Selasa, 01 Juli 2014

Saya Bersyukur Pernah Mengalami Kecelakaan



Pada hari senin 2 Juni 2014 lalu saya mengalami kecelakaan. Lokasinya berada di jl. Jemur Andayani, tepatnya di seberang kantor BRI cabang Jemur Sari dan eks supermarket Plasa JS. Sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba tersenggol bagian belakang truk. Saya terjatuh ke sebelah kanan. Ketika menahan keseimbangan tubuh, tangan saya memegang body truk yang membuat tangan saya berdarah tanpa saya sadari. Saat kejadian memang terasa sakit, khususnya punggung tangan yang luka berdarah dan kaki yang terasa bengkak. Namun saat itu tidak terbersit sedikit pun untuk menyalahkan siapa pun termasuk sopir truk yang menjadi “lawan serempetan” saya.

Makin ke sini yang bisa saya rasakan hanyalah ucapan syukur yang saya berikan kepada Tuhan yang masih mengasihi saya. Tidak terduga ada banyak hal yang seperti sebuah pintu terbuka bahkan cenderung bagai keajaiban yang saya alami di balik musibah kecelakaan yang saya alami.

Ijinkan melalui tulisan ini saya membagikan beberapa “keberuntungan di balik kecelakaan” yang Tuhan ijinkan pada saya         :

1.      Saya bersyukur ketika kecelakaan tidak sampai jatuh ke kolong truk. Hanya berjarak sekian centimeter saja dengan bagian roda truk. Bila hal itu terjadi, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa saya. Walaupun pada saat kejadian saya hanya bisa pasrah karena kondisi yang sudah demikian mepet antara sepeda motor saya dengan truk serta situasi pertigaan jalan yang macet. Beberapa orang yng menolong sempat berkata “kalau sampean apes, bisa masuk kolong truk...”. Terima kasih Tuhan saya sudah diluputkan dari kondisi yang membahayakan.

2.      Saya bersyukur melalui kecelakaan ini saya bisa mengalami waktu istirahat selama sekian waktu. Bukan berarti saya tidak mau bekerja. Namun hidup dan bekerja di kota Surabaya dengan sekian banyak urusan yang seakan tak berhenti, kadang membuat tak sempat untuk istirahat. Tuhan ijinkan saya untuk merasakan istirahat beberapa hari. Seorang tetangga saya berkata “tapi ya tidak segitunya kali untuk istirahat...”. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini yang jadi bagian untuk saya alami. Ya dinikmati saja.

3.      Saya bersyukur bisa menrasakan perhatian istri saya secara berlebihan. Bukan berarti istri saya kurang memperhatikan. Namun resiko hubungan jarak jauh membuat kami sering tidak bisa merasakan kedekatan dalam waktu yang lama. Mulai istri saya yang datang menjenguk ke Surabaya serta merawat di kota Madiun, semua saya rasakan sebagai anugerah Tuhan dalam kehidupan rumah tangga kami.

4.      Saya bersyukur melalui kecelakaan yang saya alami bisa membawa kebahagiaan tersendiri bagi anak saya. Beberapa bulan lalu kami diberi oleh salah seorang tetangga sebuah mainan sepeda gajah. Namun kami kesulitan membawanya ke Madiun tempat anak saya tinggal. Tidak mudah untuk membawa dari rumah di Surabaya menuju Madiun, mengingat beratnya sepeda mainan tersebut. Sementara kalau menggunakan jasa paket tentu mahal biayanya. Keesokan hari setelah saya kecelakaan, saya dijemput oleh mobil gereja dari Madiun. Mobil tersebut diminta tolong oleh keluarga di Madiun supaya membawa saya guna dirawat lebih baik di sana. Ketika mobil penjemput datang, masuklah juga mainan sepeda gajah tersebut menuju Madiun. Terima kasih Tuhan, di saat saya sakit sebuah masalah lain terselesaikan.

5.      Saya bersyukur melalui kecelakaan ini saya bisa menservis sepeda motor yang sehari-hari saya pakai. Beberapa hari sebelumnya saat ganti oli saya sudah disarankan oleh tukang bengkel untuk sesempatnya menservis motor karena kampas rem depan sudah habis dan klaker ban belakang sudah goyah. Namun untuk sementara waktu masih bisa dipakai. Usai saya mengalami kecelakaan, saya jadinya harus menservis motor supaya lebih baik. Sekalian memperbaiki dua bagian yang kurang tadi. Sisi lain, kalau saya lebih dulu servis lalu saya kecelakaan, jadinya servis dua kali dong...

6.      Salah satu yang saya syukuri, saya bisa melewati bertambahnya usia anak saya secara lebih dekat. Pada 1 Juni kami merayakan ulang tahun putri kami, Christina Elvira. Lima hari lebih awal dengan asumsi hari itu hari Minggu dan saya sedang berkunjung ke Madiun. Mungkin nanti pas tanggal 6 Juni, di hari ulang tahunnya saya malah tidak ada di sana. Ketika saya kecelakaan dan harus istirahat di Madiun, pada tanggal 6 Juni itu saya bisa mendampingi putri kami di hari bahagianya. Saat usia dua tahunnya, saya bahagia ada di sisinya.  

7.      Ada banyak hal lain lagi yang bisa saya syukuri melalui kecelakaan yang saya alami. Setidaknya saya bersyukur melalui hal ini saya diperingatkan untuk lebih berhati-hati saat berkendara di jalan raya. Saya bersyukur “hanya” bengkak kaki dan luka sedikit di tangan yang berangsur pulih beberapa waktu ini. Saya bersyukur luka di tangan bisa diatasi dengan daun binahong, tanpa harus dijahit d bagian luka yang menganga. Saya bersyukur ketika usai kejadian masih bisa mengendari motor sendiri untuk pulang ke rumah. Saya bersyukur ada adik, ada tetangga dan rekan kerja yang bersedia menolong kebutuhan saya segera usai saya mengalami kecekaan. Ada begitu banyak alasan dan makna yang saya syukuri melalui musibah yang saya alami.

8.      Ada beberapa orang yang bertanya “Bagaimana urusan dengan sopirnya..Apakah dia bertanggung jawab atau malah lari, dsb...”. Mengetahui saya masih diberi kesempatan hidup, saya tidak sempat berpikir yang negatif terhadap sopir truk yang kendaraannya bersinggungan dengan motor saya. Sebagian lagi berkata “Beryukur saja kok nunggu sakit...”. Setidaknya saya masih memiliki kesempatan untuk bersyukur, sementara di sana sini ada begitu banyak orang yang mengalami keadaan sehat tanpa kurang satu apa pun, tapi lupa untuk mengucapkan syukur.

Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk membaca tulisan saya ini.

Mohon maaf kalau ada rangkaian kata dan kalimat yang kurang berkenan. Mudah-mudahan mampu membuat kita tidak lupa untuk bersyukur dalam segala keadaan. Tuhan memberkati. 

( Okky T. Rahardjo, 085645705091 )



nara bersama ayah dan ibu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar