada pejabat yang akan menghadiri konser musik grup legendaris ini.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 19.00
Kursi yang dibedakan dengan pita warna emas, biru dan merah sudah mulai terisi. Tampaknya antusiasme penggemar Koes Plus di Madiun dan sekitarnya mengalahkan cuaca hujan yang mengiringi malam itu. Walikota Madiun Bambang Irianto juga tampak hadir duduk di kursi VVIP di barisan terdepan tanpa ditemani pejabat setingkat lainnya. Penyanyi elektone pun juga sudah mulai mengisi acara dengan lagu-lagu hits Indonesia masa kini. Pembawa acara juga mulai menjalankan tugas dengan sesekali improvisasi dengan mengajukan pertanyaan seputar Koes Plus pada penonton yang merupakan penggemar fanatik. Pertanyaan mengapa suka Koes Plus hingga direkam tahun berapa lagu Diana dapat dijawab dengan baik oleh penonton yang sudah merindukan penampilan Koes Plus setelah hampir lima tahun tidak mengadakan pementasan di kota Madiun ini.

Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 20.00
Waktu sudah berlalu satu jam dari jadwal acara. Penyanyi elektone sudah kehabisa stok lagu dan harus segera menyingkir dari panggung. Pembawa acara sudah mulai terasa menjemukan dalam mengolah kata. Namun Koes Plus yang ditunggu-tunggu tidak segera tampil. Penonton pun mulai was-was. Terbersit kabar bahwa pemain keyboard yaitu Acil belum bergabung dengan personel Koes Plus dan masih dalam perjalanan. MC pun mencoba menenangkan penonton dengan mengatakan bahwa sang personel sudah memasuki daerah Maospati, yang berarti tidak lama lagi akan memasuki lokasi acara.


Sabtu, 06 Februari 2016 Pkl. 20.20
Tiba-tiba kru Koes Plus memasuki acara untuk menata posisi keyboard dan gitar. Heri Purwanto yang sedang duduk karena jenuh menunggu segera bangkit berdiri setelah saya memberi kode “ayo om, ini pertanda segera dimulai..”. Benar saja, sekitar sepuluh menit setelah keyboard dan gitar disiapkan dengan baik masuklah Yon Koeswoyo diikuti oleh ketiga personel lain. Tepuk tangan dan sorak sorai membahana terdengar memenuhi seisi gedung. Seperti sudah memahami kerinduan penggemar yang sudah menanti sekian lama, tepat pkl. 20.30 Koes Plus segera naik ke atas panggung.

Sebagaimana biasa, sebelumj memulai penampilan Koes Plus mengambil posisi berdiri sejajar untuk memberi hormat pada penonton. Sekitar dua menit Koes Plus berdiri berjajar memberi kesempatan bagi yang hendak mengabadikan dalam kamera foto sebelum akhirnya mereka  menundukkan kepala tanda hormat dan salam pada penonton.

Sebagai awal pembuka, Yon Koeswoyo mengajak penonton untuk menundukkan kepala mengenang dua tahun berpulangnya Murry sang drummer asli Koes Plus. Yon Koeswoyo sempat berkomentar “Murry itu drummer hebat dan top...”. Tanpa banyak basa-basi lagi Koes Plus meluncurkan Pelangi sebagai tembang pembuka. Sontak seisi gedung seperti sebuah koor massal mengikuti Yon Koeswoyo mendendangkan lagu yang awalnya direkam di Volume 7 ini.

Usai Pelangi, lagu berikut yaitu Why Do You Love Me dibawakan oleh Koes Plus yang kembali diikuti oleh nyanyian penonton yang memadati ruangan yang ada di lantai pertama itu. “Saya percaya anda semua pasti pernah muda...berikutnya, Muda- Mudi” Demikian ujar Yon Koeswoyo menyambut lagu berikutnya yang akan dibawakannya. Satu per satu lagu dibawakan yang disambut dengan nyanyian koor penonton yang mulai beranjak dari tempat duduknya.

Pada penampilan Koes Plus kali ini, penonton yang membeli di kategori A sepertinya “rugi”. Betapa tidak, penonton yang ada di bagian belakang yaitu kategori C tiba-tiba menyeruak berdiri di sisi kiri dan kanan panggung untuk ikut berjoget dan bernyanyi bersama mengikuti alunan lagu-lagu Koes Plus secara bebas. Setiap Yon Koeswoyo akan membawakan sebuah lagu, penonton dengan antusiasnya ikut menimpali dan menawarkan lagu-lagu pilihan untuk dibawakan oleh sang idola.

“Pak tani...Pak tani...” teriak seorang penonton atau “Senyumanmu..senyumanmu sayang...” seorang penonton coba meminta lagu sambil mendendangkan baris lagu tersebut. Kadang penonton tidak peduli siapa yang menyanyikan asli, pokoknya diteriakkan dulu judul lagunya seperti Pak Tani atau Pak Guru dan Kolang Kaling yang notabene merupakan lagu milik Murry. Yon Koeswoyo pun tidak mau kalah dengan spontanitas penonton. Dia segera menimpali teriakan penonton yang berdiri di sisi kanan panggung dengan berkata “Anda itu tidak ikut duduk di situ tapi minta minta lagu...”. Penonton yang ditegur cuma tertawa saja tanpa harus menyisakan kemarahan karena ditegur sang idola.

Malam itu benar-benar menjadi malamnya Koes Plus. Sebuah konser yang interaktif dan komunikatif yang jarang sekali ditemui pada penampilan band atau artis lain. Kalau artis lain biasanya siap tampil dengan lagu yang sudah disetting, tapi Koes Plus tampil menghibur dengan memenuhi permintaan lagu dari penonton. Saat Kolam Susu dibawakan, penonton kembali mengikuti setiap baris demi baris lagu dengan riang dan penuh kegembiraan. Ketika akan membawakan sebuah lagu, Yon Koeswoyo segera menawarkan Layang-Layang. “Sekarang Layang-Layang saja, buat apa lagu yang aneh-aneh..” yang disambut acungan jempol oleh Walikota Madiun yang sedari tadi tampak diam tanpa ekspresi seperti mencoba mengenali lagu demi lagu yang dibawakan oleh Koes Plus.

Konser ini terasa unik ketika ada beberapa lagu Pop Jawa yang dibawakan oleh Yon Koeswoyo. Bila pada konser lain hanya sekitar 2 atau 3 lagu, maka pada penampilan kali ini sampai delapan lagu pop Jawa dibawakan oleh Koes Plus. Bahkan lagu-lagu yang sebelumnya hanya kita dengar melalui kaset pun saat itu dibawakan dengan baik oleh Yon Koeswoyo memenuhi permintaan penonton. Seperti ketika akan membawakan lagu dengan judul Koyo Ngene Rasane. Yon Koeswoyo sudah bersiap untuk menyanyi dan melambaikan tangan untuk membuka lagu tersebut. Namun yang terjadi, Acil seperti lupa intro pada lagu ini. Setelah beberapa kali meleset, Yon Koeswoyo mencoba mengajak penonton untuk menirukan intro melalui senandung mulut “teng teng teng teng teng teng...”. Setelah irama intro spontan muncul dari mulut penonton, Yon Koeswoyo menimpali “aduh ngene rasane..aduh ngene rasane...atiku kok koyo ngene..”. Wajar bila lagu ini tidak begitu mulus meluncur pada awalnya dikarenakan jarang sekali ditampilkan di panggung oleh Koes Plus.

Soni selanjutnya kebagian tugas menyanyikan Jemu. Hampir usai Jemu dibawakan, saat itu jarum jam menunjukkan Pkl. 21.55 ketika tiba-tiba listrik padam, ruangan menjadi gelap dan aktivitas panggung pun berhenti. Panitia pun panik dan segera mencari penyebabnya. Tak lama sekitar dua menit, ruangan kembali menyala namun sound system tidak mampu lagi berfungsi seperti semula. Rupanya ada kesalahan teknis yang tidak bisa diatasi dan diantisipasi. Seorang panitia pun berinsiatif memberitahukan permasalahan yang terjadi pada Yon Koeswoyo. Setelah berdiri dan terdiam sekitar lima menit, Yon Koeswoyo pun turun panggung dan segera menyalami Walikota Madiun. Soni segera menenangkan penonton yang berada di sisi kanan panggung. Sementara Acil menghampiri penonton di sisi kiri panggung.

Setelah dikerubung penonton yang mengajak foto bersama, Yon Koeswoyo pun diamankan oleh petugas keamanan. Konser pun berakhir tidak tuntas namun tanpa keributan. Semua penonton sepertinya sudah memaklumi kondisi teknis yang terjadi. Satu per satu pengunjung meninggalkan ruangan lokasi acara. Tampak juga di lokasi acara personel D’ Plus yang sebelumnya berjoget di sisi kiri panggung, berfoto bersama Acil sebelum akhirnya meninggalkan ruangan juga. Secara keseluruhan semua puas dengan konser yang berlangsung. Insiden yang terjadi tidak mengurangi kepuasan dan rasa hormat terhadap penampilan Koes Plus malam itu. Sekitar 1,5 jam penampilan Koes Plus sudah lebih dari cukup untuk memenuhi dahaga penonton terhadap penampilan grup legendaris itu.

Peliputan konser bersejarah pun berakhir juga. Kami selalu menyebut konser ini sebagai konser bersejarah karena Koes Plus jarang sekali tampil di Kota Madiun. Dalam sejarah penampilan Koes Plus di Madiun tercatat pernah tampil tahun 1974 di Stadion Wilis, tahun 1977 saat Koes Bersaudara jilid 2 di lapangan Bosbow, lalu di Hotel Merdeka masing-masing pada tahun 1996 era Yon Murry Hans dan Najib, tahun 2002 era Yon Murry Jack Andolin dan tahun 2011 saat Koes Bersaudara konser reuni. Lalu yang terbaru penampilan di Sun Hotel ini. Acara ini pun dapat terdokumentasi dengan baik kerja sama dengan Herdon Videography yang saat ini sudah tersedia dalam bentuk dvd.

Berikut merupakan lagu yang dibawakan oleh Koes Plus : Pelangi, Why Do You Love Me, Muda Mudi, Kisah Sedih Di Hari Minggu, Bujangan, Andaikan Kau Datang, Kolam Susu, Buat Apa Susah, Cintamu Tlah Berlalu, Bis Sekolah, Ojo Nelongso, Til Kontal Kantil, Tul Jaenak, Ela Elo, Yo Ben, Omah Gubuk, Koyo Ngene Rasane, Atiku Gelo, Diana, Derita, Manis Dan sayang, Nusantara Medley, Hidup  Yang Sepi, O La La, Bunga Di Tepi Jalan, Cinta Buta, Layang Layang, Jemu.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai penampilan Koes Plus di Madiun. Mohon maaf atas kekurangan data maupun kalimat dalam penyusunan tulisan ini. Tetap sehat selalu untuk Yon Koeswoyo dan terus berkarya dalam mengumandangkan lagu-lagu Koes Plus. Jayalah selalu musik Indonesia ...!!!

( Okky T. Rahardjo,SMS/WA :  085645705091, 5B32CC16A )








Minggu, 31 Januari 2016

SKPN : Kenangan Bersama Lagu Koes Plus




        Senin penghujung bulan ini tepatnya 25 januari 2016, Surabaya Koes Plus Night kembali mengudara memenuhi ruang dengar penggemar Koes Plus yang memantau radio Sonora Surabaya. Usai berakhirnya program Sweet Memories, pada pkl. 21.00 sebagaimana biasa program yang dikhususkan untuk penggemar Koes Plus ini kembali hadir untuk memuaskan kerinduan penggemar Koes Plus.

Lagu pertama yang menjadi pembuka saat itu adalah Layar Tancap yang dibawakan oleh Nomo Koeswoyo. Lagu yang dirilis pada tahun 1988 ini dipilih sebagai opening karena dalam rangka ulang tahun Nomo Koeswoyo yang berlangsung beberapa hari sebelumnya yaitu 21 Januari. Pembawa acara malam itu kembali dipercayakan pada Candra Jamil yang seminggu sebelumnya absen dikarenakan adanya gangguan kesehatan. Candra membuka acara dengan begitu semangat seperti membuka ruang rindu pada penggemar Koes Plus yang sempat ditinggalkannya pada satu episode yang lalu.

Memang sejak edisi dua pekan lalu tampuk penyiar acara SKPN beralih dari Dody kepada Candra. Namun pada edisi lalu rupanya Candra absen siaran selama satu minggu dikarenakan kesehatannya kurang bagus. Usai lagu pembuka selesai diputar, Candra menyapa pendengar dan narasumber yang hadir. Saat itu ketiga narasumber tetap hadir sebagaimana bias auntuk mengawal acara SKPN ini. Okky Rahardjo, Koesyanto, dan Sam Sugeng menyapa pendengar yang sudah menunggu acara ini sejak beberapa menit sebelumnya.

Candra membuka percakapan dengan menanyakan kabar terbaru dari personel Koes Plus. Bagian ini dijawab oleh Okky Rahardjo dengan berkata bahwa beberapa personel Koes Plus masih memiliki aktivitas yang lumayan padat dalam waktu dekat ini. Namun paling terbaru didapat dari Nomo Koeswoyo dan Yon Koeswoyo. Nomo Koeswoyo beberapa hari sebelumnya merayakan ulang tahun di sebuah hotel di Jakarta dengan dihadiri oleh Menteri Agraria yaitu Ferry Mursyidan Baldan. Saat itu tampak juga putra-putrinya serta keponakan-keponakannya turut memeriahkan hari jadinya yang ke-77.

Sementara Yon Koeswoyo masih tampil mengadakan konser memenuhi undangan tampil di beberapa daerah. Pada Jumat, 29 Januari ini Yon Koeswoyo bersama personel baru Koes Plus tampil di pabrik baja Krakatau Steel yang terletak di Cilegon. Harga tiket yang dipatok yaitu Rp. 75.000, 125.000, dan 200.000. Sementara itu pada 6 Februari Koes Plus akan giliran tampil di kota Madiun tepatnya berlokasi di Hotel Sun City dengan patokan harga Rp. 200.000, 300.000 dan 400.000.

Sebelum melanjutkan sesi berikutnya Candra memutar lagu Lagi-Lagi Kamu yang sekali lagi dibawakan oleh Nomo Koeswoyo. Edisi siaran kali ini menampilkan tema Kenangan Bersama Lagu Koes Plus. Koesyanto yang mendapatkan giliran pertanyaan selanjutnya menceritakan kenangan yang dimilikinya pada lagu Djanjimu yang ada pada album Volume 2. Saat itu dia bercerita bahwa pada masa mudanya ada kenangan yang tak terlupakan bersama sang kekasih yang pernah disayanginya. Sebagaimana kutipan pada lagu tersebut “Seperti layang-layang dengan talinya, di atas awan slalu berdua...”. Dia ingin menjalin cinta selalu berdua bersama sang kekasih. Namun apa daya pada akhirnya cinta itu tak pernah berlanjut, karena sang kekasih harus mengikuti tugas orang tuanya ke Bandara Polonia Medan dari tugas sebelumnya di Bandara Juanda Surabaya.

Candra selanjutnya membuka kesempatan bagi pendengar untuk ikut berpartisipasi. Nomor telepon dan SMS mulai diaktifkan. Aturan main pada acara kali ini yaitu pendengar bercerita tentang lagu Koes Plus yang menjadi kenangannya. Ada salah seorang pendengar yang menginginkan lagu Hanya Temanku karena mengingat kenangan manis saat pendekatan dengan kekasihnya waktu lalu. Ada pula seorang pendengar yang meminta tembang Telaga Sunyi diperdengarkan karena menggambarkan keagungan sebuah cinta.

Sam Sugeng yang pada siaran kali itu mengenakan jaket oranye dengan latar belakang kaos Koes Plus berwarna hitam berkisah bahwa kesayangannya pada lagu berjudul Bertemu Kembali. Hal ini dikarenakan ada sebuah hal tak diduga dalam hidupnya. Kala muda dia sering bermain bulu tangkis di depan rumah Koesyanto. Namun saat itu mereka tidak saling mengenal. Tiada diduga saat usia sama-sama dewasa di atas empat puluhan, keduanya bertemu sebagai penggemar Koes Plus. Hal itu digambarkannya sebagai sebuah reuni pertemuan kembali.

Okky pun mengisahkan bahwa kenangannya tak akan hilang pada lagu Rasa Hatiku. Saat itu dia berkisah bahwa saat pacaran dia menuliskan kata-kata romantis dengan menyadur pada untaian kalimat yang ada pada lagu tersebut. Namun belakangan ketika sudah menikah, istrinya menyadari bahwa rangkaian kalimat tersebut ternyata ada pada salah satu lagu Koes Plus.

Dari sekian banyak kisah kenangan yang ada pada lagu Koes Plus, sebuah cerita sempat disampaikan oleh salah seorang pendengar yang membuat semua yang di studio terhenyak terdiam seribu bahasa. Kala itu seorang ibu bercerita bahwa saat dia masih remaja dan tinggal dalam sebuah rumah kos, ada salah seorang temannya yang kalau mendengar lagu Hidup Yang Sepi selalu berteriak histeris. Saat itu ketika ibu ini memutar sebuah radio yang memperdengarkan lagu Hidup Yang Sepi, maka temannya yang ada dalam salah satu kamar kos akan segera berteriak histeris tanpa diketahui penyebabnya.

Lagu Hidup Yang Sepi sendiri dikisahkan oleh salah satu narasumber sebagai ungkapan hati Yon Koeswoyo yang kesepian. Saat itu di waktu senja hari, satu per satu saudaranya yang sudah menikah masuk ke rumah masing-masing. Tinggallah dia sendirian sebagai personel Koes Plus satu-satunya yang belum menikah, harus tinggal sendirian dan kesepian. Akhirnya terciptalah lagu yang dirilis pada ahun 1970 itu.

Acara hampir ditutup ketika salah seorang staf redaksi Jawa Pos mengisahkan kenangannya dengan lagu Koes Plus yang berjudul Aku Kembali. Dia mengisahkan saat siang hari menyanyikan lagu-lagu Koes Plus dengan memainkan gitar bersama teman-temannya di ujung kampungnya di Surabaya.

            Oleh karena waktu yang sudah tidak memadai, maka acara ditutup oleh Candra Jamil. Lagu Selamat Tinggal yang berisi kata-kata perpisahan dari berbagai bahasa dinyanyikan oleh Koes Bersaudara dipilih sebagai lagu pamungkas. Tak lupa sebuah pesan penutup disampaikan oleh ketiga narasumber yaitu “Jayalah selalu musik Indonesia...!!!”. Sampai jumpa pada liputan siaran berikutnya.

( Okky T. Rahardjo, 085645705091, 5B32CC16 )


Selasa, 26 Januari 2016

Surabaya Koes Plus Night Edisi Mengenang 80 Tahun Tonny Koeswoyo

“Betapa hidup ini seperti berpacu, yang sempat kupacu…hanya keringat”. Lagu dengan judul Waktu Tjepat Berlalu ini menghentak suasana waktu yang menunjuk pukul 21.00. Hal ini berarti tanda acara Surabaya Koes Plus Night segera dimulai. Lagu berirama rock ‘n roll yang dibawakan oleh Tonny Koeswoyo ini sengaja dipilih sebagai pembuka mengingat tema siaran kali ini yaitu Mengenang 80 Tahun Tonny Koeswoyo. Sebagaimana diketahui bahwa Tonny Koeswoyo lahir pada 19 Januari 1936, maka pada edisi 18 Januari ini siaran di radio Sonora Surabaya difokuskan untuk mengenang sang maestro pendiri Koes Bersaudara dan Koes Plus itu.

Usai menyapa pendengar dan narasumber yang hadir, Dody selaku pemandu acara memutar tembang berikutnya yaitu Kusayang Padanya yang kembali dibawakan oleh Tonny Koeswoyo. Rupanya lagu ini menarik perhatian Dody yang saat itu menyatakan bahwa lagu ini berbeda dari lagu-lagu Koes Plus yang sering didengarnya. Salah seorang narasumber menyatakan bahwa lagu ini berbeda karena beberapa faktor. Yang pertama karena album Berjumpa Lagi dibantu oleh iringan orkestra pimpinan Yanuar Ishak sehingga terdengar lain dalam penataan musiknya. Di sisi lain pada lagu ini Koes Plus mulai sedikit terpengaruh oleh gaya lagu yang biasa diramu oleh Gang Pengangsaan, sehingga lirik-liriknya terdengar penuh makna yang mendalam tidak lugas sebagaimana biasanya.

Koesyanto sebagai salah satu narasumber yang hadir saat itu menyampaikan profil singkat sosok Tonny Koeswoyo. Secara lancar dan lihai sebagai seorang fanatik, sosok Tonny dijelaskannya mulai lahir hingga meninggal dunia. Penekanannya yaitu pada karya yang dihasilkan oleh Tonny yang begitu memukau dan melampaui masanya.  Dody pun segera membuka line telepon dan SMS yang pada siaran kali ini fokus pada lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Tonny Koeswoyo. Pembatasan ini diperlukan supaya lebih terarah. Sedangkan kalau hanya pada karya yang dibuat oleh Tonny Keswoyo akan begitu banyak karena sebagian besar dinyanyikan oleh Yon Koeswoyo.

Dody sempat bertanya lagu apa yang populer dnyanyikan oleh Tonny Koeswoyo. Salah seorang narasumber menyebutkan bahwa kalau yang masih familier yaitu Jangan Berulang Lagi. Mengingat lagu ini pernah direkam ulang oleh Fadly, vokalis Padi dalam album yang digarap oleh Erwin Gutawa. Memang bagi telinga pendengar musik Indonesia saat ini, tidak mudah untuk mengenali lagu yang dinyanyikan oleh Tonny yang masih akrab di telinga masyarakat umum. Kalau hanya sekedar karya Tonny mungkin masih banyak yang mengenali.

Benar saja, sebagian besar pendengar pun sepakat dengan lagu Jangan Berulang Lagi sebaga karya Tonny yang masih populer saat ini. Terbukti, begitu banyak yang request untuk memesan lagu yang ada di album volume empat ini. Namun untuk mempermudah pencarian, salah seorang narasumber sampai harus menuliskan judul yang benar menggunakan ejaan lama yaitu “Djangan Berulang lagi” dan ditunjukkan pada Dody. Hal ini dikarenakan beberapa kali Dody mencari menggunakan mesin pencarian dengan kata kunci “Jangan..” lagu tersebut tidak ditemukan.

Animo pendengar terhadap siaran edisi khusus Tonny Koeswoyo kali ini sangat besar mengingat banyak pendengar yang memesan lagu yang memang dinyanyikan oleh Tonny Koeswoyo. Katresnan, Aku Dan Dirimu, Tiada Kata Terlambat dan Si Pantang Si Puntung menjadi pilihan untuk diputar saat itu. Bahkan salah seorang staf harian Jawa Pos pun sempat menyampaikan bahwa personel Koes Plus yang paling ganteng yaitu Tonny Koeswoyo. Lagu yang menjadi pilihannya yaitu Dini termasuk yang sempat diputar malam itu.

Di antara pendengar yang menelepon terdapat salah seorang musisi Surabaya bernama Andi yang mengaku memiliki kafe dan sering menghadirkan lagu-lagu Koes Plus bersama saudara-saudaranya. Andi yang merupakan peniup saxophone itu mengakui bahwa Koes Plus memang layak disebut sebagai band legendaris karena berbagai karyanya mampu menghibur berbaga lapisan masyarakat dan dikenang hingga saat ini. Saat itu Dody sempat menawarkan diri pada Andi untuk sesekali mampir ke Radio Sonora untuk unjuk kebolehan bermain alat musik tiup memainkan lagu-lagu Koes Plus.

Sam Sugeng sebagai salah satu narasumber yang hadir menyatakan bahwa Tonny Koeswoyo merupakan personel yang bersuara khas. Dia bisa membawakan lagu bernuansa rock dengan vocal yang terdengar gahar. Namun pada sisi lain Tonny Koeswoyo juga mampu membawakan lagu yang lembut namun terasa berbeda dalam pembawaannya. Vokal Tonny yang terdengar beda satu lagu dengan lainnya itu menjadi ciri khas tersendiri yang kadang tidak mudah dikenali. Sebagaimana pada lagu Waktu Tjepat Berlalu dan Kusayang Padanya yang sempat diputar pada awal siaran, keduanya terdengar  lain seakan dinyanyikan oleh orang yang berbeda pula.

Walaupun siaran kali itu fokus pada lagu yang dinyanikan oleh Tonny Koeswoyo namun ada saja pendengar yang memaksakan diri meminta lagu Koes Plus yang vokalnya dinyanyikan oleh personel lain. Permintaan lagu macam Tul Jaenak, Telaga Sunyi, Why Do You Love Me atau Kisah Sedih Di Hari Minggu harus diabaikan dulu. Sementara ada banyak permintaan yang walaupun dinyanyikan Tonny Koeswoyo juga terpaksa tidak bisa dipenuhi mengingat terbatasnya waktu. Lagu macam Poor Clown, Lingsir Ngulon, E-E-E atau Pager Kuning terpaksa tidak bisa mengudara.

Sebagian besar pendengar bisa diidentifikasi sebagai penggemar Koes Plus yang fanatik terbukti dari pilihan lagu yang diminta pun tidak umum. Seperti lagu Aku Dan Dirimu yang jarang dijamah oleh pendengar umum, malam itu hadir dan membawa suasana haru di tengah waktu yang sudah mulai beranjak malam. Sebaga pilihan penutup diputarlah Si Pantang Si Puntung dan Sederhana Bersamamu yang merupakan pilihan seorang ibu yag tinggal di kawasan Darmo.

Narasumber juga menyampaikan bahwa ada beragam acara mengenang Tonny Koeswoyo, diantaranya diadakan di Solo pada 24 dan 31 Januari 2016. Termasuk juga di Madiun pada 6 Februari 2016 dengan mengahdirkan Koes Plus formasi terbaru. Saat itu sang narasumber juga mengucapkan selamat hari jad ketujuh untuk Klub Penggemar Koes Plus Arema (KPKA) yang jatuh tepat pada 18 Januari itu. Pada akhir acara ketiga narasumber menutup dengan pesan singkat “Jayalah selalu musik Indonesia..!!!”.

( Okky T. Rahardjo, 085645705091, 5B32CC16 )

Minggu, 17 Januari 2016

Surabaya Koes Plus Night Edisi Pop Melayu



Surabaya Koes Plus Night edisi 11 Januari 2016 merupakan siaran kedua pada tahun 2016. Pada edisi kali ini acara penyiaran lagu Koes Plus yang berlangsung setiap Senin malam itu menampilkan topik pembahasan khusus yaitu Album Koes Plus Pop Melayu. Sebagai pembuka perjumpaan diputarlah lagu Rajawali yang ada dalam album Pop Melayu Volume 1 yang beredar pada tahun 1974.

Ada yang istimewa pada siaran malam itu yaitu adanya pemandu baru acara SKPN. Kalau biasanya acara dipandu oleh Dody, sejak malam itu acara beralih pada Chandra yang biasa memandu acara Sweet Memories yang siar sejam sebelum acara SKPN. Namun karena masih masa transisi maka acara malam itu dipandu oleh dua penyiar sekaligus yaitu Dody dan Chandra. Dody sendiri saat itu menyampaikan bahwa dia akan memandu sebuah acara baru berupa talk show mengenai rumah yang diberi judul “Home Sweet Home” sejak bulan Februari 2016 mendatang.

Setelah menyapa ketiga narasumber tetap yaitu Okky Rahardjo , Koesyanto serta Sam Sugeng, Chandra membuka kesempatan bagi pendengar yang ingin berpartisipasi dalam acara tersebut baik melalui telepon, SMS maupun WA. Chandra yang selama ini juga sering tampil di televisi swasta memandu acara dangdut, berkata kalau baru mengetahui bahwa Koes Plus mempunyai album bernama Pop Melayu.

Saat itu dia menanyakan lagu apa yang populer dari album Koes Plus Pop Melayu ini. Salah seorang narasumber mengatakan bahwa Koes Plus memang merekam album dengan berbagai genre. Seperti halnya album Jawa atau album religi yang pernah diungkap di acara ini maka Koes Plus juga punya album Pop Melayu yang sekarang ini dikenal dengan irama dangdut. Sekalipun sama-sama beraliran melayu, namun Koes Plus tidak hendak bersaing dengan Oma Irama bersama Soneta Group. Mengingat Oma Irama cenderung ke arah rock dangdut, sementara Koes Plus lebih ke arah sweet pop. Demikian juga Koes Plus pun tidak hendak merusak tatanan lagu Melayu Deli yang sudah kental ciri khas musiknya, namun Koes Plus ada di jalur pop.

Sebagai lagu yang fenomenal, Koes Plus memiliki lagu berjudul Cubit-Cubitan. Saat itu Chandra baru mengenali lagu tersebut yang ternyata diketahui milik Koes Plus. Hal ini baru disadari mengingat selama ini lagu tersebut dikenal sebagai lagu milik Elvy Sukaesih. Begitu populernnya lagu Cubit-Cubitan maka sampai dibuatkan sebuah film berjudul Cubit-Cubitan dengan bintang Elvy Sukaesih dan Ahmad Albar. Dalam film itu pula Albar mempopulerkan lagu Zakiah yang membuat namanya diperhitungkan pula di jalur dangdut. Lagu Koes Plus lain yang juga tak kalah populer yaitu Mengapa yang hingga saat ini masih akrab di telinga penikmat musk dangdut Indonesia.

Pada edisi yang mengupas album Pop Melayu ini pendengar sengaja dikonsentrasikan untuk hanya meminta lagu dari album-album Pop Melayu. Ada beberapa pendengar yang mencoba memesan lagu dengan kategori pop reguler seperti Telaga Sunyi atau Why Do You Love Me, terpaksa saat itu tidak bisa dipenuhi. Namun tak sedikit pula yang paham dengan lagu-lagu dari album Pop Melayu Koes Plus sehingga request yang diminta pun bisa dipenuhi seperti Cinta Mulia, Mengapa, Ganja Kelabu dan Cubit-Cubitan.

Walaupun memang yang menjadi pembahasan khusus yaitu album Pop Melayu namun tetap dalam lingkup era Tonny Koeswoyo yaitu terbatas hingga tahun 1987. Hal ini disebabkan pada formasi inilah Koes Plus terbilang solid. Oleh karena itu permintaan lagu setelah periode tersebut susah sekali untuk dituruti. Namun kadang-kadang pendengar tetap tidak mempedulikan, karena yang ingin didengar mereka hanya lagu Koes Plus. Tak jarang permintaan lagu yang beredar merupakan lagu yang dirilis era tahun 90an macam Sedihnya Malam Minggu, Mbak Ayu Jual Jamu dan Sedih. Kalau sudah begitu, narasumber mencoba mengarahkan dengan memilih pada beberapa lagu Pop Melayu yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Chandra berikutnya mengajukan pertanyaan ada berapa album Pop Melayu yang direkam oleh Koes Plus. Koesyanto menjawab ada sembilan album yang merupakan genre Pop Melayu. Album-album tersebut yaitu Mengapa, Tua Muda, Masa Lalu, Ku Tak Sangka, Cubit-Cubitan, Angin Bertiup, Oke Boss, Ganja Kelabu dan Gubuk Derita. Pada saat dia menyebut Gubuk Derita dia segera diralat oleh narasumber lain bahwa yang benar yaitu Lembah Derita. Segera dia meralat pernyataannya, mengingat Gubuk Derita merupakan lagu milik Hamdan ATT. Saat itu seisi ruangan studio tertawa mendengar salah ucap dari informasi yang disampaikan oleh Koesyanto. Saking mania nya, sampai seorang penggemar berat Koes Plus pun keliru mengucapkan judul lagu.

Dody sempat penasaran dengan sebuah lagu berjudul Ganja Kelabu yang dijawab oleh salah seorang narasumber bahwa saat itu Koes Plus terlibat mendukung aksi pemerintah dalam penanggulangan narkotika. Gerakan yang saat ini sering disebut dengan nama anti narkoba itu disikapi oleh Koes Plus dengan sebuah lagu Ganja Kelabu yang menyatakan tubuh ini harus dijaga kesehatannya bukan malah dirusak untuk hal yang sia-sia.

Chandra kembali bertanya pada salah satu narasumber mengenai reaksi masyarakat waktu itu terhadap munculnya album Pop Melayu. Sam Sugeng yang memegang mik di ujung meja menjawab bahwa antusias masyarakat sangat besar sekali terhadap munculnya album Pop Melayu Koes Plus. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya pembeli kaset album Koes Plus yang saat itu salah satunya terdapat di Pasar Blauran. Sam Sugeng melihat begitu album Pop Melayu Koes Plus mulai beredar, maka segera saja album tersebut mulai diburu salah satunya yang ada di toko kaset yang terletak di dalam pasar legendaris di kota Surabaya itu.

Menjelang pkl. 22.00, setelah kewalahan menerima telepon dan membaca SMS yang masuk maka acara pun harus ditutup. Lagu yang dipilih sebagai penutup saat itu yaitu Tua Muda berdasarkan request salah seorang pendengar. Sebenarnya lagu Godaan juga sudah disiapkan untuk mengakhiri acara namun waktu sudah keburu mepet untuk berganti porsi dengan acara The Legend yang direlay dari Radio Sonora Jakarta.

Demikian reportase acara Surabaya Koes Plus Night yang disiarkan setiap hari Senin pkl. 21.00-22.00 melalui FM 98.00 dan bisa streaming melalui www.sonorasurabaya.co.id. Sampai jumpa pada reportase acara berikutnya. Jayalah selalu musik Indonesia....!!!

( Okky T. Rahardjo, 085645705091, 5B32CC16 )


Sabtu, 09 Januari 2016

Surabaya Koes Plus Night Edisi Awal Tahun

         



        Senin, 04 Januari 2016 kembali siaran Surabaya Koes Plus Night mengudara menghiasi ruang dengar penggemar Koes Plus. Pada edisi awal tahun ini siaran dibuka dengan lagu “1 Januari” yang dibawakan oleh Yon Koeswoyo dari album Reuni yang rilis tahun 1990. Setelah libur siaran selama satu edisi, kali ini Surabaya Koes Plus Night kembali hadir di awal tahun dengan suasana yang segar usai menikmati liburan.

            Pada tanggal 28 Desember 2015 lalu acara SKPN memang mengudara namun saat itu tidak didampingi oleh narasumber tetap. Ketiga narasumber diberi kesempatan libur, mengingat Dodik selaku penyiar tetap juga sedang berlibur di Tuban, kota kelahirannya. Sementara acara SKPN sendiri tetap mengudara dengan diisi oleh lagu-lagu Koes Plus yang diputar secara playlist. Sementara penyiar yang memandu adalah penyiar yang saat itu sedang bertugas piket.

            Usai tembang 1 Januari meluncur, maka lagu Doa Suciku menjadi pilihan kedua untuk diputar. Doa Suciku dipilih mengingat ada kalimat pertama yang berbunyi “Setahun telah berlalu...” sebagai penanda berakhirnya sebuah tahun dengan kisah cinta yang berakhir syahdu. Usai dua lagu diputar sebagai awal acara, Dodik mulai menyapa pendengar beserta ketiga narasumber yang hadir. Dodik saat itu menanyakan bagaimana kabar masing-masing personel Koes Plus saat ini.

            Narasumber tetap yang terdiri Okky Rahardjo, Koesyanto dan Sam Sugeng pun bergantian menjelaskan keberadaan masing-masing personel Koes Plus. Yon Koeswoyo masih eksis dengan dibantu ketiga player berusia muda yaitu Acil, Soni dan Seno. Sementara Yok Koeswoyo beberapa kali terlibat dalam pementasan keliling bersama Kiai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Najib. Di sisi lain Nomo Koeswoyo pada hari itu juga bertepatan tampil di Polda Jatim Surabaya.

            Dodik pun sempat menanyakan apakah personel Koes Plus senior pernah tampil bersama dalam satu panggung. Sam Sugeng menjawab bahwa peristiwa itu pernah terjadi pada 2013 dengan format reuni akustikan yang menghadirkan Yon, Yok dan Murry tampil bersama setelah sekian tahun tampil sendiri-sendiri. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan membuka request untuk penggemar secara bebas. Salah seorang pendengar yaitu Herman memesan lagu Minum Kopi Bersama untuk didengarkan bersama keluarga. Segera saja lagu yang dirilis tahun 1978 itu meluncur bersama Bilakah Kau Pulang yang dipinta oleh Hariono dari Wringin Anom, Gresik.

            Malam itu siaran radio hanya membuka forum telepon mengingat ada gangguan pada jaringan SMS sejak acara yang mengudara sebelumnya. Salah seorang pendengar bernama Jufri sempat mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama yaitu apakah lagu Kembali Koes Bersaudara merupakan kisah tentang bergabungnya Nomo Koeswoyo dalam grup tersebut ? Koesyanto selaku narasumber menjawab bahwa lagu tersebut memang menandakan kembalinya Nomo bergabung bersama Koes Bersaudara. Sementara untuk pertanyaan kedua yaitu apakah Murry pernah bekerja di pabrik gula di Jember. Narasumber SKPN pun mencoba menjawab bahwa memang demikian halnya Murry pernah berada di pabrik gula Selosenan Jember namun dalam kapasitas bermain musikbukan buruh pabrik.

            Selanjutnya acara berlanjut dengan pemutaran lagu demi lagudan beebrapa pertanyaan serta pembahasan menarik mengenai Koes Plus. Seorang penggemar Koes Plus dari Mojokerto yang menyebut diri sebagai Abah Darman saat itu baru bergabung. Beliau memesan lagu E-la E-lo yang dirilis dalam album Pop Jawa Koes Plus Volume 1. Kami sempat kesulitan mencari lagu tersebut dalam mesin komputer yang ada di radio Sonora. Mengingat lagu tersebut ternyata menggunakan tanda pemisah untuk penulisan judul.

            Seorang pendengar yaitu Naning yang berasal dari Wiyung Surabaya sempat mengkonfirmasi bahwa pada tanggal 21 Januari ada salah satu personel Koes Plus yang berulang tahun. Kami lalu menjawab bahwa pada tanggal tersebut merupakan hari jadi Nomo Koeswoyo. Sementara berdekatan dengan hari itu yaitu 19 Januari merupakan hari lahir Tonny Koeswoyo. Naning ini ternyata merupakan seorang ibu yang merupakan penggemar acara Sonora The Legend yang biasanya diasuh oleh Agusta Marshall.

            Lagu-lagu yang beredar malam itu antara lain Minum Kopi Bersama, Bilakah Kau Pulang, Why Do You Love Me, Bis Sekolah, Hatiku Beku dan Jangan Putus Asa sebagai penutup siaran. Selanjutnya penggemar Koes Plus di Surabaya dan sekitarnya melanjutkan bernostalgia dengan lagu-lagu Koes Plus melalui siaran The Legend yang disiarkan oleh Radio Sonora Jakarta secara relay.

            Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai program siaran Surabaya Koes Plus Night edisi awal tahun. Sebagai penutup siaran, narasumber pun tak lupa memekikkan salam penutup “Jayalah selalu musik Indonesia...!!!”. Sampai jumpa pada liputan siaran berikutnya.

( Okky T. Rahardjo, 085645705091, 5B32CC16 )