Rabu, 16 Maret 2011

John Koeswoyo, Semangat Yang Tak Pernah Padam


Minggu pagi, 13 Maret 2011 menjelang pkl. 08.00 saya mendapatkan telepon yang mengejutkan. Saat saya lihat di layer HP ternyata yang menelepon adalah bpk. John Koeswoyo. Saat itu beliau menanyakan kabar setelah lama tidak bertemu. Bahkan yang sedikit surprise bagi saya adalah beliau mengatakan “ Saya ingin menyanyikan Tuhan Adalah Gembalaku bersama mas Okky…”. Segera saya responi, “ Monggo, pak…” Selanjutnya baris demi baris lagu tersebut kami dendangkan bersama. Namun tak lama saya mengatakan kalau nanti siang saya menemui beliau saja di rumah.


Sepulang dari gereja, segera saya menghubungi teman-teman anggota JN Surabaya untuk berjanji menemui bpk. John Koeswoyo yang ternyata sudah seminggu ini berada di Surabaya. Siang itu pkl. 13.30 WIB, kami berempat. Yaitu Sam Sugeng, Koesyanto, Juliadi dan saya bersama-sama menemui John Koeswoyo, sulung dari Koeswoyo bersaudara di kediaman putrid beliau di daerah Jemur Sari.


Suasana pertemuan diawali dengan perbincangan yang hangat seputar kehidupan Koeswoyo bersaudara. Sebagaimana layaknya bila kita berjumpa dengan personel Koes Bersaudara atau Koes Plus, kisah pribadi seputar keluarga mereka merupakan topic menarik untuk didengarkan. John Koeswoyo yang adalah kakak dari Tonny Koeswoyo saat itu juga menyampaikan banyak wejangan yang bersifat membangun. Sebagaimana layaknya orang tua kepada anak atau cucunya. Wejangan itu seputar falsafah kehidupan dari seseorang yang sudah mengalami banyak asam garam kehidupan.


Saat perbincangan sudah makin akrab dan hangat, John Koeswoyo mengutarakan keinginan hati beliau yang saat ini mengendap. Dalam usia yang sudah semakin senja ini, John Koeswoyo ingin dimunculkan kembali ke hadapan umum. Bahkan maksud kemunculan beliau ini bukan untuk mencari popularitas. Beliau ingin kemunculan beliau ini adalah sekaligus pamitan dari masyarakat umum, terutama penggemar Koes Bersaudara dan Koes Plus.


John Koeswoyo merasa usia sudah sepuh, tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil pulang. Karena itu melalui kemunculan ini, beliau ingin mengingatkan lagi pada penggemar musik sekalian bahwa John Koeswoyo merupakan pendiri Koes Bersaudara. Selain itu, dalam usia yang menurut beliau sudah mendekati puncak ini, beliau ingin menyampaikan banyak petuah, wejangan dan nasehat khususnya untuk generasi muda dalam menjalani kehidupan di dunia ini.


Tidak ada ambisi untuk menjadi terkenal. Populer. Tidak pula terbersit untuk mencari keuntungan materi yang besar. John Koeswoyo ingin mengajarkan tanpa terkesan menggurui bagaimana menjadi seorang yang hidup dengan santun di tengah dunia yang semakin hedonis dan individualis ini. Hal itulah yang kami tangkap dari sosok seorang John Koeswoyo yang saat ini berusia 78 tahun.


Beberapa kali John Koeswoyo menyampaikan maksud hatinya tersebut kepada kami. Sebuah harapan yang kami tangkap adalah beliau ingin kami mau membantu mewujudkannya. Tanpa banyak ucap dan kata, kami segera meresponi kerinduan hati beliau. John Koeswoyo sangat senang dan gembira sekali mengetahui kami begitu antusias menyambut kerinduan hati beliau. Saya menyampaikan janji dalam waktu dekat akan segera sowan lagi dengan konsep yang lebih matang. Sebelum berpamitan pulang, kami sempat berfoto untuk kenang-kenangan. Perjalanan pulang, kepala kami dipenuhi dengan banyak gagasan dan rencana untuk mewujudkan keinginan hati John Koeswoyo, seorang yang pernah menjadi tokoh utama di balik munculnya grup musik legendaries Indonesia.

Dalam perjalanan pulang, kami berempat sempat berhenti di sebuah pos satpam untuk berunding sejenak. Kami mulai menyusun rencana awal untuk membuat sebuah live show dengan penampilan band pelestari yang menyanyikan lagu-lagu karya John Koeswoyo. Setiap jeda lagu, akan diisi dengan diskusi antara penonton dengan John Koeswoyo sebagai narasumber utama.

Singkat cerita, pertemuan hari minggu kami lanjutkan dengan pertemuan selanjutnya pada hari selasa, 15 Mei 2011. sore hari selepas dinas, saya bersama Sam Sugeng dan Herry Purwanto menemui John Koeswoyo yang sedang santai selepas istirahat siang. Pertemuan berlangsung cair dan penuh keakraban karena diawali dengan bernyanyi bersama. Lebih terasa akrab, karena John Koeswoyo memainkan ukulele yang juga diikuti oleh Herry Purwanto, anggota JN Surabaya memainkan sebuah gitar akusitk yang dipinjami oleh pak John. Kebanyakan yang kami mainkan saat itu adalah lagu-lagu kuno terutama lagu Belanda yang masih diingat oleh John saat masih muda. Lagu yang akrab di telinga kami yaitu Nasi Goreng dalam bahasa Belanda juga dapat dimainkan tanpa hafal dengan jelas liriknya.

Sore itu, saya menyampaikan kepada beliau konsep acara yang sudah kami rancang. Terutama mengenai band pelestari yang akan siap mendukung menyanyikan lagu-lagu karya John Koeswoyo. Pihak yang akan merekam acara pun juga siap. Termasuk juga rencana lokasi acara live show. Walaupun sederhana tapi kami mencoba segera meresponi apa yang menjadi pemikiran John Koeswoyo.

Saat itu jujur kami katakan, dana belum tersedia. Kebutuhan yang harus kami sediakan banyak. Sementara di depan kami terbentang suatu ‘proyek yang mulia’. Kami sebut demikian karena hal ini bisa jadi merupakan dokumentasi dari salah seorang pelaku musik munculnya Koes Berrsaudara, band legendaris yang besar dari sebuah keluarga yang sederhana. Karena hal itu maka yang bias kami lakukan adalah terus saja berjalan. Apalagi mumpung beliau masih berada di Surabaya dalam beberapa waktu ini.

Tidak ada maksud mulia tanpa kendala. Tapi seberapa pun kendala itu, maksud yang diawali dengan hati tulus akan berjalan dengan baik dan tidak ada kendala satu pun yang berhak membatalkan segalanya. Tanpa bermaksud membuat saingan atau tandingan dengan rekan-rekan dari kota lain, ijinkan kami menyelenggarakan suatu live show yang menampilkan seorang John Koeswoyo dalam karya lagu dan tutur kata yang membangun jiwa manusia menjadi lebih beradab.

Doa tulus serta dukungan dalam berbagai bentuk dari rekan-rekan semua tentu akan sangat kami hargai demi terselenggaranya even ini. Sebuah even yang kami persembahkan sebagai apresiasi kami terhadap keluarga Koeswoyo dan penggemar musik Koes Bersaudara & Koes Plus.

Selanjutnya, nantikan langkah kami berikutnya yang masih menyusun strategi dalam even yang kami rencanakan terselenggara bulan depan. Mendesak dan sangat mendadak. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bila dikerjakan dengan motivasi hati yang benar.

Salam hormat dari kami, Jiwa Nusantara Surabaya ( Okky T. Rahardjo a/n penyelenggara live show “ Lagu lan Pitutur John Koeswoyo” ) c.p 085645705091.


Keterangan gambar : 1. John Koeswoyo pose bersama Okky.
2. John Koeswoyo pose bersama Sam Sugeng dan putrinya.
3. John Koeswoyo pose dengan kacamata hitam
4. John Koeswoyo bermain gitar bersama Herry Purwanto
5. John Koeswoyo menuliskan gagasannya pada selembar kertas






































2 komentar:

  1. Kami sangat terharu akan gagasan yang dilontarkan Pak Jhon dan diamini oleh JN Surabaya,semoga Allah memudahkan jalan dan nita yang tulus ini,do`a kami bersamamu,Merdekaa

    BalasHapus