Sabtu, 02 Agustus 2014

Edisi Seniman Surabaya : Cak Markeso, Fenomena Ludruk Garingan

 


              “le tole kowe takon, takon opo tak sauri
              Opo kowe durung kenal, Ki Markeso soko Wetan..”

Siang itu sebuah tape kecil saya tekan tombol play yang posisinya sebelah tombol merah bertuliskan record. Sebuah nyanyian terdengar merdu diperdengarkan oleh duet Sofyan dan Said dari Usman Bersaudara. Baris demi baris lagu itu terdengar menarik dan membawa seuntai kenangan masa silam yang tak terlupakan. Kala saya melihat judul lagu itu pada cover kaset tertulis Cak  Markeso.

Markeso adalah sebuah fenomena seorang seniman ludruk yang legendaris di kota Surabaya. Mungkin saat ini tidak banyak anak-anak muda yang mengenal nama ini. Sebagian besar bila ditanyakan mengenai seniman ludruk Surabaya tentu akan mengaitkan dengan nama Kartolo. Namun bertahun-tahun sebelum Kartolo melejitkan dirinya sebagai seniman ludruk, Markeso sudah lebih dulu menancapkan tajinya sebagai pendekar ludruk yang mumpuni di Kota Pahlawan ini.

Markeso sendiri bukanlah seorang seniman ludruk yang memiliki grup ludruk sebagaimana pelaku kesenian ini lainnya. Bila nama-nama seperti Kartolo, Sapari, Basman dan Tini berada dalam satu grup ludruk. Demikian juga dengan nama Kancil, Markuat, Sidik, dan Agus Kuprit pun berada dalam kubu ludruk yang lain. Tidak demikian dengan Markeso yang memilih berada dalam jalur solo karier. Artinya dia menekuni dunia ludruk secara sendirian. Tanpa ada teman dalam sebuah grup atau pengiring yang demikian banyak. Belakangan apa yang digelutinya ini disebut dengan nama ludruk garingan. 

Memang tidak secara langsung Markeso menekuni jalur solo dalam dunia ludruk ini. Sebelumnya dia sempat tergabung dalam beberapa grup yang berganti-ganti, sebagaimana para pelaku ludruk lainnya. Namun dia jengah ketika melihat para pelaku ludruk sering kali terlibat konflik karena merasa tidak adil dalam pembagian honor. Darah seninya yang mengalir deras seakan tak terima bila harus ribut hanya karena masalah keuangan dengan orang lain. Oleh karena itu pula pada tahun 1949, Markeso memutuskan untuk mengundurkan diri dari grupnya “Ludruk Cinta Massa” yang saat itu sudah populer. Nama Markeso yang sedang naik daun pun menjadi jaminan mutu untuk dia melakoni profesi ludruk secara seorang diri. Ludruk garingan ini sempat dikenal masyarakat luas pada era tahun 1960an. Saat itu banyak orang dari berbagai kalangan yang nanggap  Markeso untuk bermain ludruk di berbagai tempat hajatan. Bahkan tukang becak pun saat itu yang penghasilannya memang banyak, sering memakai jasanya untuk menghibur. Perkawinan, sunatan maupun pesta-pesta keluarga sering memanggil Markesi sebagai pengisi acara. Bahkan ketika orang-orang berkumpul untuk minum tuak pun juga kerap nanggap ludruk garingan termasuk Markeso. Saat itu hampir setiap malam jadwalnya penuh. Masa kejayaan ini dirasakan hingga dasawarsa 70an.

Ludruk garingan sendiri merupakan istilah untuk seorang pelaku ludruk yang bermain sendirian. Sebagian orang menyebutnya sebagai ludruk tunggal karena hanya menampilkan seseorang yang menembangkan jula juli dan melontarkan lawakan secara sendirian. Bagaimana dengan musiknya, gamelan yang terdiri dari berbagai perangkat itu pun disuarakannya secara monolog melalui satu mulut yang sama. Urusan pembagian honor pun relatif lebih damai karena tidak perlu ribut membagi dengan orang lain. Lebih hemat dan ringkas bagi siapa pun yang mengundangnya. Mungkin kalau untuk ukuran saat ini bisa disamakan dengan orang yang memainkan musik organ tunggal yang bisa meramu semua musik dari pada mendatangkan sebuah grup band. 

Memasuki dekade 80an, sudah sedikit pelaku ludruk garingan ini. Markeso yang semula mengawali bentuk baru berkesenian ini, berikutnya harus menjadi satu-satunya orang yang bertahan menekuninya di tengah kota Surabaya yang saat itu sudah bersolek menjadi kota metropolitan. Di usianya yang makin renta dia harus menelusuri kampung ke kampung, masuk gang satu ke gang lainnya. Tujuannya satu, mencari orang yang memanggilnya untuk ditanggap menghibur dengan ludruk garingannya. Namun saat itu semua tak mudah dilakoninya seperti puluhan tahun sebelumnya. Tukang becak pun sudah tidak menggunakan jasanya lagi karena lebih banyak kalangan mereka yang lebih suka menekuni judi domino untuk menghabiskan uang. Para pengusaha yang mulai mapan pun sudah mulai memakai peralatan modern untuk menghibur diri.

Penampilan Markeso dalam mencari order ludrukan mudah sekali dikenali. Menggunakan kopiah hitam dan jas tanpa lengan menyelubungi batik yang selalu disandangnya. Pada bagian pinggang Markeso melilitkan sebuah sarung di luar celana panjang warna terang yang dikenakannya. Sepatu hitam jenis big boss selalu ada di kakinya mengiringi perjalanan dinasnya setiap siang dan sore hari itu. Tak lupa sebuah kaca mata rayband pemberian temannya selalu dipakainya untuk menutupi matanya yang juling sebelah itu. pada tahun 90an, penampilan Markeso ini dilengkapi dengan sebuah tongkat untuk memudahkannya melangkahkan kaki.

Markeso pun pernah pula menjajal dunia rekaman dengan menjadi bintang tamu pada salah satu album lawakan Kartolo Cs. Saat itu mereka merekam sebuah lawakan berjudul “Kebo Nusu Gudel”. Yang secara harafiah berarti orang tua berguru pada yang lebih muda. Saat itu Kartolo sedang mencapai masa kejayaan dan Markeso pun harus rela mengikuti tawaran beradu lawak dengan tokoh ludruk yang lebih muda darinya itu.

Materi ludrukannya pun tidak lepas dari situasi konflik yang terjadi di kalangan masyarakat. Seputar masalah keluarga, tukang becak yang kalah berjudi tapi takut pulang ke rumah, kisah orang kaya baru, kehidupan bertetangga dan berbagai kisah kehidupan keseharian lainnya. Tidak sekali pun dia mau mengangkat masalah politik maupun hal-hal yang menyangkut pribadi orang lain seperti agama dan kesukuan. Hal inilah yang juga diteladani oleh Kartolo, seniman ludruk generasi berikutnya yang eksis hingga hari ini.

Salah satu parikan Markeso yang terkenal berbunyi sebagai berikut Sandale nilek, klambine ijo Areke esek, pancen gak duwe bojo. Bahkan Markeso pula yang melontarkan ucapan khas berbunyi “Kulo niki sinten” yang belakangan digunakan oleh Usman dalam rekaman lagunya baik dalam grup Usman Bersaudara maupun bersama No Koes. Keberadaan Markeso boleh disejajarkan dengan nama Cak Durasim, seorang seiman ludruk legendaris yang dihukum mati karena kritis terhadap masa pemerintahan penjajah Jepang. Kalangan seniman Surabaya pun sempat memberikan tambahan Cak untuk melengkapi panggilan pada nama Markeso sehingga populer menjadi Cak Markeso sebagaimana pelaku ludruk lain yaitu Cak Sidik, Cak Kancil atau Cak Kartolo.

Pada sekitar tahun 1992, keluarga kami yang saat itu tinggal di jl. Krukah Timur pun suatu kali pernah nanggap Markeso yang kebetulan sedang melintas di depan rumah yang terletak di seberang Kalisumo itu. saat itu ketika kakek kami sedang bersantai di teras rumah, melihat sosok pria tua ini melangkah dengan dipandu tongkat kayu kesayangannya. Segera saja setelah mengenali pria yang berjalan ini dipanggilnya dengan berteriak “Markeso..Markeso..” persisi seperti orang yang memanggil penjual makanan lewat. Markeso pun datang ke rumah kami dan melakukan tugasnya menghibur melalui ludruk garingannya.

 Rumah kami pun kontan saja dipenuhi oleh tetangga-tetangga sekitar untuk melihat penampilan Markeso, lumayan gratis. Beberapa anak kecil pun duduk mengelilingi tempat Markeso melantunkan jula-juli dan dagelannya. Saat itu saya melihat kepiawaian Markeso menjalankan tugasnya sebaga seorang penghibur. Walaupun sendirian dan tidak berada di atas panggung yang besar, imajinasi kami seakan dibawa pada suasana panggung yang megah. Tiba-tiba saja dia berkata pada beberapa anak yang berada di depannya “Minggir..minggir, ojo ngidek kabel mengko kesetrum..”. Jelas saja itu hanya sebuah leluconnya, karena saat itu tidak ada satu kabel pun yang malang melintang di rumah kami mengiringi pementasannya.

Pembawaan Markeso yang khas berupa suara berat seperti bergetar memukau setiap orang yang menyaksikan penampilannya. Setiap kali dia mengawali kidungannya selalu membuka dengan sebuah ucapan salam yang dilanjutkan dengan kata “Muuuu....laaaiiiii” yang diucapkan dengan jenaka, membuat tertawa orang ayng mendengarnya. Berikutnya tersajilah kidungan demi kidungan dari mulut rentanya itu. acapkali di sela kidungannya, dia berhenti untuk menyela dan melontarkan guyonan khas seorang pemain ludruk. “sik..sik sarungku mlorot...” atau “anake sopo iku kok eleke..” demikian celetukan khasnya di sela kidungan yang dilagukannya.

Setelah peristiwa nanggap Markeso itu berlalu, jarang sekali saya mendengar berita tentang beliau. Sampai suatu kali saya melihat sebuah tayangan TVRI Surabaya yatu Rona-Rona yang diasuh oleh Didit Hape mengulas tentang tokoh Markeso. Saat itu digambarkan seniman ludruk ini berada di rumahnya dalam suasana yang begitu prihatin.Dia menghuni sebuah rumah kontrakan yang sudah lama dtinggalinya di jl. Putat Jaya, hanya menikmati fasilitas seadanya berdua bersama isteri tercintanya. Dia harus berjuang melawan penyakit tua yang dideranya yang menghambat lajunya untuk mencari rejeki dengan menjajakan kidungan. Dia pun harus meninggal dalam kondisi yang jauh dari hingar bingar pemberitaan di rumah yang terletak di komplek gang dolly itu.

Usman Bersaudara pun mengenang keberadaan Markeso ini melalui sebuah lagu karyanya yang direkam dalam album Pop Jawa volume 1 yang beredar pada tahun 1978. Saat itu di tengah lagu dimunculkan suara khas Markeso yang diucapkan oleh salah seorang personel band asal Surabaya ini. Tatkala lagu ini diperdengarkan melalui tape lusuh yang saya putar, ingatan saya menerawang kembali pada sosok Markeso yang pernah hadir memeriahkan jagad hiburan warga kampung di Kota Surabaya yang saat itu masih belum banyak dicemari oleh permainan digital seperti saat ini.

Hari ini ketika situasi hiburan di sekitar kita sudah dipenuhi dengan berbagai fasiliats canggih dan serba komputerisasi, adakah kita masih sempat mengingat walau sejenak tentang Markeso, seorang pejuang seni yang gigih membela eksistensi ludruk yang makin tergerus jaman ini. Markeso memang telah meninggalkan kita semua, namun karya dan semangatnya akan tetap  terus kita kenang dan teladani. Matur nuwun Cak Markeso.

Sayup-sayup lagu berjudul Markeso itu terdengar perlahan mengakhiri nyanyiannya sebagai berikut : “Sembah nuwun pak, kulo pun kenal..nami sampean jebule Pak Markeso..”.

( Okky T. Rahardjo, penikmat Kota Surabaya, 085645705091 )

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Saya sedang mencari informasi kapan dan bagaimana cak basman meninggal.mgkn bpk tahu sebgai warga surabaya.saya penggemar berat beliau

    BalasHapus